bintang


Jumat, 21 Oktober 2011

Tafsir Surah An-Nazi’at


والنازعات غرقا(1)
والناشطات نشطا(2)
والسابحات سبحا(3)
فالسابقات سبقا(4)
فالمدبرات أمرا(5)
يوم ترجف الراجفة(6)
تتبعها الرادفة(7)
قلوب يومئذ واجفة(8)
أبصارها خاشعة(9)
يقولون أئنا لمردودون في الحافرة(10)
أئذا كنا عظاما نخرة(11)
قالوا تلك إذا كرة خاسرة(12)
فإنما هي زجرة واحدة(13)
فإذا هم بالساهرة(14)
هل أتاك حديث موسى(15)
إذ ناداه ربه بالواد المقدس طوى(16)
اذهب إلى فرعون إنه طغى(17)
فقل هل لك إلى أن تزكى(18)
وأهديك إلى ربك فتخشى(19)
فأراه الآية الكبرى(20)
فكذب وعصى(21)
ثم أدبر يسعى(22)
فحشر فنادى(23)
فقال أنا ربكم الأعلى(24)
فأخذه الله نكال الآخرة والأولى(25)
إن في ذلك لعبرة لمن يخشى(26)
أأنتم أشد خلقا أم السماء بناها(27)
رفع سمكها فسواها(28)
وأغطش ليلها وأخرج ضحاها(29)
والأرض بعد ذلك دحاها(30)
أخرج منها ماءها ومرعاها(31)
والجبال أرساها(32)
متاعا لكم ولأنعامكم(33)
فإذا جاءت الطامة الكبرى(34)
يوم يتذكر الإنسان ما سعى(35)
وبرزت الجحيم لمن يرى(36)
فأما من طغى(37)
وآثر الحياة الدنيا(38)
فإن الجحيم هي المأوى(39)
وأما من خاف مقام ربه ونهى النفس عن الهوى(40)
فإن الجنة هي المأوى(41)
يسألونك عن الساعة أيان مرساها(42)
فيم أنت من ذكراها(43)
إلى ربك منتهاها(44)
إنما أنت منذر من يخشاها(45)
كأنهم يوم يرونها لم يلبثوا إلا عشية أو ضحاها(46)

Demi (Malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, Dan (Malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, Dan (Malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, Dan (Malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, Dan (Malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam, Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, Pandangannya tunduk. (orang-orang kafir) berkata: "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Mereka berkata: "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan". Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, Maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. Sudah sampaikah kepadamu (Ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa; "Pergilah kamu kepada Fir'aun, Sesungguhnya dia telah melampaui batas, Dan Katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)". Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?" Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). Apakah kamu lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah Telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, Dan dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (orang-orang kafir) Bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (An Naazi’at : 1-46) 

Pengantar 

Surat An Naazi'aat adalah salah satu contoh dari contoh-contoh juz ini untuk membangkitkan kesadaran hati terhadap hakikat akhirat dengan segala hal yang besar dan mengerikan, keseriusannya, dan orisinalitasnya di dalam ketentuan Ilahi untuk menciptakan dunia manusia. Juga pengaturannya yang sangat tinggi terhadap tahap-tahap penciptaan dan langkah-langkahnya di muka bumi dan di dalamnya, kemudian di akhirat yang mencerminkan kesudahan penciptaan ini beserta akibatnya.

Dalam rangka membangkitkan kesadaran hati terhadap hakikat akhirat yang sangat besar dan agung ini, maka ditimbulkanlah kesan kesan yang bermacam-macam pada senar-senar kalbu. Disentuhnya dengan berbagai macam sentuhan seputar hakikat yang sangat besar itu, dengan kesan kesan dan sentuhan sentuhan yang sekiranya dapat mengantarkannya kepadanya. Maka, hakikat itu disiapkan amat dapat diterima oleh hati dengan kesadaran dan penuh perasaan. Jalan ini direntangkan dengan pengantar yang mengandung muatan dalam yang kedalamannya menimbulkan rasa takut dan getaran getaran. Keadaan ini digiring dalam irama musik dan nada yang menggetarkan dan menjadikan papas kembang kempis, seakan akan papas terputus karena getaran, kekagetan, dan rasa takut yang ditimbulkannya, sebagaimana tercantum dalam surat An Naazi'aat ayat 1-5.

Setelah pengantar yang menakutkan dan menggetarkan hati ini, datanglah pemandangan pertama dari pemandangan pemandangan hari itu. Bayangannya merupakan bayangan pengantar itu dan tabiatnya juga merupakan tabiat pengantar tersebut, seakan akan pengantarnya itu menjadi bingkai dan sampulnya. Lihat surat An Naaz.i'aat ayat 6-14.

Dari suasana yang menakutkan, mendebarkan, menggetarkan, dan membingungkan itu, dibentangkanlah pemandangan yang berisi puing-puing orang-orang yang mendustakan ayat Allah lagi melampaui batas, dalam mata rantai kisah Nabi Musa bersama Fir'aun. Maka, dipaparkanlah kisahnya dengan irama musik yang tenang, lalu dikendurkan sedikit, agar sesuai antara nuansa cerita dan pemaparannya. Hal ini dapat dilihat dalam An Naazi'aat ayat 15-26. Dengan demikian, bertemu dan teretaslah jalan menuju hakikat yang sangat besar itu.

Selanjutnya, pembicaraan berpindah dari paparan sejarah kepada kitab alam semesta yang terbuka, dan pemandangan pemandangan alam yang besar, yang menjadi saksi adanya kekuatan, pengaturan, dan penetapan Ilahi yang menciptakannya dan menjaga segala sesuatunya di dunia dan di akhirat. Maka, ditampilkanlah semua ini dalam kalimat-kalimat yang menawan dan mengesankan, yang serasi dengan permulaan surat dan irama musikalnya sebagaimana terlihat pada surat An Naazi'aat ayat 27-33.

Setelah memberikan pengantar untuk mendekatkan kesan dan sentuhan sentuhannya yang me-ngesankan, datanglah pemaparan pemandangan tentang malapetaka yang sangat besar, beserta balasan bagi segala sesuatu yang dikerjakan manusia sewaktu di dunia. Yakni, balasan yang terealisir pada bagian akhir pemandangan yang selaras dengan gambaran gambaran dan bayang-bayangnya seining dengan malapetaka yang sangat besar itu, sebagai mana tercantum dalam surat An Naazi'aat ayat 34-41.

Ketika hati dan perasaan sedang gemuruh oleh kesan yang ditimbulkan pemandangan tentang malapetaka yang sangat besar, neraka Jahim yang ditampakkan kepada orang yang melihatnya, dan akibat yang diterima oleh orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, serta akibat yang diterima oleh orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan keinginan hawa nafsunya; tiba-tiba pembicaraan kembali lagi kepada orang-orang yang mendustakan hari kiamat, yang mempertanyakan tentang waktu terjadinya kepada Rasulullah saw. Pembicaraan kembali kepada mereka dengan memberikan tambahan kesan di dalam perasaan tentang kengerian terhadap hari kiamat dan ketakutan kepadanya, dan tentang besarnya peristiwa itu. Hal ini tampak pada surat an-Naazi'aat ayat 426.

Huruf ha' yang dibaca panjang memiliki kesan yang besar dan panjang, miring dengan besarnya peristiwa yang besar dan menakutkan itu!

Sentuhan Ayat-Ayat Permulaan


"Demi yang mencabut (nyawa) dengan keras, yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut, yang turun dari langit dengan cepat, yang mendahului dengan kencang dan yang mengatur urusan."(An Naazi'aat: 1-5)

Dalam menafsirkan ayat-ayat ini ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah para malaikat, yaitu malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras, yang gesit dan bebas gerakannya, yang turun dengan cepat di alam atas, yang mendahului beriman dan mentaati perintah Tuhan-nya, dan yang mengatur segala urusan yang diserahkan kepadanya. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bintang-bintang yang lepas di tempat edarannya dan bergerak dengan gesit dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Bintang- bintang yang beredar di ruangan ciptaan Tuhan sambil bergantung padanya, yang berjalan dan beredar dengan cepat, yang mengatur basil-basil dan fenomena-fenomena sesuai yang diserahkan Allah kepadanya, dan yang sangat mempengaruhi kehidupan di bumi dan makhluk di atasnya.

Namun, ada yang mengatakan bahwa An naaiz'aat, An nasyithat, as-sabihg dan as-sabiqat adalah bintangbintang, sedang Al mudabbirat adalah para malaikat Ada puIa yang mengatakan bahwa An naazi'aat, an-nasyithat dan as-sabihat itu adalah bintang-bintang, sedang as-sabiqat  dan Al mudabbirat adalah malaikat

Terlepas apa pun yang dimaksudkan, maka kita merasakan dalam kehidupan ini bahwa apa yang disebutkan dalam Al Qur'an pertama-tama dan sebelum segala sesuatunya adalah menggoncang-kan hati dan menggetarkan perasaan terhadap sesuatu yang mengerikan dan menakutkan. Karena itu, sangat relevan bagian permulaan ini untuk menyiapkan jiwa guna menerima sesuatu yang menakutkan dan menggetarkan perasaan karena adanya goncangan alam dan tiupan sangkakaIa yang pada akhirnya datanglah malapetaka yang sangat dahsyat.

Sejalan dengan perasaan seperti itu, maka lebih utama kita biarkan lafal lafal ini tanpa menambah-nambah perincian dan memperdebatkan apa sebenarnya yang ditunjuki oleh kalimat-kalimat itu, agar kita hidup di bawah bayang-bayang Al Qur'an dengan segala kesan dan pengarahannya sesuai dengan tabiatnya. Maka menggoncangkan hati dan menyadarkannya itu sendiri sudah tentu menjadi sasarannya, yang dipilih oleh khithab Al Qur'an dengan aneka caranya.

Kemudian kita mendapatkan teladan dari Umar Ibnul Khaththab ra ketika ia membaca surat "Abasa wa tawallaa" : Ketika sampai pada firman Allah, "Wa faakihatan wa abban"; maka Umar berkata, "Kita sudah mengerti faakihah, tetapi apakah abban itu?" Kemudian ia segera berkata lagi, "Demi Tuhan, wahai putra Al Khaththab, sesungguhnya ini adalah takalluf memberat-beratkan diri'! Apakah kerugianmu seandainya engkau tidak mengerti satu lafal dari kitab Allah Ta'ala?" Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Umar berkata, "Semua ini sudah kami ketahui, tetapi apakah Al abb itu?" Kemudian ia membuang tongkat yang ada di tangannya, yakni mematahkannya karena marah kepada dirinya sendiri, seraya berkata, "Ini demi Allah, adalah takalluf. Apakah kerugianmu wahai putra ibu Umar, seandainya engkau tidak mengerti apa Al abb itu?" Kemudian dia berkata, “apa yang jelas bagimu dari kitab ini, dan apa yang tidak jelas maka tinggalkanlah. "

Reaksi ketika, Alam Digoncang Tiupan

Bagian permulaan yang datang dengan menggunakan bentuk sampan ini adalah sebagai peng-antar terhadap urusan yang digambarkan oleh ayat-ayat berikut ini,

(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam. Tiupan pertama itu diikuti oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata, Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?Apakah (akan dibangkitkan juga) apabiIa kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?' mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pe¬ngembalian yang merugikan. 'Sesungguhnya pengembali¬an itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. "(An Naazi'aat: 6-14)
Menurut satu keterangan, yang dimaksud "ar-raajifah "adalah bumi yang bergoncang, didasarkan pada firman Allah dalam ayat lain, 'Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan. " (Al Muzzammil: 14)

Sedang "ar-raadifah" adalah langit yang bergoncang. Maksudnya, bumi bergoncang, kemudian diiringi oleh goncangan langit sehingga terbelah dan bintang-gemintangnya berserakan. Disebutkan juga dalam suatu riwayat bahwa yang dimaksud dengan "ar-raajifah"adalah tiupan pertama yang menggoncangkan bumi beserta isinya seperti gunung-gunung dan semua makhluk hidup. Maka, pingsanlah semua yang ada di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Sedangkan, "ar-raadifah" adalah tiupan kedua yang membangunkan mereka lantas dikumpulkan di Padang Mahsyar, sebagaimana diterangkan dalam saran az-Zumar ayat 68. Ayat ini menjadikan hati manusia merasakan goncangan besar yang menakutkan dan mengerikan. Hati bergoncang karena takut dan gemetar. Ayat ini memberitahukan apa yang akan menimpa hati manusia pada hari itu, yaitu keterkejutan dan ketergoncangan sehingga tidak ada satu pun hati yang teguh dan mantap. Ia pun mengetahui dan merasakan hakikat firman Allah,

'Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk." (An Naazi'aat: 8-9)

Ia bergoncang sangat hebat dan tunduk merendahkan diri. Di dalamnya bercampur baur antara takut dan sedih, bergoncang dan gemetar. Inilah yang terjadi pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam yang diikuti oleh tiupan kedua, atau pada hari ketika bumi bergoncang sekeras¬-kerasnya yang diikuti dengan pecah-belah dan hancur berantakannya langit. Inilah persoalan yang didahului dengan sampan,

'Demi yang mencabut (nyawa) dengan keras, yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut, yang turun dari langit dengan cepat, yang mendahului dengan kencang dan yang mengatur urusan. "

Pemandangan yang berupa goncangan dahsyat bumi dan langit, dan bergoncangnya hati karena takut dan sedih ini serasi benar bayang-bayang dan kesannya dengan permulaan saran yang berisi sampan tersebut. Selanjutnya, dibicarakanlah tentang ketakutan dan kebingungan mereka ketika bangun dari kubur mereka,

"(Orang-orang kafir) berkata, Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dikembalikan juga) apabila kami telah menjadi tulang-belulang yanghancur lumat?" (An Naazi'aat: 10-11)

Mereka bertanya-tanya, "Apakah kami dikembalikan kepada kehidupan yang pernah kami tempuh dahulu?" Dalam ketakutan dan kebingungan mereka bertanya, jika mereka hidup kembali seperti dulu lagi, seraya berdesah, "Bagaimana hal ini bisa terjadi setelah kami menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?" Barangkali mereka sadar dan mengerti bahwa mereka dikembalikan kepada kehidupan, tetapi kehidupan yang lain. Maka, mereka merasa rugi dan menderita dengan pengembalian hidup seperti ini, lalu keluarlah dari mulut mereka kalimat ini,

'Kalau demikian, itu adalah pengembalian yang merugikan."(An Naazi'aat: 12) Pengembalian yang tidak pernah mereka per¬hitungkan dan tidak pernah mereka menyiapkan bekal untuknya. Sehingga, yang mereka peroleh hanya kerugian semata-mata! Dalam menghadapi pemandangan ini, Al Qur’an mengakhirinya dengan mengemukakan hakikat sesuatu yang terjadi,

"Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. "(An Naazi'aat: 13-14)

'Az-zajrah " berarti suara yang dahsyat (tapi juga diartikan juga dengan tiupan dalam Al Qur‘an dan terjemahannya) . Digunakannya perkataan yang kasar itu sejalan dengan suasana pemandangan ini beserta pemandangan pemandangan dalam surat ini secara keseluruhan. Adapun kata "as-saahirah" adalah bumi (tanah) yang putih mengkilat, yaitu Padang Mahsyar yang kita tidak mengetahui di mana ia berada. Informasi tentang hal ini tidak kita ketahui kecuali dari informasi benar yang kita peroleh. Maka, kita tidak menambahnya dengan sesuatu pun yang tidak dapat dipercaya dan tidak dijamin kebenarannya.

Suara dahsyat satu kali ini maksudnya, bila merujuk kepada nash-nash lain, adalah tiupan yang kedua yakni tiupan kebangkitan dari kubur dan berkumpul di Mahsyar. Penggunaan kalimat "sekali tiup" ini mengesankan peristiwa itu begitu cepat. Memang kesan surat secara keseluruhan menunjukkan peristiwa-peristiwanya terjadi dengan begitu cepat dan sepintas. Hati yang ketakutan ini juga terjadi dengan begitu cepat, yakni ia langsung ketakutan. Sehingga, terdapat keserasian dalam setiap gerakan, lintasan, bayang-bayang, dan susunan kalimatnya.

Musa Menghadapi Fir'aun Sang Tiran

Kemudian nadanya diturunkan sedikit dalam menapaki perjalanan tempo dulu, agar serasi dengan kisah-kisahnya, ketika membeberkan apa yang terjadi antara Musa dan Fir'aun. Diakhiri dengan menceritakan kelaliman si penguasa tiran (diktator) itu dengan kecongkakannya,

"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? TatkaIa Tuhannya memanggilnya di lembah suci yaitu Lembah Thuwa, Pergilah kamu kepada Fir'aun. Sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan kamu akan kupimpin kepada jalan Tuhanmu supaya kamu takut kepada-Nya?' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi, Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian ia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Dia mengumpulkan (pembesar- pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Tuhanmu yang paling tinggi. 'Maka, Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). "(An Naazi'aat: 15-26)

Kisah Musa ini merupakan kisah yang paling banyak disebutkan dalam Al Qur'an dan paling terperinci. Sebelumnya sudah banyak disebutkan pada beberapa surat dalam konteks yang ber-macam-macam dengan menggunakan metode yang berbeda-beda pula. Masing-masing sesuai dengan konteks surat, dan seiring pula dengan tujuan atau sasaran yang ditonjolkan dalam surat tersebut, menurut metode Al Qur'an di dalam menyampaikan cerita.

Di sini, kisah ini dipaparkan secara ringkas dan ditampilkan dalam pemandangan sepintas kilas. Dimulai sejak dipanggilnya Musa di lembah suci, hingga dihukumnya Fir'aun dengan hukuman di dunia dan di akhirat sehingga, bertemulah dengan akhir pokok surat ini, yaitu hakikat akhirat. Kisah panjang ini disebutkan di sini dalam beberapa ayat pendek dan sepintas lalu saja, sesuai dengan tabiat surat dan kesan-kesannya. Adapun ayat-ayat yang pendek dan sepintas lalu ini mengandung beberapa poin dan pemandangan dari kisah ini sebagai berikut. Dimulai dengan menunjukkan khithab'perkataan' kepada Rasulullah saw.,

"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah " (An Naazi’aat: 15)

Hai adalah pertanyaan pendahuluan untuk menyiapkan hati dan telinga guna menerima kisah ini. Kemudian pemaparan kisah sebagai narasi dengan membeberkan peristiwa-peristiwanya. Penceritaan ini dimulai dengan menggambarkan pemandangan ketika Musa dipanggil Tuhannya dan bermunajat kepada-Nya,

'TatkaIa Tuhannya memanggilnya di lembah suci, yaitu ,Lembah Thuwa. "(An Na,azi'aat: 16)

Thuwa, menurut pendapat yang lebih kuat, adalah nama sebuah lembah yang terletak di sebelah kanan Gunung Sina bagi orang yang datang dari Madyan, sebelah utara Hijaz.

Scat pemanggilan itu adalah scat yang menakutkan dan agung, sekaligus menakjubkan. Pemanggilan Allah swt sendiri kepada salah seorang hamba-Nya itu adalah suatu hal yang luar biasa besarnya, perkataan manusia tidak dapat mengungkapkan besarnya urusan itu. Ini merupakan salah satu dari rahasia-rahasia Ilahi yang agung, seperti halnya rahasia penciptaan manusia yang diberi-Nya potensi untuk menerima panggilan itu. Inilah puncak sesuatu yang dapat Anda katakan dalam hal ini. Pengetahuan manusia tidak mampu mengetahui hakikatnya yang sebenarnya. Sehingga, ia harus berhenti pada bingkainya, sampai Allah menyingkapkannya untuknya lantas dia dapat merasakannya dengan perasaannya. Di tempat-tempat (surat-surat) lain terdapat perincian dialog Musa dengan Tuhannya dalam hal ini. Adapun di sini hanya disebutkan secara ringkas untuk memberikan kesan-kesan sepintas. Karena itulah, dalam konteks ini segera diceritakan penugasan Ilahi kepada Musa, sesudah disebutkannya pemanggilan di lembah suci Thuwa,

"Pergilah kamu kepada Fir'aun. Sesungguhnya dia telah melampaui batas." (An Naazi'aat: 17)

"Thaghaa"'melampaui batas' adalah suatu hal yang tidak boleh terjadi dan tidak boleh dibiarkan. Ia adalah sesuatu yang sangat dibenci, menimbulkan kerusakan di muka bumi, berlawanan dengan apa yang dicintai Allah dan menyebabkan kebencian-Nya. Maka, untuk mencegahnya, Allah memberi tugas dengan berbicara secara langsung kepada salah seorang hamba pilihan-Nya untuk berusaha menghentikan kejahatan, mencegah kerusakan, dan menghentikan tindakan melampaui batas ini. Sungguh tindakan melampaui batas ini sangat dibenci oleh Allah sehingga Dia berbicara langsung kepada salah seorang hamba pilihan-Nya agar pergi menghadapi penguasa tiran yang sewenang-wenang dan melampaui batas itu, untuk berusaha mencegahnya dari tindakan-tindakannya dan menyampaikan argumentasi-argumentasi kepadanya sebelum Allah menghukumnya di akhirat dan di dunia! Kemudian Allah mengajarkan kepada Musa bagaimana berbicara kepada thaaghiyah' diktator/ bran' itu dengan cara yang sangat simpatik dan menarik hati, barangkali Fir'aun mau menghentikan perbuatannya dan takut atas murka dan hukuman Tuhannya,

"... dan katakanlah (kepada Fir'aun), Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri. " (An Naazi’aat: 18)

Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri dari kotornya perbuatan melampaui batas dan kemaksiatan? Maukah kamu menempuh jalan kesucian dan keberkahan?

"... dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar kamu takut kepada-Nya? (An Naazi’aat: 19) 

 Maukah kutunjukkan kepadamu jalan Tuhanmu? Apabila kamu sudah mengetahuinya, niscaya akan timbul di dalam hatimu rasa takut kepada-Nya. Karena tidaklah seseorang bersikap dan berbuat melampaui batas serta melakukan kemaksiatan dan pelanggaran melainkan ketika jauh dari Tuhannya dan ketika ia tersesat jalan menuju kepada-Nya. Lalu, hatinya menjadi keras dan rusak, sehingga ia suka melampaui batas dan berbuat durhaka. Semua ini terlukis dalam pemandangan yang berupa pemanggilan dan penugasan.

Sesudahnya adalah pemandangan di mana Musa berhadapan dengan Fir'aun dan menyampaikan ajakan, tetapi tablighh (penyampaian) ini tidak diulang lagi di sini, karena dianggap cukup ditampilkan dan disebutkan di sana. Maka, dilipatlah apa yang terjadi sesudah dibentangkannya pemandangan tablighh, dan diringkaslah pengungkapan tablighh itu dalam pemandangan tablighh. Kemudian diturunkanlah layar di sini untuk diangkat kembali pada akhir pemandangan ketika menghadapi Fir’aun,

"Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi, Fir'aun mendustakan dan mendurhakai." (An Naazi'aat: 20-21)

Musa telah menyampaikan apa yang ia ditugaskan untuk menyampaikannya dengan metode sebagaimana yang diajarkan dan diberitahukan Tuhannya kepadanya. Akan tetapi, cara yang simpatik ini tidak berhasil melunakkan hati si diktator yang kosong dari pengetahuan tentang Tuhannya. Karena itu, Musa menunjukkan kepadanya mukjizat yang sangat besar, yaitu mukjizat yang berupa tongkat dan tangan yang putih cemerlang sebagaimana diceritakan di tempat tempat lain. 'Tetapi, Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. " Berakhirlah pemandangan pertemuan dan tabligh ketika Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Pemandangan ini ditampilkan hanya sepintas kilas saja. Selanjutnya ditampilkanlah pemandangan lain. Yaitu, pemandangan ketika Fir'aun berpaling dari Musa dan dia berusaha mengumpulkan tukang-tukang sihirnya untuk memperlombakan antara sihir dan kebenaran, ketika ia merasa keberatan untuk menerima kebenaran dan petunjuk itu,

"Kemudian ia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Dia mengumpulkan (pembesar- pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya seraya berkata, Akulah Tuhanmu yang paling tinggi. "' (An Naazi’aat: 22-24)

Ayat-ayat ini segera menampilkan celotehan diktator kafir itu, engan menggambarkan secara garis besar mengenai pemandangan-pemandangan dan perincian-perincian ketika ia berusaha menantang Musa dan mengumpulkan tukang-tukang sihirnya. Ia berpaling seraya berusaha melakukan daya upaya untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir dan para pembesar. Kemudian meluncurlah dari mulutnya perkataan yang sangat jelek dan memalukan, penuh dengan ketertipuan dan kebodohan, 'Akulah Tuhanmu yang paling tinggi. "

Perkataan ini diucapkan oleh si diktator yang tertipu oleh kelengahan, ketundukan, dan kepatuhan pembesar-pembesarnya. Maka, tidaklah seorang tiran atau diktator dapat tertipu seperti tertipunya oleh kelengahan, sikap merendahkan diri, kepatuhan, dan ketundukan pembesar-pembesarnya. Padahal, si tiran itu tidak lain hanyalah seorang manusia yang pada hakikatnya tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan apa-apa. Kekuatannya hanyalah pembesar-pembesarnya yang lalai dan penurut itu. Mereka membentangkan punggung untuk dinaikinya, mengulurkan lehernya kepadanya untuk ditarik, menundukkan kepala kepadanya lantas dia naik ke atasnya, dan melucuti hak kemuliaan dan kehormatannya sehingga ia bersikap sewenang-wenang.

Para pembesar berbuat demikian karena pada satu sisi mereka tertipu dan pada sisi lain karena takut. Sedangkan rasa takut ini tidak akan timbul kecuali karena kekeliruan persepsi. Seorang tiran, seorang diri tidak mungkin lebih kuat dari beribu-ribu dan berjuta-juta manusia, seandainya mereka menyadari kemanusiaan, kemuliaan, kehormatan, dan kemerdekaannya. Setiap orang dari mereka sepadan dengan si tiran itu, dilihat dari segi kekuatannya, tetapi si tiran itu menipu dan memperdayakan mereka. Seakan-akan ia memiliki kekuatan dan kekuasaan terhadap mereka.

Tidak mungkin seorang individu bertindak melampaui batas terhadap umat yang terhormat. Tidak mungkin seorang individu bersikap diktator terhadap umat yang lurus dan benar. Juga tidak mungkin seorang individu bertindak sewenang-wenang terhadap umat yang mengenal Tuhannya, beriman kepada-Nya, dan tidak mau menyembah seorang pun dari makhluk-Nya yang tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan mudharat dan manfaat kepada mereka!

Fir’aun menjumpai adanya kelengahan, kehinaan, dan kekosongan hati dari iman di kalangan kaumnya, sehingga menjadikannya berani mengucapkan perkataan kafir dan durhaka ini, "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi. " Ia tidak mungkin berani mengucapkan perkataan ini seandainya umat ini pandai, terhormat, dan beriman. Umat yang mengerti bahwa Fir'aun itu hanyalah seorang hamba yang lemah dan tidak memiliki kekuasaan apa-apa, yang jika dihampiri lalat pun dia tidak akan mampu mengusirnya. Di depan kecongkakan yang tak tahu malu, dan sesudah memaparkan kesombongan yang amat buruk ini, maka bergeraklah kekuatan yang amat dahsyat,

"...Maka, Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan di dunia.... " (An Naazi’aat: 25)

  Didahulukannya penyebutan azab akhirat daripada azab dunia di sini karena azab akhirat itu lebih dahsyat dan lebih kekal, serta karena ia adalah azab hakiki (sebenarnya) yang akan menimpa orang-orang yang melampaui batas dan suka berbuat maksiat dengan kedahsyatan siksa itu dan kekekalannya. Jugakarenapenyebutan ini lebih cocok dalam membicarakan konteks akhirat yang menjadi terra sentralnya, dan karena secara lafal penyebutan ini serasi dengan nuansa musikal dalam persajakannya setelah terdapat keserasian makna beserta terra sentral dan hakikat aslinya. Azab dunia itu pun sangat keras dan pedih, maka bagaimana lagi dengan azab akhirat yang lebih dahsyat dan lebih menyakitkan? Fir’aun itu dahulu (sewaktu di dunia) memiliki kekuatan; kekuasaan, clan kedudukan yang diwariskan kepada penguasa yang sejenisnya, maka bagaimana dengan orang-orang selain Fir'aun yang mendustakan ayat-ayat Allah? Bagaimana dengan orang-orang musyrik yang menentang dakwah itu?

"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). "

Maka, orang yang mengenal Tuhannya dan takut kepada-Nya itulah orang yang dapat mengambil pelajaran dari cerita Fir’aun tersebut. Adapun orang yang hatinya tidak mengenal takwa, maka antara dia clan pelajaran ini terdapat dinding penghalang, antara dia dan nasihat terdapat tembok penyekat sehingga ia akan membentur akibatnya, dan Allah mengazabnya dengan azab akhirat dan azab dunia. Setiap orang dimudahkan menempuh jalan hidupnya dan menuai akibatnya, sedangkan pelajaran itu hanyalah bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Mengingatkan Kaum Musyrikin dan Semua Manusia kepada Kekuasaan Allah

Setelah melakukan perjalanan melihat-lihat puing-puing kehancuran orang-orang yang melanggar dan melampaui batas dengan segala kekuatannya, maka pembicaraan diputar kembali kepada orang-orang musyrik yang terpedaya oleh kekuatannya. Dikembalikan dan diingatkanlah mereka kepada sesuatu dari fenomena kekuatan yang sangat besar di alam semesta ini yang kekuatan mereka tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengannya,

"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Dia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. " (An Naazi'aat: 27-33)

Ini adalah pertanyaan yang hanya mengandung sebuah jawaban yang harus diterimanya dengan pasrah dan tidak dapat dibantah lagi,

"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit?" (An Naazi'aat: 27)

  Sudah tentu jawabannya adalah "langit", tanpa dapat dibantah dan disanggah lagi. Karena itu, mengapa kamu tertipu dan terpedaya oleh kekuatanmu, padahal langit itu lebih sulit penciptaannya daripada kamu dan masih ada lagi yang penciptaannya lebih sulit daripada langit itu? Itulah satu sisi dari isyarat pertanyaan itu, dan masih ada sisi yang lain lagi. Maka, persoalan apa lagi yang kamu anggap sulit bagi Allah untuk membangkitkan kamu kembali? Menciptakan langit itu lebih sulit daripada menciptakan kamu, sedang membangkitkan kamu dari kubur itu hanya me-ngembalikan atau mengulang penciptaanmu saja. Tuhan yang telah menciptakan langit yang lebih sulit penciptaannya itu sudah tentu berkuasa mengulangi penciptaanmu, dan tentu hal ini lebih mudah. Langit yang lebih sulit penciptaannya tanpa dapat dibantah lagi ini "telah dibangun oleh-Nya." Bangunan itu mengesankan adanya kekuatan dan kekokohan. Demikian pula langit, ia kokoh dan teguh, bintang-gemintangnya tidak acak-acakan dan amburadul. Mereka tidak pernah keluar dari garis edarnya, tidak berguguran, dan tidak berantakan. Maka, langit ini adalah bangunan yang kuat, mantap, kokoh, dan saling menguatkan di antara bagian-bagiannya.

"Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya." (An Naazi'aat: 28)

"Samku kulli syai-in" adalah bangunan dan ketinggian sesuatu. Langit ditinggikan bangunannya dengan rapi dan kokoh. Inilah yang dimaksud dengan "menyempurnakannya" dalam firman-Nya, "Faawwaahaa lalu menyempurnakannya." Penglihatan murni dan pengamatan biasa dapat menyaksikan keteraturan dan kerapian yang mutlak ini. Makrifat (mengenal) terhadap hakikat undang-undang yang menahan makhluk-makhluk yang besar ini dan menata gerakan-gerakan dan pengaruh serta dampaknya, dapat memperluas makna pelajaran yang ditangkapnya. Juga dapat menambah luasnya jangkauan hakikat yang besar ini, yang tidak dapat dicapai manusia dengan ilmunya kecuali dengan ujung-ujungnya raja. Mereka berhenti di hadapannya dengan terkagum-kagum, terhenyak, dan takut. Mereka tidak mampu menerangkan sebab-sebab¬nya bila tanpa menetapkan adanya kekuatan terbesar yang mengatur dan menentukan, seandainya mereka tidak beriman kepada agama.  

"Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang." (An Naazi'aat: 29)

Kalimat ini sangat dahsyat bunyi dan maknanya, sesuai dengan pembicaraan tentang kedahsyatan dan kekuatan. "Wa aghthasya lailahaa" artinya sama dengan "azjelamahu" menjadikan malamnya gelap gulita', "wa akhraja dhuhaahaa" yakni "adhaa-ahaa" 'menjadikan siangnya terang benderang'. Pemilihan kata ini sejalan dengan konteks masalah. Berurutannya dua keadaan yang berupa gelap dan terang pada waktu malam dan waktu siang merupakan suatu hakikat yang dapat dilihat oleh setiap orang dan mengesankan setiap hati. Namun, kadang-kadang manusia melupakannya karena lamanya kebiasaan ini dan seringnya berulang-ulang.

Oleh karena itu, Al Qur'an mengembalikan kebaruannya dengan mengarahkan perasaan ke-padanya. Karena, pada hakikatnya ia senantiasa baru, mengalami kebaruan setiap hari, dan terasa baru pula kesannya dalam kejadiannya. Adapun undang-undang yang ada di belakangnya sangat halus dan agung yang menyebabkan rasa takut dan decak kagum orang yang mengerti dan mengenalnya. Maka, hakikat ini menjadikan hati merasa takut dan berdecak kagum setiap kali ilmunya bertambah dan pengetahuannya berkembang.  

"Bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Dia memancarkan darinya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. "        (An Naazi’aat: 30-32)

"Dahwul-ardhi" artinya membentangkan dan menghamparkan permukaannya. Sehingga, ia layak dilewati di atasnya dan pembentukan tanahnya layak untuk ditumbuhi tumbuh-tumbuhan. Dipancangkannya gunung-gunung menjadikan mantapnya lapisan atas bumi. Dengan adanya gunung-gunung ini pula maka papas bumi mencapai tingkat sedang sehingga layak bagi kehidupan. Allah mengeluarkan air darinya, baik yang memancar dari sumber-sumber maupun yang turun dari langit yang pada dasarnya juga berasal dari bumi yang menguap kemudian turun kembali dalam bentuk hujan. Ditimbulkan-Nya dari bumi itu tumbuh-tumbuh¬annya yang dimakan oleh manusia dan binatang-binatang ternak untuk menjadi unsur penghidupan manusia secara langsung ataupun tidak langsung.

Maka, diingatkannya manusia terhadap keagungan rencana Allah untuk mereka dari satu segi, sebagaimana diisyaratkan tentang keagungan ketentuan Allah terhadap kekuasaan-Nya. Karena, bangunan langit seperti ini dan dihamparkannya bumi sedemikian rupa bukanlah suatu hal yang terjadi secara tak sengaja dan kebetulan belaka. Tetapi, sudah tentu dengan perhitungan dan ukuran yang cocok untuk makhluk yang akan mengelola bumi ini. Juga sesuai dengan yang dibutuhkan bagi semua itu terjadi setelah dibangunnya langit, dijadikannya malam gelap gulita, dan dijadikannya siang terang benderang. Teori astronomi (ilmu falak) modern sangat berdekatan dengan apa yang ditunjuki oleh nash Al Qur an ini ketika teori itu menetapkan bahwa bumi telah melewati masa beratus-ratus juta tahun, sedang ia terus melakukan pere-darannya. Siang dan malam silih berganti sebelum dihamparkannya bumi itu dan sebelum ia dapat ditumbuhi.

Juga sebelum dimantapkannya kulitnya sebagaimana adanya sekarang di mana ada bagian yang tinggi dan ada bagian-bagian yang datar. Al Qur an menyatakan bahwa semua ini adalah,  

"Untuk kesenanganmu dan binatang-binatang ternakmu." (An Naazi'aat: 33)


Al Qur' an dengan metodenya di dalam memberikan isyarat global yang mengandung pokok hakikat ini, di sini menyebutkan kesesuaian-kesesuaian bangunan langit, gelap gulitanya malam, terang benderangnya siang, dihamparkannya bumi, dikeluarkannya airnya, ditumbuhkannya tumbuh-tumbuhan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar