bintang


Minggu, 06 November 2011

Tafsir Surat Al-Muthaffifin


ويل للمطففين(1) الذين إذا اكتالوا على الناس يستوفون(2) وإذا كالوهم أو وزنوهم يخسرون(3) ألا يظن أولئك أنهم مبعوثون(4) ليوم عظيم(5) يوم يقوم الناس لرب العالمين(6) كلا إن كتاب الفجار لفي سجين(7) وما أدراك ما سجين(8) كتاب مرقوم(9) ويل يومئذ للمكذبين(10) الذين يكذبون بيوم الدين(11) وما يكذب به إلا كل معتد أثيم(12) إذا تتلى عليه آياتنا قال أساطير الأولين(13) كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون(14) كلا إنهم عن ربهم يومئذ لمحجوبون(15) ثم إنهم لصالوا الجحيم(16) ثم يقال هذا الذي كنتم به تكذبون(17) كلا إن كتاب الأبرار لفي عليين(18) وما أدراك ما عليون(19) كتاب مرقوم(20) يشهده المقربون(21) إن الأبرار لفي نعيم(22) على الأرائك ينظرون(23) تعرف في وجوههم نضرة النعيم(24) يسقون من رحيق مختوم(25) ختامه مسك وفي ذلك فليتنافس المتنافسون(26) ومزاجه من تسنيم(27) عينا يشرب بها المقربون(28) إن الذين أجرموا كانوا من الذين آمنوا يضحكون(29) وإذا مروا بهم يتغامزون(30) وإذا انقلبوا إلى أهلهم انقلبوا فكهين(31) وإذا رأوهم قالوا إن هؤلاء لضالون(32) وما أرسلوا عليهم حافظين(33) فاليوم الذين آمنوا من الكفار يضحكون(34) على الأرائك ينظرون(35) هل ثوب الكفار ما كانوا يفعلون(36)

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) Orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya Kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (ialah) Kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu" Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): "Inilah azab yang dahulu selalu kami dustakan". Sekali-kali tidak, sesungguhnya Kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin. Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (yaitu) Kitab yang bertulis, Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (syurga), Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al Muthaffifin : 1-36)

Pengantar
Surat ini menggambarkan beberapa potong kenyataan praktis yang dihadapi dakwah Islamiah di Mekah, selain untuk membangkitkan hati, menggugah perasaan, dan mengarahkannya kepada peristiwa baru di dalam kehidupan bangsa Arab dan kehidupan manusia. Yaitu, adanya risalah langit untuk bumi dengan segenap kandungannya yang berupa pandangan baru yang lengkap dan meliputi segalanya. Potongan realita yang digambarkan surat ini pada permulaannya ialah diancamnya orang-orang yang curang dengan kecelakaan besar yang bakal diterimanya pada hari yang besar (kiamat).

Surat ini terdiri atas empat segmen.

Segmen pertama dimulai dengan menyatakan perang terhadap orang-orang yang curang, sebagaimana terdapat pada ayat 1-6.

Segmen kedua, yang tercantum pada ayat 7-17, membicarakan orang-orang yang durhaka dengan kecaman yang amat keras dan ancaman kecelakaan yang benar. Juga mencap (mengidentifikasi) mereka sebagai orang yang suka berbuat dosa dan pelanggaran. Kemudian segmen ini menjelaskan sebab kebutaan dan keterpadaman cahayanya, dan melukiskan balasan bagi mereka pada hari kiamat, serta diazabnya mereka sehingga terhalang untuk melihat Tuhannya, sebagaimana dosa-dosa sewaktu di dunia menghalangi dan menutup hati mereka. Kemudian mereka dimasukkan ke dalam neraka dengan dihina dan direndahkan.

Segmen ketiga yang terdapat pada ayat 18-28, membentangkan lembaran baiknya. Yaitu, lembaran orang-orang yang berbakti dengan kedudukannya yang tinggi, segala kenikmatan yang telah ditetapkan untuk mereka, dan kecerahan yang memancar di wajah mereka, serta khamar murni yang mereka minum sambil duduk di atas sofa dengan memandang ke sana ke mari. Nah, ini adalah lembaran kenikmatan yang terang cemerlang.

Segmen terakhir (keempat) menjelaskan apa yang dihadapi orang-orang yang berbakti di dunia yang penuh tipu daya dan kebatilan ini, dari orang-orang yang durhaka. Penjelasan mengenai gangguan, hinaan, dan kebiadaban orang-orang yang durhaka itu, merupakan kecenderungan yang berlawanan antara orang-orang yang berbakti dan orang-orang yang durhaka, di dunia hakikat yang abadi dan panjang. Keterangan mengenai segmen ini ada pada ayat 29-36.

Surat ini secara umum pada satu sisi mencerminkan lingkungan dakwah. Pada sisi lain melukiskan uslub dakwah dalam menghadapi realitas lingkungan itu beserta realitas kejiwaan manusia. Inilah yang hendak kami coba ungkapkan dalam paparan kami terhadap surat ini secara rinci.

Orang-Orang yang Curang

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan, apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?" (Al Muthaffifiin: 1-6)

Surat ini dimulai dengan perang yang dimaklumatkan Allah terhadap orang-orang yang curang, "Kecelakan besarlah bagi orang-orang yang curang. " 'Al-wail" berarti kebinasaan, kecelakaan yang besar. Terlepas apakah yang dimaksud ayat itu sebagai penetapan bahwa ini merupakan keputusan ataukah doa, maka dalam kedua keadaannya ini substansinya adalah satu, karena doa dari Allah juga berarti ketetapan.

Kemudian dua ayat berikutnya menjelaskan makna "muthaffifiin "itu. Maka, mereka adalah, "Orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan, apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. " Mereka menuntut dipenuhinya takaran dan timbangan barang-barang yang diperjualbelikan itu bila mereka membeli. Namun, mereka menguranginya bila menjual untuk orang lain.

Kemudian tiga ayat berikutnya menunjukkan keheranan terhadap sikap orang-orang curang itu. Mereka berbuat semaunya saja seakan-akan di sana nanti tidak ada perhitungan dan pertanggungjawaban terhadap apa saja yang mereka kerjakan selama hidup di dunia. Juga seakan-akan di sana tidak ada peradilan di hadapan Tuhan, pada hari yang besar, untuk mendapatkan perhitungan dan balasan di depan Tuhan semesta alam,  

'Tidakkah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam ?" (Al Muthaffifun: 4-6)

Memaparkan keadaan orang-orang yang curang dengan metode seperti ini dalam surat Makkiyah perlu mendapatkan perhatian, karena surat Makkiyah pada umumnya mengarahkan perhatiannya kepada pokok-pokok akidah secara total seperti penetapan tentang keesaan Allah, kehendak-Nya yang mutlak, dan pemeliharaan-Nya terhadap manusia dan alam semesta. Juga seperti hakikat wahyu dan nubuwwah, hakikat akhirat, hisab, dan pembalasan, serta perhatian terhadap pembinaan akhlak dan mental secara umum, dengan mengaitkannya kepada akidah. Sedangkan membicarakan masalah ini secara spesifik dari masalah-masalah akhlak seperti masalah kecurangan dalam menakar dan menimbang dan muamalah secara umum, biasanya dibicarakan belakangan dalam surat Madaniyah, yakni ketika membicarakan tatanan kehidupan masyarakat di bawah Daulah Islamiah, sesuai dengan manhaj lslami yang meliputi seluruh aspek kehidupan.

Karena itu, pembicaraan masalah ini secara spesifik dalam surat Makkiyah layak mendapat perhatian, karena ia mengandung beberapa petunjuk yang bermacam-macam yang tersembunyi di balik ayat-ayat yang pendek ini. Ia pertama-tama menunjukkan bahwa Islam pada masa periode Mekah biasa menghadapi keadaan riskan yang berupa kecurangan yang dilakukan oleh para pembesar yang pada waktu yang lama sebagai para pedagang besar, dan suka melakukan penimbunan. Di sana, terdapat harta kekayaan yang banyak sekali di tangan para pembesar itu yang mereka perdagangkan melalui kafilah-kafilah yang biasa bepergian pada musim dingin dan musim panas ke Yaman dan ke Syam. Mereka juga membuka pasar-pasar musiman seperti Pasar Ukazh pada musim haji. Di sana mereka melakukan perniagaan dan mengadakan lomba baca puisi.

Nash-nash Al Qur’anini menunjukkan bahwa orang-orang curang yang diancam oleh Allah dengan kecelakaan besar, dan dinyatakan perang terhadapnya itu adalah kelas elite yang memiliki kekuasaan, yang dapat saja memaksa manusia untuk menuruti kehendak mereka. Maka, merekalah yang menakar untuk orang lain, bukan menerima takaran dari orang lain. Seakan-akan mereka mempunyai kekuasaan terhadap manusia dengan suatu sebab yang menjadikan mereka dapat meminta orang lain memenuhi takaran dan timbangan dengan sepenuhnya. Jadi, maksudnya bukan mereka meminta dipenuhi haknya. Sebab, kalau meminta dipenuhi haknya, maka hal ini tidak perlu dinyatakan perang terhadapnya.

Pengertian yang dapat ditangkap adalah bahwa dengan cara kekerasan, mereka dapat memperoleh sesuatu melebihi haknya. Mereka juga dapat menuntut dipenuhinya takaran dan timbangan secara paksa menurut kehendak mereka. Kalau mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mempunyai kekuasaan untuk mengurangi hak-hak orang lain itu. Sedangkan orang lain itu tidak berkuasa menuntut mereka untuk memenuhi dan menyempurnakannya.

Hal ini berlaku bagi orang yang mempunyai kedudukan sosial seperti jabatan dan kedudukan yang tinggi dalam kabilah ataupun orang yang memiliki status ekonomi yang tinggi karena kebutuhan masyarakat berada di tangannya. Mereka biasa menimbun barang-barang dagangan. Sehingga, apabila masyarakat sudah terdesak, maka mereka terpaksa akan menerima kelalimannya itu, sebagaimana yang terjadi hingga sekarang di pasar-pasar. Maka, di sana terdapat kondisi kecurangan yang memprihatinkan, yang patut mendapatkan perhatian sejak dini.

Perhatian dini terhadap lingkungan Mekah ini pun menunjukkan karakter agama Islam, dan kelengkapan manhaj-nya terhadap kehidupan nyata dan persoalan-persoalan praktisnya. Juga menunjukkan ditegakkannya agama ini di atas prinsip akhlaq yang dalam dan mendasar, di dalam karakter manhaj Ilahi yang lurus. Maka, Islam tidak menyukai keadaan memprihatinkan yang berupa kezaliman dan penyimpangan moral dalam pergaulan. Sesudah dikendalikannya kehidupan masyarakat, ia tidak lepas untuk mengatur sesuai dengan syariatnya, dengan kekuatan undang-undang dan kekuasaan negara. Karena itu, dikumandangkannyalah seruan perang dan doa kebinasaan terhadap orang-orang yang curang, padahal mereka pada waktu itu adalah pemuka-pemuka kota Mekah. Mereka adalah pemegang dan pengendali kekuasaan yang bukan cuma berkuasa terhadap spiritualitas dan perasaan masyarakat lewat jalur akidah keberhalaan raja, tetapi juga menguasai perekonomian dan urusan kehidupan mereka.

Islam bersuara lantang menghadapi manipulasi dan kecurangan yang terjadi terhadap golongan mayoritas yang diperas oleh para pembesar yang memutar roda perekonomian mereka, yakni para pembesar yang suka melakukan riba dan penimbunan, sekaligus sebagai penguasa terhadap rakyat dengan agama khayalannya. Maka, Islam dengan teriakannya yang lantang dan dengan manhaj sanawinya, membangkitkan kesadaran masyarakat yang tertindas. Islam tidak pernah berdiam diri, meski ia terkepung di Mekah sekalipun oleh kekuasaan para diktator yang menguasai masyarakat dengan harta, kedudukan, dan agama berhala mereka!

Dengan demikian, kita mengetahui salah satu sebab sebenarnya yang menjadikan para pembesar Quraisy bersikap demikian keras terhadap dakwah Islam. Karena mereka mengetahui, tanpa disangsikan lagi, bahwa ajaran baru yang dibawa Nabi Muhammad saw kepada mereka bukan semata-mata akidah yang tersimpan di dalam hati, atau akidah yang hanya menuntut mereka mengucapkan kalimat syahadat bahwa "Tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah", serta menegakkan shalat dan melakukan peribadatan kepada Allah saja, bukan kepada berhala-berhala dan patung-patung. Tidak, tidak demikian. Sesungguhnya, mereka mengerti bahwa akidah ini merupakan manhaj yang akan menghancurkan dan membongkar semua fondasi jahiliah yang menjadi tempat bertumpunya segenap peraturan, kemaslahatan, dan kepentingannya. Mereka juga mengetahui bahwa tabiat manhaj ini tidak menerima pendobelan dan tidak dilumuri dengan unsur bumi yang tidak bersumber dari unsur langit. Ia justru meng-hancurkan seluruh unsur bumi yang rendah, yang menjadi landasan jahiliah.

Oleh karena itu, mereka mengarahkan serangan terhadap dakwah Islam ini dari segenap penjuru tanpa pernah meletakkan senjatanya sama sekali, baik sebelum hijrah maupun sesudahnya. Peperangan mereka mencerminkan pembelaan terhadap seluruh aturan dan sistem mereka untuk menghadapi peraturan-peraturan Islam, yang bukan cuma sekadar urusan akidah dan pola pikir. Orang-orang yang memerangi kekuasaan manhaj Islam terhadap kehidupan manusia dalam setiap generasi dan pada setiap lokasi, pasti mengetahui hakikat ini. Mereka mengerti dengan sebaik-baiknya. Mereka mengetahui bahwa peraturan dan undang-undang mereka yang bathil, kepentingan-kepentingan mereka yang diperoleh dengan cara merampas, dan keberadaan mereka yang palsu, serta tata kehidupan mereka yang menyimpang, itu dikecam oleh manhaj Islami yang lurus dan mulia.

Para penguasa tiran yang zalim dan curang, apa pun bentuk kecurangannya, baik curang dalam masalah harta benda, hak, maupun kewajiban lebih banyak menentang keberlakuan manhaj yang adil dan bersih itu, yakni manhaj yang tidak menerima tawaran, kepura-puraan, dan kompromi. Hal itu sudah dimengerti oleh orang-orang yang melakukan baiat kepada Rasulullah saw, yaitu para wakil suku Aus dan Khazraj dalam Bai'ah Aqabah kedua sebelum hijrah.

Ibnu Ishaq berkata,'Telah diceritakan kepadaku oleh Ahim bin Umar bin Qatadah bahwa ketika kaum itu sudah berkumpul untuk berbaiat dengan Rasulullah saw, Abbas bin Ubadah bin Nadhlah Al Anshari, saudara Banu Salim bin Auf, berkata, 'Wahai segenap kaum Khazraj, apakah kalian mengetahui untuk apa kalian berbaiat dengan lelaki ini?' Mereka menjawab, Tahu.' Dia berkata, 'Sesungguhnya, kalian berbaiat untuk memerangi orang-orang berkulit merah dan berkulit hitam. Jika kalian mengetahui bahwa apabila harta benda kalian habis karena musibah dan pemimpin-pemimpin kalian binasa karena terbunuh, lantas kalian menyerahkan dia sejak sekarang, maka demi Allah, sesungguhnya kalian telah melakukan kehinaan dunia dan akhirat. Dan jika kalian memandang bahwa kalian sanggup menunaikannya sesuai dengan yang kalian dakwakan, meski harta kekayaan habis dan para pemuka terbunuh, maka laksanakanlah. Karena yang demikian itu, demi Allah, adalah kebaikan dunia dan akhirat'

Mereka berkata, 'Kami akan menunaikannya meskipun harta kami habis dan pemuka-pemuka kami terbunuh. Apakah yang akan kami peroleh wahai Rasulullah, jika kami memenuhinya?' Beliau menjawab, 'Surga.' Mereka berkata, "Hamparkanlah tanganmu.' Rasulullah menghamparkan tangan beliau, lalu mereka membaiat beliau."

Mereka telah mengetahui sebagaimana pembesar-pembesar Quraisy sebelumnya telah mengetahui karakter agama Islam bahwa ia bagaikan mata pedang keadilan yang menegakkan kehidupan ma-nusia di atas yang demikian itu. Ia tidak dapat menerima kediktatoran sang diktator, kezaliman orang yang zalim, dan kesombongan orang yang sombong. Ia tidak bisa menerima kecurangan, kehinaan, dan pemerasan. Karena itu, Islam memerangi setiap diktator yang zalim, aniaya, sombong, dan suka memeras orang lain, serta menghalang-halangi dakwah, para juru dakwah, dan mengintai-intainya.

'Tidakkah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?" (Al Muthaffifiin: 4-6)

Sungguh mengherankan urusan mereka, hanya karena persangkaan terhadap hari yang besar itu, yakni hari ketika manusia berdiri sendiri menghadap Tuhan semesta alam, tanpa pelindung lagi selain-Nya. Juga tanpa alternatif lain bagi mereka kecuali harus menghadapi keputusan terhadap apa yang telah mereka lakukan, sedangkan mereka tidak lagi mempunyai pelindung dan penolong. Semata-mata persangkaan bahwa mereka akan dibangkitkan untuk menghadapi hari yang besar itu, sudah cukup untuk menahan mereka dari melakukan kecurangan dan memakan (mengambil) harta orang lain dengan cara yang batil. Juga untuk menghalangi mereka dari melayani sang penguasa untuk menganiaya orang lain dan mengurangi haknya dalam bermuamalah. Akan tetapi, mereka tetap saja melakukan kecurangan, seakan-akan mereka tidak menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan. Ini adalah suatu hal yang mengherankan, persoalan yang aneh!

Orang-Orang yang Durhaka

Pada segmen pertama, mereka disebut muthaffifiin 'orang-orang yang curang', sedang pada segmen kedua disebut fujjar 'orang-orang yang durhaka'. Karena, orang yang curang itu termasuk dalam kelompok orang yang durhaka. Mereka ini sedang dibicarakan tentang kedudukan mereka dalam pandangan Allah, dan keadaan mereka di dalam kehidupan. Juga tentang apa yang mereka nantikan pada hari ketika mereka dibangkitkan untuk menghadapi hari yang besar.

"Sekali-kali jangan curang karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjiin. Tahukah kamu apakah sijjiin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian). Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Lalu dikatakan (kepada mereka), Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan. " (Al- Muthaffifun: 7-17)

Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan untuk menghadapi hari yang besar. Al Qur'an menakut-nakuti dan mengancam mereka dengan peristiwa ini. Ditegaskan juga bahwa mereka mempunyai kitab yang selalu mencatat dan menghitung amal perbuatan mereka. Kemudian dibatasi tempatnya untuk menambah penegasan itu. Akhirnya, Al Qur’an mengancam mereka dengan kecelakaan yang besar pada hari ketika dibeberkan kitab mereka yang bertulisan itu,

"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya Kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (ialah) Kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan," (Al Muthaffifiin: 7-10)

Al-fujar' orang-orang yang durhaka' ialah orang-orang yang melewati batas dalam maksiat dan dosa. Lafal ini sendiri sudah mengesankan makna itu. Sedangkan kitab mereka adalah catatan amal mereka. Kita tidak mengetahui bagaimana eksistensinya, dan kita pun tidak dibebani tugas untuk mengetahuinya. Kitab itu adalah urusan gaib yang kita tidak mengetahuinya melainkan sekadar yang durhaka dinformasikan oleh Allah, tidak lebih. Karena itu, di sana terdapat catatan amal orang-orang yang oleh Al Qur’an dikatakan di dalam sijjiin. Kemudian dikemukakanlah kalimat tanya untuk menunjukkan besarnya urusan yang sedang dihadapi, sebagaimana diungkapkan oleh Al Qur’an,

"Tahukah kamu apakah sijjiin itu?" (Al Muthaffifiin: 8)

Kalimat ini memberikan bayang-bayang besarnya urusan itu. Juga memberikan kesan kepada lawan bicara bahwa urusan ini terlalu besar untuk diketahui dan diliput oleh pengetahuan manusia. Akan tetapi, dengan firman-Nya, "Sesungguhnya, kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijiin"; berarti Allah telah membatasi tempat tertentu untuknya, meskipun tidak dikenal oleh manusia. Pembatasan atau penentuan ini menambah keyakinan lawan bicara karena adanya isyarat yang menunjukkan adanya kitab catatan amal tersebut. Itulah isyarat yang dimaksudkan di balik penyebutan hakikat ini dengan kadar tersebut, tidak lebih.

Kemudian dibicarakan kembali sifat kitab orang-orang yang durhaka itu. Hal ini tercantum dalam firman-Nya yang mengatakan bahwa sesungguhnya kitab itu adalah "kitab yang bertulis "dan berisi catatan lengkap, tanpa ditambah dan dikurangi, hingga dibeberkan pada hari yang besar itu. Kalau demikian maka,

"Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (Al Muthaffifiin: 10)

Dibatasi pula tema persoalan yang didustakan mereka, dan ditentukan pula hakikat orang-orang yang mendustakan itu,

"(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu. "(Al Muthaffifiin: 11-13)

Sikap melampaui Batas dan dosa itulah yang menuntun pelakunya mendustakan hari pembalasan dan bersikap jelek terhadap Al Qur’an. Sehingga, ia mengatakan bahwa ayat-ayat Al Qur’an yang dibacakan kepadanya "itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu". Pasalnya, Al Qur’an memuat kisah-kisah orang dahulu yang dipaparkan untuk menjadi pelajaran dan nasihat, juga untuk menjelaskan sunnah Allah yang tidak pernah berubah dan juga berlaku atas manusia sesuai dengan undang-undang yang ada dan tidak akan pernah menyimpang. Kesombongan dan pendustaan mereka ini diikuti dengan bentakan dan hardikan, "Sekali-kali tidak (demikian)!"Tidak seperti yang mereka katakan.

Kemudian disingkapkan sebab kesombongan dan pendustaan serta keberpalingan dari kebenaran yang jelas dan keterhapusan kebenaran itu dalam hati orang-orang yang mendustakan ini,

"Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (Al Muthaffifiin: 14)

Artinya, hati mereka tertutup oleh dosa-dosa dan kemaksiatan yang biasa mereka kerjakan. Hati yang selalu melakukan kemaksiatan itu akan menjadi redup cahayanya dan menjadi gelap. Ia dikotori oleh tutup tebal yang menghalangi cahaya masuk kepadanya dan menghalanginya dari cahaya. Juga menghilangkan sensitivitasnya sedikit demi sedikit sehingga akhirnya menjadi bebal dan mati.

Ibnu Jarir, Tirmidzi, Nasal, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari beberapa jalan, dari Muhammad bin Ajlan, dari Al Qa'qa' bin Hakim, dari Abi Shall, dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu alaihi roasallam, bersabda,

"Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu dosa, maka terdapat suatu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, hatinya menjadi cemerlang kembali; dan jika bertambah dosanya, titik hitam itu pun makin bertambah banyak. " Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan sahih:

" Dan, lafal Nasa'i berbunyi, "Sesungguhnya, seorang hamba apabila melakukan suatu dosa maka dia telah membuat satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia jauhi dosa itu, beristighfar dan bertobat, maka hatinya menjadi cemerlang kembali. Tetapi jika ia kembali berbuat dosa, maka bertambahlah titik-titik hitam itu sehingga menutupi hatinya. Maka itulah kotoran yang dimaksudkan dalam firman Allah, 'Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itulah yang menutup hati mereka... "

Al-Hasan Al Bashri berkata, "Yaitu dosa di atas dosa (bertumpuk tumpuk), sehingga hati itu menjadi buta, kemudian mati."

  Begitulah keadaan orang-orang yang durhaka dan mendustakan hari pembalasan. Itulah sebab mereka durhaka dan mendustakan. Setelah itu, disebutkan sedikit tentang tempat kembali mereka pada hari yang besar itu, sesuai dengan sebab kedurhakaan dan pendustaannya,

"Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Lalu dikatakan (kepada mereka), Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan. " (Al Muthaffifiin: 15-17)

Hati mereka telah dihalangi oleh kemaksiatan-ke¬maksiatan dan dosa-dosa serta dihalangi dari merasakan keberadaan Tuhan di dunia. Juga telah dipadamkan cahayanya sehingga kegelapan dan menjadi buta dalam kehidupan ini. Karena itu, akibat yang pantas dan balasan yang setimpal baginya di akhirat nanti ialah dihalanginya mereka dari memandang wajah Allah Yang Maha Mulia. Juga dihalanginya mereka untuk mendapatkan kebahagiaan terbesar yang tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang sehat, tinggi, dan jernih ruhnya, serta berhak disingkapkan hijab-hijab antara dia dan Tuhannya. Mereka termasuk golongan orang-orang yang disinyalir oleh Allah dalam surat Al Qiyaamah,

"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. " (Al-Qiyamah: 22-23)

Keterhalangan dari melihat wajah Tuhan ini merupakan azab di atas azab, keterhalangan di atas keterhalangan, dan merupakan puncak kesedihan bagi manusia yang kemanusiaan bersumber dari satu sumber, yaitu berhubungannya dengan ruh Tuhannya Yang Maha Mulia. Apabila ia terhalang dari sumber ini, hilang keistimewaan-keistimewaannya sebagai manusia yang terhormat sehingga merosotlah derajatnya ke tingkatan yang menjadikannya layak masuk neraka,

"Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. " (Al Muthaffifiin: 16)

Di neraka itu, mereka dicela dengan celaan yang lebih pahit daripada neraka itu sendiri, "Lalu dikatakan (kepada mereka), Inilah azab yang selalu kamu dustakan. " (A1 Muthaffifiin: 17)

Keadaan Orang-Orang yang Berbakti

Kemudian dibentangkanlah lembaran lain, lembaran orang-orang yang berbakti. Lembaran ini dipaparkan menurut metode Al Qur’an di dalam membeberkan dua lembaran yang bertolak be-lakang, sebagaimana biasanya, untuk menyempurnakan keterbalikan antara dua hakikat, dua ke-adaan, dan dua kesudahan yang bertolak belakang,

"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin. Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (yaitu) Kitab yang bertulis, Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (syurga), Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al Muthaffifiin: 18-28)

Lafal "kallaa" yang disebutkan pada awal segmen ini adalah untuk mencegah dari perbuatan sebelumnya. Yaitu, mendustakan hari pembalasan sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah ayat 17, Kemudian dikatakan (kepada mereka), "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan. "' Kemudian disudahi dengan perkataan kallaa 'sekali-kali tidak'. Sesudah itu, dimulailah pembicaraan tentang orang-orang yang berbakti dengan menggunakan kalimat yang pasti dan mantap. Apabila kitab orang-orang yang durhaka tersimpan dalam "sijjiin", maka kitab orang-orang yang berbakti tersimpan dalam "illiyyin". Dan yang dimaksud dengan al abraar 'orang-orang yang berbakti' itu ialah orang-orang yang patuh kepada Allah dan melaksanakan semua kebaikan. Mereka merupakan kebalikan dari orang-orang durhaka yang suka melanggar dan melampaui batas.

Lafal "illiyyin" mengisyaratkan dan mengesankan ketinggian yang berkebalikan dengan "sijjiin" yang memberi kesan dan mengisyaratkan kerendahan. Sesudah itu, dikemukakan pertanyaan yang menunjukkan ketidaktahuan yang ditanya dan kehebatan sesuatu yang ditanyakan itu, 'Tahukah kamu apakah illiyyin itu?" Nah, ini adalah urusan yang berada di luar jangkauan ilmu dan pengetahuan manusia!

Dari membicarakan bayang-bayang yang mengesankan ini, pembicaraan kembali lagi kepada hakikat kitab orang-orang yang berbakti. Dikatakan bahwa ia adalah "Kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). " Perkataan marqum 'bertulis' ini sudah disebutkan di muka. Di sini ditambahkan bahwa malaikat- malaikat yang didekatkan kepada Allah itu menyaksikan dan melihat kitab ini. Ditetapkannya hakikat ini di sini memberikan bayang-bayang kemuliaan, kesucian, dan ketinggian bagi kitab orang-orang yang berbakti. Karena, ia berada di tempat yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan kepada Allah, malaikat-malaikat yang mulia pekerjaan dan sifat sifatnya. Inilah bayangan kemuliaan dan keutamaan, yang disebutkan dengan maksud memberikan penghormatan. Setelah itu, disebutkan keadaan orang-orangyang berbakti itu sendiri, sebagai pemilik kitab yang mulia tersebut. Diterangkan pula sifat-sifat kenikmatan yang mereka peroleh pada hari yang besar itu,

"Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga). " (A1- Muthaffifun: 22)

Ayat itu sebagai kebalikan dari neraka yang menjadi tempat kembali orang-orang yang durhaka.
"...Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang...."

Yakni, mereka berada di tempat yang terhormat, sehingga dapat memandang ke mana saja yang mereka sukai, tanpa menundukkan pandangan karena hina dan tanpa sibuk memandang sesuatu yang menyengsarakan. Mereka duduk di atas dipan-dipan, di pelaminan keluarga, dengan kelambunya yang indah. Gambaran yang dekat ini lebih halus dan merupakan lambang kenikmatan yang lebih halus bagi bangsa Arab (waktu itu) yang kehidupannya serba kasar. Adapun bentuk ukhrawinya nanti bagaimana, maka hanya Allah yang mengetahuinya. Karena bagaimanapun keadaannya, ia jauh lebih tinggi dari apa yang dikenal oleh manusia berdasarkan pengalaman dan gambaran-gambarannya. Dalam kenikmatan ini, mereka merasakan kenikmatan jiwa dan fisik, sehingga memancar keceriaan dan tanda-tanda kegembiraan di wajah mereka yang dapat dilihat oleh siapa pun yang melihatnya,

"Kamu dapat mengetahui dari rajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. " (Al Muthaffifiin: 24)

"Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya). Laknya dari kesturi. " (Al Muthaffifiin: 25-26)

"Ar-rahiq"adalah minuman yang murni dan jernih, tidak mengandung kekeruhan dan kotoran. Disifati¬nya minuman itu bahwa ia disegel tempatnya, yang segelnya berupa kesturi. Hal itu menunjukkan bahwa minuman tersebut sudah disediakan di dalam bejana. Sedangkan, bejana-bejana ini disegel dan ditutup, yang dibuka segelnya ketika diminum. Ini menunjukkan bayang-bayang penjagaan dan pemeliharaan minuman tersebut, sebagaimana dijadikannya segel atau laknya dari kesturi menunjukkan bahwa barang itu barang bagus dan mewah.

Semua itu hanya bisa dimengerti manusia menurut batas-batas kebiasaan mereka di bumi raja. Ketika mereka sudah berada di sana, di taman surga, sudah tentu perasaan dan pengertian mereka akan sesuai dengan gambaran mereka yang bebas dari suasana bumi yang terbatas. Kemudian disebutkan sifat-sifat minuman itu dalam dua ayat berikut,

"Campuran khamar murni itu dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum darinya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al Muthaffifiin: 27-28)
 
Maksudnya, minuman khamar murni yang masih disegel itu dibukalah tempatnya. Kemudian dicampur dengan sesuatu yang bernama "tasnim", yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Sebelum selesai menyebutkan sifat-sifat minuman ini, disampaikan dan diberikanlah pengarahan berikut,

"Untuk yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba." (Al Muthaffifiin: 26)

Suatu kesan mendalam yang menunjukkan banyak. Sesungguhnya, orang-orang curang yang memakan atau mengambil harta orang lain dengan cara batil, tidak mengira akan dihisab pada hari akhir. Mereka mendustakan hari perhitungan dan pem-balasan. Hati mereka ditutupi oleh dosa dan kemaksiatan. Sesungguhnya, mereka itu hanya berlomba-lomba untuk mendapatkan kekayaan dan kesenangan duniawi yang tak berharga. Mereka berlomba untuk mendapatkan bagian yang lebih besar dan lebih besar lagi. Karena itu, mereka berbuat zalim, durhaka, dosa, dan melakukan tindakan apa saja untuk mendapatkan kekayaan dan kesenangan duniawi yang segera sirna itu.

Tidak sepantasnya manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan kekayaan yang rentang waktu-nya terbatas dan tak berharga ini. Sebenarnya, yang patut diperlombakan dan segera didapatkan ialah kenikmatan besar yang penuh kemuliaan dan kehormatan,  

"Untuk yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba. "

Ini adalah pencarian yang pantas orang berlomba mendapatkannya. Ini adalah ufuk yang layak manusia bersegera datang ke sana. Ini adalah tujuan akhir yang layak diperebutkan. Orang-orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan sesuatu dari kekayaan duniawi, betapapun besar, banyak, bernilai, dan agungnya, maka sebenarnya mereka hanya memperebutkan sesuatu yang remeh, sedikit, mudah lenyap, dan hanya sementara waktu. Pasalnya, dunia di sisi Allah tidaklah seimbang dengan sayap seekor nyamuk. Sedangkan, akhirat itu berat sekali dalam timbangan-Nya. Kalau begitu, maka akhirat adalah suatu hakikat yang pantas diperebutkan dan diperlombakan.

Menariknya, berlomba dalam urusan akhirat akan mengangkat ruh semua orang yang berlomba itu. Sedangkan berlomba dalam urusan dunia akan menyebabkan ruh mereka merosotnya. Berusaha mendapatkan kenikmatan akhirat akan menjadikan bumi baik, makmur, dan suci bagi semua orang. Sedangkan berusaha mendapatkan kekayaan duniawi akan menjadikan bumi sebagai rawa dan lingkungan yang menjadi tempat makannya cacing. Atau, tempat binatang dan serangga yang memakan kulit orang-orang yang baik dan berbakti.

Berlomba untuk mendapatkan kenikmatan akhirat tidak akan membiarkan bumi gersang dan tidak produktif, sebagaimana bayangan sebagian orang yang menyeleweng. Karena, Islam menjadikan bumi sebagai ladang akhirat. Menjadikan pengurusan kekhalifahan di bumi dengan mengelola dan memakmurkannya dibarengi dengan perbaikan dan ketakwaan, adalah tugas setiap mukmin yang sebenarnya. Namun, mereka menghadapkan tugas kekhalifahan ini untuk mencari ridha Allah. Juga menjadikannya sebagai ibadah kepadanya untuk merealisasikan tujuan keberadaannya, sebagaimana ditetapkan Allah dalam firman-Nya,

'TidaklahAku menjadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. " (Adz Dzaariyaat: 51)

Firman Allah, "Untuk yang demikian itu, hendaklah orang berlomba-lomba"

, sungguh merupakan pengarahan agar manusia melirikkan pandangan dan hatinya ke belakang planet bumi yang tak berharga ini. Yakni, ketika mereka sedang memakmurkan dan mengelola serta mengangkat bumi ke ufuk yang lebih tinggi dan lebih suci daripada kubangan-kubangan air yang berubah bau, warna, dan rasanya. Sedangkan, mereka sendiri bertugas membersihkan dan menyucikan rawa-rawa itu.

Umat manusia di dunia ini terbatas, sedang umurnya di akhirat tidak ada yang mengetahui ujungnya kecuali Allah. Kekayaan dan kesenangan dunia ini juga terbatas, sedang kesenangan-kesenangan di surga tak dapat dibatasi oleh pandangan dan bayangan-bayangan manusia. Tingkat kenikmatan di dunia ini sudah dikenal, sedang tingkat kenikmatan di surga sana layak mendapatkan keabadian. Kalau begitu, bagaimana mungkin kita akan membandingkan medan dan tujuan masing-masing hingga akan memperhitungkan untung-ruginya menurut perhitungan yang biasa dilakukan manusia? Ingatlah, perlombaan yang sebenarnya adalah untuk menggapai kebahagiaan dan keuntungan akhirat.
"... Untuk yang demikian itu, hendaklah orang berlomba lomba."

Orang-orang Mukmin akan Menertawakan Orang-Orang Kafir

Seakan-akan pemaparan perlombaan terhadap aneka bentuk kenikmatan yang dinantikan orang-orang berbakti itu, merupakan pendahuluan bagi pembicaraan tentang apa yang mereka peroleh di dunia dari orang-orang yang durhaka. Yakni yang berupa gangguan, penghinaan, kesombongan, dan tuduhan yang bukan-bukan. Hal ini juga dipaparkan dengan panjang lebar di sini. Maksudnya, untuk mengakhiri penghinaan yang dilontarkan orang-orang kafir, ketika mereka menyaksikan kenikmatan orang-orang yang berbakti itu,

"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Apabila orang-orang yang beriman berlalu di depan mereka, maka mereka saling mengedipkan matanya. Apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengata¬kan, 'Sesungguhnya, mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat. 'Padahal, orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka, pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya, orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. " (Al Muthaffifiin: 29-36)

Pemandangan yang dilukiskan oleh Al Qur’an mengenai penghinaan orang-orang berdosa terhadap orang-orang yang berbakti, keburukan sikap mereka, kesombongan mereka, dan identifikasi mereka sebagai orang-orang yang sesat, merupakan pemandangan yang kontroversial dalam realitas lingkungan masyarakat Mekah. Akan tetapi, peristiwa ini selalu terjadi berulang-ulang dalam berbagai generasi dan tempat Masyarakat sekarangpun banyak yang menyaksikan pemandangan seperti ini. Sehingga, ayat ayat ini seakan-akan turun untuk mengidentifikasi (menyifati) dan melukiskan potret mereka. Juga menunjukkan bahwa tabiat orang-orang durhaka yang suka berbuat dosa itu adalah sama di dalam menghadapi orang-orang yang baik-baik dalam semua lingkungan dan masa

"Sesungguhnya, orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. " (A1 Muthaffifin: 29)

Begitulah kebiasaan mereka. Paparan tentang dunia yang sementara dan segera lenyap itu dilipat pemaparannya, tiba-tiba mereka diajak bicara tentang akhirat. Mereka melihat kenikmatan orang-orang yang berbakti dan beriman. Kemudian diingat kan kepada mereka tentang urusan dunia. Sewaktu di dunia, mereka biasa menertawakan, menghina, dan meremehkan orang-orang yang beriman. Mungkin karena kemiskinan dan penampilannya yang lusuh, kelemahan dan ketidakberdayaannya menolak gangguan mereka, dan kelihatannya seperti orang-orang yang bodoh. Semua ini bisa menyebabkan orang-orang yang suka berbuat dosa itu tertawa. Mereka memang suka menjadikan orang-orang mukmin sasaran penghinaan dan tertawaan. Mereka mengganggu dan menyakiti orang-orang yang beriman, lalu mereka tertawakan dengan penuh penghinaan. Begitulah yang mereka lakukan terhadap orang-orang mukmin. Akan tetapi, orang-orang mukmin itu menerimanya dengan sabar, tegar, dan beradab sebagai orang beriman.

"Apabila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, maka mereka saling mengedipkan matanya. " (Al- Muthaffifiin: 30)

Sebagian mereka mengedipkan matanya, meng¬isyaratkan tangannya, atau melakukan gerakan-gerakan yang sudah dikenal di kalangan mereka untuk menghina kaum mukmin, yaitu gerakan dan lagak yang rendah dan hina yang menunjukkan keburukan moral dan ketidakbersihan hati mereka. Maksud mereka adalah untuk menimbulkan rasa keterhinaan di dalam hati orang-orang yang beriman dan untuk mempermalukannya. Sedangkan, mereka saling mengedipkan mata untuk menghinanya.

'Apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya'; setelah mereka kenyangkan jiwa mereka yang kerdil dan hina dengan menghina dan mengganggu orang-orang yang beriman, "mereka kembali dengan gembira", perasaan puas, bangga terhadap perbuatannya, dan merasa senang dengan keburukannya yang hina dan rendah itu. Maka, mereka tidak merasa menyesal lama sekali dan tidak merasakan kehinaan dan kotornya perbuatan dan tindakan mereka. Inilah puncak kerendahan jiwa mereka dan kematian nuraninya.

"Apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya, mereka benar-benar orang-orang yang sesat. " (Al Muthaffifiin: 32)

Ini lebih mengherankan lagi! Kiranya tidak ada yang lebih mengherankan daripada tindakan orang-orang yang durhaka dan suka berbuat dosa yang berbicara tentang petunjuk dan kesesatan. Sehingga, ketika melihat orang-orang mukmin, mereka menganggap orang-orang mukmin itu sebagai orang-orang yang sesat. Mereka juga mengisyaratkan kepada orang-orang mukmin untuk menegaskan penyifatan ini dengan maksud mempopulerkan dan meremehkan,

"Sesungguhnya, mereka benar-benar orang-orang yang sesat. "
 Kedurhakaan itu tidak terbatas, tidak malu berkata, dan tidak merasa hina dalam berbuat. Me-nuduh orang-orang mukmin sebagai orang-orang sesat manakala bertemu orang-orang durhaka dan suka berbuat dosa, itu menggambarkan bahwa karakteristik kedurhakaan adalah melampaui semua batas. Al Qur'an tidak hanya membela orang-orang yang beriman dan membantah kebohongan orang-orang durhaka itu. Karena, perkataan fajirah 'durhaka' itu sendiri merupakan perkataan yang tidak dapat dibantah. Akan tetapi, Al Qur’an menyampaikan penghinaan yang berat terhadap orang-orang yang menyelinapkan hidung mereka mengenai sesuatu yang bukan urusan mereka, dan suka campur tangan tanpa undangan seorangpun dalam persoalan ini,  

"Padahal, orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang mukmin. " (Al- Muthaffifiin: 33)

Mereka tidak diserahi untuk mengurus urusan orang-orang mukmin. Mereka tidak ditugaskan untuk menjadi pengawas. Mereka tidak ditugasi untuk menimbang dan mengukur keadaan orang-orang mukmin. Nah, untuk apakah mereka bersikap begitu, setelah dijelaskan dan ditetapkan seperti itu? Dengan penghinaan yang tinggi ini, diakhirilah cerita tentang kelakukan orang-orang yang berdosa itu di dunia. Yah, kelakuan dan sikap mereka. Dilipatlah pemandangan ini dengan kesudahan tersebut untuk menampilkan pemandangan akhirat dan orang-orang beriman yang berada dalam kenikmatan itu,  

"Maka, pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang. " (Al Muthaffifiin: 34-35)

Pada hari ini, orang-orang kafir terhalang dari melihat Tuhannya. Derita keterhalangan ini serasi dengan terabaikannya kemanusiaan mereka selama ini. Lalu mereka masuk ke neraka diiringi dengan kehinaan dan penghinaan seraya dikatakan kepada mereka seperti tercantum dalam ayat 17, "lnilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan. "

Pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk-duduk di atas dipan dan sofa-sofa. Mereka memandang ke mana saja yang disukai. Mereka berada dalam kenikmatan yang abadi. Juga mendapatkan minuman khamar murni yang bersegel kesturi dan bercampur dengan tasnim. Al Qur’an mengarahkan penghinaan yang tinggi pada kali lain dengan mengemukakan pernyataan,

"Sesungguhnya, orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. " (Al -Muthaffifiin: 36)

Benar! Apakah mereka diberi ganjaran? Apakah mereka mendapatkan ganjaran dari apa yang mereka kerjakan? Pertanyaan ini dikemukakan, padahal mereka tidak mendapatkan "ganjaran" sebagaimana yang sudah populer. Maka, kita saksikan mereka sebentar di dalam neraka. Akan tetapi, tak diragukan lagi bahwa mereka mendapatkan balasan dari apa yang mereka kerjakan! Itulah ganjaran mereka kalau begitu, ditambah dengan penghinaan yang terkandung dalam penggunaan gaya bahasa ironi dengan disebutkannya kata tsawab 'ganjaran / pahala' untuk siksa!

Catatan Penting
Kita berhenti sebentar di depan pemandangan yang dilukiskan oleh Al Qur’an dengan segala keadaan dan gerakannya secara panjang lebar ini, yakni pemandangan berupa penghinaan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap orang-orang mukmin sewaktu di dunia. Hal ini sebagaimana sebelumnya telah dipaparkan dengan panjang lebar mengenai pemandangan tentang kenikmatan orang-orang yang berbakti dengan segenap pemandangan dan kesenangannya.

Kita dapati bahwa uraian panjang yang mengesankan ini mengandung pengetahuan yang tinggi di dalam menyampaikan ungkapan, sebagaimana ia juga merupakan pengetahuan yang tinggi di dalam mengobati perasaan. Karena golongan minoritas muslim di Mekah menghadapi kekejaman dan gangguan dari orang-orang musyrik, yang menimbulkan kepedihan mendalam di dalam jiwa manusia. Namun, Allah swt tidak membiarkan mereka tanpa pertolongan. Dia justru memantapkan, menghibur, dan menenangkan hati mereka.

Gambaran yang terperinci tentang penderitaan mereka karena gangguan kaum musyrikin ini, merupakan balsem pengobat hati mereka. Karena, Allahlah yang menerangkan derita mereka ini. Dia melihat-lihat dan tidak mengabaikan mereka, walaupun pada suatu waktu orang-orang kafir mengabaikannya. Ini saja sudah cukup bagi orang mukmin untuk menghapuskan penderitaan mereka. Allah melihat bagaimana mereka dihina oleh orang-orang yang menghina dan disakiti oleh orang-orang yang berdosa, serta ditertawakan dan dijadikan bahan ejekan dengan penderitaan dan gangguan-gangguan itu oleh orang-orang yang menertawakan dan mengejeknya. Dia melihat pula bagai-mana orang-orang tolol itu tidak mencela dan menyesali perbuatan mereka sedikit pun. Sesungguhnya, Allah melihat semua itu dan menerangkannya di dalam wahyu-Nya. Karena itu, hal ini mempunyai nilai tersendiri di dalam timbangan-Nya. Ini saja sudah cukup! Ini saja sudah cukup ketika hati orang-orang yang beriman merasakan¬nya, meski bagaimanapun luka dan deritanya.

Kemudian Tuhan mengejek orang-orang yang berdosa itu dengan ejekan yang tinggi dan menyakitkan. Namun, kadang-kadang ejekan itu tidak dirasakan oleh hati orang-orang berdosa, yang telah ter¬tutup oleh kotoran dosa-dosa. Akan tetapi, hati orang-orang beriman yang sensitif dan cerdas, merasakan dan memperhitungkannya. Kemudian ia merasa senang dan gembira. Setelah itu, hati yang beriman ini menyaksikan keadaannya di sisi Tuhannya nanti, kenikmatan-kenikmatannya di dalam surga-Nya, dan kemuliaan-kemuliaannya di alam tertinggi. Yakni, ketika ia menyaksikan keadaan musuh-musuhnya terhina oleh makhluk yang tinggi (malaikat) dan disiksa di dalam neraka, dengan penuh penghinaan dan pelecehan. Ia, menyaksikan ini dan itu dengan rinci dan dalam penuturan yang panjang. Ia merasakan keadaannya dengan realistis dan meyakinkan. Sehingga, sudah tidak diragukan lagi bahwa perasaan semacam ini dapat menghapuskan kepahitan yang dialaminya yang berupa gangguan, penghinaan, minoritas, dan kelemahan. Bahkan, sebagian hati ada yang merasakan kepahitan dan kegetiran yang dialaminya sebagai sesuatu yang manis, ketika ia menyaksikan pemandangan-pemandangan ini di dalam firman yang mulia.

Suatu hal yang perlu diperhatikan bahwa adanya firman Allah yang demikian ini saja sudah cukup sebagai hiburan Ilahiah terhadap orang-orang mukmin yang disiksa dan disakiti oleh orang-orang berdosa yang hina dina itu dengan berbagai sarananya, gangguannya yang berat, dan penghinaannya yang tajam. Surga bagi orang-orang mukmin dan neraka bagi orang-orang kafir. Kedua keadaan ini, antara dunia dan akhirat, akan dipertukarkan secara total. Nah, hanya ini saja yang dijanjikan Rasulullah saw kepada orang-orang yang berbaiat kepada beliau. Namun demikian, mereka sudah rela mengorbankan harta dan jiwanya.

Pertolongan di dunia dan kemenangan di bumi tidak pernah disinggung oleh Al Qur’an periode Mekah, ketika memberikan hiburan dan pemantapan. Al Qur’an hanya menciptakan sesudahnya hati-hati yang siap mengemban amanat. Hati yang seperti itu haruslah tabah, kuat, dan tidak tertarik kepada kekayaan dan kesenangan duniawi. Bahkan, ia justru rela mengorbankan segala sesuatu dan siap memikul segala beban. Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali akhirat. Tidak ada yang mereka harapkan kecuali keridhaan Allah. Sehingga, terciptalah hati yang siap mengarungi dunia dengan keletihan, kemelaratan, keterhalangan, siksaan, pengorbanan, dan ketabahan, tanpa mengharapkan imbalan yang cuma semen¬tara waktu di dunia ini. Bahkan, meskipun balasan di dunia ini berupa kemenangan dakwah, kemenangan Islam, dan kemenangan kaum muslimin!

Hati yang mengerti ini mengetahui bahwa dalam perjalanannya di bumi ini tidak ada sesuatu pun melainkan harus ia berikan tanpa imbalan. Ia hanya menantikan akhirat saja sebagai waktu pembalasan dan waktu untuk memisahkan antara yang hak dan yang batil. Sehingga, apabila hati ini mendapati Allah mengetahui niatnya ketika berbaiat dan berjanji bahwa kemenangan datang kepadanya di bumi secara realistis, maka kemenangan itu bukan untuk dirinya. Tetapi, untuk menegakkan amanat manhaj IIahi, yaitu kelayakan menunaikan amanat, sejak ia tidak diberi janji untuk mendapatkan harta rampasan di dunia, dan tidak tertarik untuk diberi bagian dari harta rampasan. Hati ini Lurus murni hanya karena Allah, untuk mendapatkan hak pada hari yang ia ketahui tidak ada balasan kecuali ridha-Nya.

Semua ayat yang menyebutkan kemenangan di dunia, turun di Madinah sesudah itu. Atau, sesudah urusan ini berada di luar program orang mukmin, di luar penantian dan ambisinya. Kemenangan itu sendiri datang karena Allah menghendaki manhaj ini menjadi kenyataan di dalam kehidupan manusia. Yakni, dengan ditetapkan dalam bentuk amaliah terbatas yang dilihat oleh berbagai generasi. Maka, realitas ini bukanlah balasan atas keletihan, kepayahan, pengorbanan, dan penderitaan mereka. Akan tetapi, hal itu sudah menjadi takdir Allah yang mengandung hikmah yang dapat kita coba melihatnya sekarang!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar