bintang


Rabu, 02 November 2011

Tafsir Surah Al Infithar

إذا السماء انفطرت(1) وإذا الكواكب انتثرت(2) وإذا البحار فجرت(3) وإذا القبور بعثرت(4) علمت نفس ما قدمت وأخرت(5) يا أيها الإنسان ما غرك بربك الكريم(6) الذي خلقك فسواك فعدلك(7) في أي صورة ما شاء ركبك(8) كلا بل تكذبون بالدين(9) وإن عليكم لحافظين(10) كراما كاتبين(11) يعلمون ما تفعلون(12) إن الأبرار لفي نعيم(13) وإن الفجار لفي جحيم(14) يصلونها يوم الدين(15) وما هم عنها بغائبين(16) وما أدراك ما يوم الدين(17) ثم ما أدراك ما يوم الدين(18) يوم لا تملك نفس لنفس شيئا والأمر يومئذ لله(19) الانفطار: ١ - ١٩ 

Pada segmen pertama ia berbicara tentang terbelahnya langit, berjatuhannya bintang-bintang, meluapnya lautan, dan dibongkarnya kuburan-kuburan. Semua peristiwa itu diungkapkan sebagai keadaan-keadaan yang mengiringi pengetahuan setiap jiwa terhadap apa yang telah dikerjakan dan dilalaikannya, pada hari yang rawan tersebut

 Segmen kedua dimulai dengan memberikan sen¬tuhan celaan yang mengandung ancaman kepada manusia, yang telah menerima limpahan nikmat, yang terdapat pada dirinya dan penciptaannya, dari Tuhannya. Akan tetapi, ia tidak mengakui hak nikmat itu, tidak mengakui kekuasaan Tuhan padanya, dan tidak mensyukuri karunia, nikmat, dan kemuliaan yang diberikan-Nya. Hal ini tercantum dalam surat Al Infithaar ayat 6-8.

 Segmen ketiga menetapkan sebab kedurhakaan dan pengingkaran tersebut, yaitu mendustakan hari kiamat (hari perhitungan). Pasalnya, pendustaan ini merupakan sumber segala kejahatan dan penentangan. Karena itu, masalah pendustaan terhadap hari perhitungan ini ditegaskan sedemikian rupa. Ditegaskan pula akibat dan balasannya yang pasti, sebagaimana terdapat pada surat Al Infithaar ayat 9-16.

 Adapun segmen terakhir (keempat) menggambarkan besar dan ngerinya hari kiamat itu. Sehingga, setiap orang lepas dari memperhatikan sekitarnya, dan hanya Allah sendiri yang menangani urusan yang agung tersebut. Segmen terakhir ini terdapat pada surat al Infithaar ayat 17-19. Dengan demikian, surat Al Infithaar secara keseluruhan merupakan salah satu mata rantai kesan-kesan dan jalan-jalan yang dipandu juz ini dengan bermacam-macam cara dan metodenya.

  Pemandangan Alam ketika Hari Kiamat Datang

Telah kita bicarakan dalam surat yang lalu tentang kesan-kesan yang meresap di dalam perasaan ketika menyaksikan alam mengalami perubahan sedemikian rupa oleh tangan kekuasaan. Juga ketika alam digoncang dengan goncangan yang menjadikannya porak-poranda dan berserakan. Sehingga, tidak ada sesuatu pun di alam yang besar ini, yang masih tetap dalam keadaannya yang normal sebagaimana biasanya. Kami katakan bahwa isyarat itu menunjukkan terlepasnya manusia dari segala sesuatu yang dicenderunginya di alam semesta. Hanya Allah swt, pencipta semesta, yang tetap kekal setelah musnahnya segala sesuatu yang ada. Kemudian diarahkannya hati kepada hakikat satu-satunya yang tetap abadi dan tidak akan pernah berubah dan sirna. Tujuannya untuk mendapatkan keamanan dan kemantapan di sisi-Nya dalam menghadapi keterbalikan, kegoncangan, dan kehancuran segala sesuatu yang selama ini terlihat kukuh, mantap, sangat teratur, dan seolah-olah abadi. Padahal tidak ada keabadian kecuali bagi Sang Maha Pencipta yang berhak disembah oleh makhluk-Nya.

 Disebutkan di sini bahwa di antara fenomena kehancuran itu ialah terpecah-belahnya langit. Terbelahnya langit ini sudah disebutkan dalam surat-surat lain,

 "Apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.... "(Ar Rahmaan: 37)


"Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. " (Al Haaqah: 16)
"Apabila langit terbelah...."(Al-Insyiqaaq: 1)

Maka, terbelahnya langit itu merupakan salah satu hakikat (kejadian sebenarnya) pada hari yang sulit tersebut. Adapun maksud "terbelahnya langit itu" sangat sukar diidentifikasi dan didefinisikan, sebagaimana sulitnya kita menetapkan bagaimana cara terbelahnya. Namun, yang terasa dalam hati ialah pemandang¬an yang berupa perubahan dramatis terhadap keadaan alam yang nyata ini. Juga berakhirnya aturannya yang selama ini berlaku, dan lepasnya ikatan-ikatan yang mengikatnya dalam tatanan yang rapi selama ini. Pemandangan seperti itu disertai pula dengan berserakan dan berjatuhannya bintang-bintang. Padahal, dahulunya bintang-bintang tersebut begitu solid berjalan di garis-garis edarnya dengan kecepatan yang tinggi dan mengagumkan. Ia tertahan dan terkendali di tempat-tempat peredarannya tanpa pernah melampauinya. Ia juga tidak pergi tanpa arah yang pasti di halaman angkasa luas yang tidak seorang pun mengetahui ujungnya. Kalau bintang-¬bintang sudah berserakan sebagaimana yang akan terjadi pada hari ketika sudah habis waktunya dan telah lepas dari ikatan kuat yang berbeda dengan yang terlihat selama ini yang mengikat dan menjaganya, niscaya bintang-bintang itu akan berserakan di ruang angkasa, bagaikan debu-debu yang berserakan dari perekatnya.

 Adapun lautan dijadikan meluap itu mungkin airnya penuh dan meluap ke tempat-tempat kering serta melanda sungai-sungai. Mungkin juga yang dimaksud adalah terpisahnya kedua unsur airnya, oksigen dan hidrogen. Kemudian airnya berubah menjadi gas macam gas ini sebagaimana dahulunya ketika Allah belum mempertemukan dan menjadikannya lautan. Atau, mungkin yang terjadi nanti adalah meluapnya atom-atom kedua gas itu, sebagaimana yang terjadi pada ledakan bom atom dan hidrogen pada masa sekarang. Sehingga, luapan dan ledakannya sangat besar dan mengerikan. Pasalnya, jika diban-dingkan dengan ledakan hari kiamat, maka ledakan bom atom yang menakutkan ini dianggap bagaikan permainan anak-anak kecil yang sederhana! Mungkin juga yang terjadi nanti adalah sesuatu yang lain dan sama sekali tidak dikenal manusia keadaannya. Tetapi yang jelas, peristiwa itu sangat mengerikan dan tidak pernah dirasakan dan diketahui oleh manusia dalam keadaannya yang bagaimanapun!

Kemudian kuburan-kuburan dibongkar atau "dibangkitkannya manusia dari kubur" itu mungkin disebabkan adanya peristiwa-peristiwa yang men¬dahuluinya. Mungkin juga sebagai peristiwa tersendiri pada hari yang panjang itu, yang banyak sekali pemandangan dan peristiwanya. Lalu, keluarlah dari kubur-kubur itu jasad-jasad yang diciptakan ulang oleh Allah, sebagaimana Dia menciptakannya kali pertama, untuk menerima perhitungan dan balasan dari-Nya.

 Hal ini diperkuat dan selaras dengan firman-Nya pada ayat 5 sesudah membentangkan pemandangan-pemandangan dan peristiwa-peristiwa ini,
 "Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan apa yang dilalaikannya. "Yakni, apa yang dikerjakannya sejak awal hingga akhir, apa yang telah dikerjakannya di dunia dan ditinggalkan bekas-bekas perbuatannya di belakangnya, atau apa yang telah diperolehnya ketika di dunia ini dan apa yang di simpannya untuk akhiratnya nanti. Bagaimanapun, setiap jiwa akan mengetahui semua itu pada saat terjadinya peristiwa-peristiwa besar yang menakutkan tersebut. Setiap peristiwa sangat menakutkan hati manusia, sedangkan pemandangan-pemandangan dan peristiwa-peristiwa begitu banyak Semuanya sangat menakutkan dan mengerikant

 Ungkapan Al-Qur'an yang unik dengan meng¬gunakan perkataan,
'Tap-tiap jiwa mengetahui...'; mengandung makna bahwa setiap jiwa akan mengetahui. Tetapi, kesan yang diperolehnya lebih dalam dan lebih menyentuh. Hal itu sebagaimana urusan ini tidak berhenti pada batas-batas pengeta huannya terhadap apa yang telah .dikerjakan dan ditinggalkannya. Maka, pengetahuan ini begitu tegas seiring dengan kerasnya pemandangan-pemandangan alam yang jungkir balik pada hari itu. Pengungkapan ini memberikan bayang-bayang demikian di samping apa yang disebutkan dalam nash itu sendiri. Karena itu, ia lebih dalam dan lebih mengena!

 Peringatan bagi Manusia
Setelah dipaparkan bagian permulaan yang menggugah perasaan, pikiran, dan hati nurani ini, paparan berikutnya beralih kepada realitas kehidupan manusia sekarang yang lupa, lengah, dan lalai. Di sini, disentuhnya hati manusia dengan sentuhan yang mengandung celaan yang memuaskan, dan ancaman yang halus. Juga peringatan terhadap nikmat Allah yang pertama kali diperolehnya, yaitu nikmat penciptaan dirinya dalam bentuk yang sempurna dan indah. Padahal, Tuhan berkuasa menciptakannya dalam bentuk lain kalau Dia menghendaki. Akan tetapi Dia memilihkan untuknya bentuk yang sempurna, seimbang, dan indah. Ironisnya, ia tidak mau bersyukur dan menaruh hormat,

"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang Dalam bentuk apa raja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. " (Al Infithaar: 6-8)

Firman, "Yaa ayyuhal insaan Hai manusia... "; ini dipergunakan untuk memanggil manusia dengan panggilan yang lebih mulia daripada eksistensinya sendiri. Yaitu, dengan menyebut "insaaniyyahnya" kemanusiaannya' sebagai ciri khas yang membedakannya dari semua makhluk hidup, dan mengangkatnya ke posisi paling mulia. Di situ tampaklah penghormatan dan karunia Allah yang melimpah kepadanya. Sesudah itu diikuti dengan celaan yang indah dan luhur, "...Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu YangMaha Pemurah?... "

 Hai manusia yang telah dimuliakan oleh Tuhanmu, yang dipelihara dan dirawatnya dengan kemanusiaanmu yang mulia, tanggap, dan luhur. Hai manusia, apakah yang memperdayakanmu terhadap Tuhanmu, sehingga engkau tidak memenuhi hak-hak Nya, engkau abaikan perintah-Nya, dan engkau beradab yang buruk terhadap-Nya? Padahal Dia adalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah mencurahkan kemurahan, karunia, dan kebaikan-Nya kepadamu. Di antara curahan kemurahan-Nya itu adalah insaaniyyah-mu yang membedakanmu dari semua makhluk-Nya yang lain, dan yang menjadi ciri khasmu. Dengan insaaniyyahmu itu, kamu dapat berpikir, serta dapat mengerti mana yang layak dan mana yang tidak layak engkau lakukan di hadapan-Nya.

 Kemudian diperinci sedikit karunia IIahi ini. Perinciannya dikemas dalam seruan yang mengesankan dengan petunjuk yang dalam, yang mengandung banyak isyarat dalam pengungkapannya. Juga diperincinya sedikit tentang kemurahan Ilahi yang melimpah kepada manusia, yang tercermin dalam insaaniyyah-nya ini, yang telah diserunya pada permulaan ayat.

 Dalam perincian ini, ditunjukkanlah penciptaan dirinya, kejadiannya yang sempurna, dan bentuknya yang seimbang. Padahal Allah berkuasa untuk membentuknya dalam bentuk apa pun yang dikehendaki-Nya. Maka, dipilih-Nya bentuk ini untuk manusia adalah karena kemurahan dan karunia-Nya semata, yang dilimpahkan-Nya kepada manusia yang tidak mau bersyukur dan berterima kasih. Bahkan, ia teperdaya dan tidak menghiraukan sama sekali. "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu YangMaha Pemurah ? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang?... "

Firman ini menggoncangkan setiap atom yang ada di dalam diri manusia ketika insaaniyyah-nya tersadar. Sehingga, sampailah ke lubuk dan relung hati, sedang Tuhannya Yang Maha Pemurah mencelanya dengan celaan yang luhur dan mengingatkannya dengan peringatan yang indah. Namun, ia cuek saja dengan kekurangannya, bersikap buruk terhadap Tuhan yang telah menciptakannya. Padahal, Dia menyempurnakan kejadiannya, dan membentuk susunan tubuhnya dengan seimbang.

 Penciptaan manusia dalam bentuk yang demikian indah, sempurna, dan seimbang, serta sempurna dalam bentuk dan fungsinya, merupakan sesuatu yang patut direnungkan dengan panjang. Juga patut disyukuri dengan mendalam, adab sopan santun yang menyeluruh, dan rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, yang telah memuliakannya dengan penciptaan seperti itu, sebagai karunia dari-Nya, pemeliharaan terhadapnya, dan kenikmatan yang diberikan-Nya kepadanya. Karena sesungguhnya Dia berkuasa menjadikannya dalam bentuk apa pun yang dikehendaki-Nya. Tetapi, Dia memilihkan bentuk yang sempurna, seimbang, dan bagus untuknya.

 Manusia adalah makhluk yang indah bentuknya, sempurna ciptaannya, dan seimbang posturnya. Sungguh keajaiban-keajaiban yang terdapat pada penciptaan dirinya lebih besar daripada apa yang diketahuinya, dan lebih mengagumkan daripada apa saja yang dilihat di sekelilingnya. Keindahan, kesempurnaan, dan keseimbangan tampak pada bentuk tubuhnya. Juga pada keberadaan akal dan ruhnya yang semuanya tersusun rapi dan sempurna di dalam dirinya. Di sana terdapat unsur-unsur kesempurnaan lagi tentang sifat organ-organ manusia dengan kelembutan dan keteraturannya. Tetapi di sini bukan tempatnya untuk membahas dan memaparkan keajaiban-keajaiban penciptaan manusia ini dengan luas dan lengkap. Namun, kami cukupkan dengan mengisyaratkan sebagiannya saja. Organ-organ umum untuk membentuk tubuh manusia yang meliputi organ tulang, otot, kulit, pencernaan, darah, pernapasan, reproduksi, limpa, saraf, pengeluaran kotoran, perasaan, penciuman, pendengaran, dan penglihatan, itu sungguh mengagumkan. Ia tak dapat dibandingkan dengan kekaguman-kekaguman buatan manusia yang biasa mereka temui dan mencengangkan mereka. Sehingga, kekaguman buatan manusia itu melupakan keajaiban-keajaiban dirinya sendiri yang sebenarnya lebih baik, lebih dalam, dan lebih rumit.

 Majalah ilmu pengetahuan Inggris, sebagaimana dikutip oleh Prof. Abdul Razzaq Naufal dalam kitab Al llmul Hadits, mengatakan, "Tangan manusia merupakan pendahuluan keajaiban alam yang luar biasa. Sangat sulit, bahkan mustahil, dapat menciptakan suatu alat yang dapat menyamai tangan manusia dilihat dari kesederhanaan, kemampuan, dan kecepatannya berbuat sesuatu. Maka, ketika anda hendak membaca suatu kitab, tentu Anda meagambilnya dengan tangan Anda. Kemudian Anda meletakkannya di tempat yang cocok untuk dibaca. Tangan inilah yang membetulkan di mana letak yang seharusnya. Ketika anda membalik salah satu halaman, maka dengan letakkan jari-jari Anda di bawah kertas dengan tekanan yang sekiranya dapat mernbalikkan halamannya yang anda kehendaki. Kemudian tekanan pun hilang dan kertas pun terangkat.

 Tangan dapat memegang pena dan menulis dengannya. Juga dapat mempergunakan alat-alat yang menjadi kelaziman bagi manusia, dari sendok, pisau, hingga alat-alat tulis. Tangan dapat membuka jendela dan menutupnya. Ia dapat membawa apa saja yang dikehendaki manusia. Kedua belah tangan masing-¬masing mengandung dua puluh tujuh macam tulang dan tujuh belas susunan otot"

 Dalam kitab Al-Ilmu Yad'u ilal-Iman disebutkan bahwa satu bagian dari telinga manusia (telinga tengah) merupakan mata rantai dari sekitar empat ribu busur yang halus dan saling terikat. Keempat ribu busur itu bersusun-susun dengan aturan yang sangat cermat dalam ukuran dan bentuknya. Sehingga, dapat dikatakan bahwa lekuk-lekuk ini menyerupai alat musik. Karena itu, tampaklah bahwa ia sudah disiapkan sedemikian rupa. Ia berhimpun dan berpindah (merambat) ke otak, dalam bentuk tertentu, setiap terjadi bunyi atau suara, dari gelegar suara halilintar hingga gemerisik pohon. Lebih-lebih paduan suara dari berbagai alat musik dalam orkestra dan simponi.

 Pada kitab lain, yakni kitab Allah wal-Ilmul Hadits, disebutkan, "Pusat indra penglihatan pada mata mengandung seratus tiga puluh juta saraf penerima cahaya, yang merupakan ujung-ujung saraf. Semua saraf itu dilindungi oleh kelopak mata dengan bulu mata yang selalu melindunginya siang dan malam. Juga dengan gerak refleksnyayang bergerak sendiri tanpa kemauan yang bersangkutan, yang melindunginya dari debu-debu dan benda-benda asing. Hal itu sebagaimana ia melindunginya dari sengatan matahari, dengan adanya bayang-bayang bulu mata. Gerakan kelopak mata bagian atas dalam berkedip-kedip juga sebagai pemeliharaan terhadap kornea mata agar tidak kering. Sedangkan, air mata yang mengalir di mata itu, sudah demikian jelas dan terang.

" Dalam kitab yang sama juga disebutkan, "Indra perasa pada manusia yang bernama lidah, bekerja dengan saraf-saraf perasanya yang terdapat pada tempat penghisap selaput lendir. Alat alat penghisap ini mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Di antaranya ada yang berupa serat, jamur, dan lensa. Aneka rasa itu dirasakan oleh cabang-cabang saraf lidah dan saluran antara rongga mulut dan kerongkongan, dan saraf perasa. Ketika makan, saraf perasa itu merasakan pengaruh makanan tersebut. Kemudian pengaruh itu dibawa ke otak. Alat ini terdapat pada ujung lidah sehingga manusia bisa memprediksi bahwa makanan yang dirasakannya itu membahayakan. Dengan alat ini pula, manusia bisa merasakan pahit dan manis, dingin dan panas, asam dan asin, pedas dan sebagainya. Lidah ini mengandung sembilan ribu tonjolan alat perasa yang lembut, yang masing-masing tonjol¬an berhubungan dengan otak lebih banyak dari satu saraf.

 Nah, berapakah jumlah saraf itu? Berapa besar ukurannya? Bagaimana bentuknya? Bagaimana masing-masing bekerja? Dan bagaimana segenap perasaan berkumpul pada otak?" Masih dalam kitab yang sama Prof. Abdul Razzaq Naufal menulis, 'Terdapat pula organ saraf yang menguasai tubuh secara sempurna dari serat-serat halus yang berjalan secara menyeluruh ke berbagai penjuru bagian tubuh dan berhubungan dengan bagian lainnya yang lebih besar. Saraf pusat ini, apabila ada bagian tubuh yang terpengaruh oleh sesuatu, meski hanya perubahan sederhana saja dari suhu udara yang melingkupinya, maka serat-serat saraf ini akan menyampaikan apa yang dirasakannya itu ke pusat-pusat yang bertebaran di seluruh tubuh. Juga akan menyampaikan apa yang dirasakan itu ke otak sehingga memungkinkannya untuk mengambil tindakan. Isyarat-isyarat dan peringatan-peringatan itu berjalan begitu cepat di dalam saraf dengan kecepatan seratus meter dalam sedetik.

" Dalam kitab Al-Ilmu Yad'u ilal-Iman ditulis, "Kalau kita perhatikan pencernaan sebagai suatu aktivitas di perusahaan kimia, dan kita perhatikan makanan yang kita makan sebagai benda-benda yang tidak perlu diperhatikan, niscaya akan kita dapati bahwa sistem kerja pencernaan ini merupakan sistem kerja yang mengagumkan. Karena, ia hampir mencerna segala sesuatu yang dimakan selain perut besar itu sendiri. Pertama-tama kita letakkan di perusahaan ini bermacam-macam makanan sebagai benda yang tidak perlu mendapat perhatian dan tanpa dijaga bagaimana kerjanya sendiri nanti. Atau, tanpa di-pikirkan bagaimana sistem kerja kimiawi pencernaan itu terhadapnya. Kita makan beberapa kerat daging, kubis, nasi, dan ikan goreng, lalu kita dorong dengan air sekadarnya.

 Di antara barang-barang campuran itu, usus besar memilih mana-mana yang berguna, dengan menghancurkan semua jenis makanan hingga bagian kimiawi terakhirnya tanpa melindungi sisa sisa makanannya. Sisanya dibentuk kembali menjadi protein-protein baru, yang menjadi makanan bagi bermacam-macam sel. Alat pencernaan itu memilih sendiri kalsium, sulfat, yodium, zat besi, dan zat-zat lain yang sangat diperlukan tanpa menghilangkan bagian-bagian yang esensial. Diproduksinya hormon-hormon dan semua kebutuhan vital bagi kehidupan agar terpenuhi dengan ukuran yang teratur, dan siap menghadapi semua keperluan vital. Ia juga menyimpan zat minyak dan materi-materi perlindungan dan pemeliharaan lainnya, untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi seperti lapar. Organ ini bekerja seperti itu terlepas apakah manusia memikirkannya atau tidak.

 Kami kemukakan aneka macam materi yang tak terhitung di "pabrik kimiawi" ini dengan melihat secara global terhadap hal-hal yang dekat kepada kita, yang bekerja secara otomatis demi kelangsungan hidup kita. Ketika makanan-makanan ini terurai dan selalu mengalami kebaharuan, maka ia terus melakukan pembentukan terhadap sel-sel dalam jumlah berbiliun-biliun. Sehingga, jumlahnya melebihi jumlah seluruh manusia di muka bumi ini sendiri. Setiap sel itu mendapatkan suplai tersendiri secara kontinyu. Tidak disuplaikan selain materi-materi yang dibutuhkan oleh sel itu sendiri untuk mengubahnya menjadi tulang, kuku, daging, rambut, mata, dan gigi, sebagaimana yang diterima oleh sel-sel khusus.

 Di sinilah pabrik kimiawi itu memproduksi materi-materi yang lebih banyak daripada yang diproduksi oleh pabrik yang dihasilkan oleh kecerdasan manusia. Di sini terdapat sistem untuk melakukan suplai zat-zat yang lebih hebat daripada sistem manapun untuk mentransfer atau pendistribusian yang dikenal oleh dunia, dan setiap sesuatu padanya berjalan sempurna sesuai dengan aturannya." Setiap organ dan peralatan tubuh manusia patut mendapatkan pembahasan panjang lebar. Akan tetapi, organ-organ yang dibicarakan secara singkat kadang-kadang ada bentuknya yang sama dengan binatang. Hanya saja ia memiliki kekhasan aqliyah dan ruhiah yang unik dan mendapatkan penekanan dalam surat ini sebagai nikmat Allah dengan sifat khusus, "Yang telah menciptakan kamu lalu menyem-purnakan kejadianmu, dan menjadikan (susunan tubuh)¬ mu seimbang" sesudah firman-Nya, 'Hai manusia.... "

 Inilah pengetahuan akal kita yang khas, yang kita tidak mengetahui esensinya. Karena, akal ini me¬rupakan alat bagi kita untuk mengetahui apa yang kita pikirkan. Sedangkan, akal itu sendiri tidak me¬ngetahui tentang dirinya dan tidak mengetahui bagai¬mana ia bisa mengerti atau mengetahui sesuatu.

 Perangkat-perangkat pengetahuan ini semua berhubungan ke otak melalui saraf yang lembut, tetapi di mana ia disimpan? Seandainya otak ini berupa kaset, niscaya di celah-celah enam puluh tahunan yang merupakan pertengahan umurnya ini manusia memerlukan berjuta-juta meter pita untuk mencatat semua memori, bayangan, kalimat, pengertian-pengertian, perasaan-perasaan, dan kesan-kesan. Tujuan agar ia dapat mengingat dan menyebutkannya sesudah itu, sebagaimana ia dapat menyebutkannya (apa yang ada dalam memori otaknya) setelah berpuluh-puluh tahun (tanpa ada pita kaset padanya).

 Kemudian bagaimana dapat disusun antara perkataan-perkataan, pengertian-pengertian, peristiwa peristiwa, dan bayangan-bayangan yang tersendiri, untuk menjadikannya sebagai pengetahuan yang lengkap, lalu meningkat dari ma'lumat benda-benda atau sesuatu yang diketahui menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat teoretis, dari mudrakat menjadi idrak dan dari tajarub 'perjalanan' menjadi ma rifah?

 Inilah salah satu keistimewaan manusia yang membedakannya dari makhluk lain. Namun demikian, ini bukanlah kekhasannya yang paling besar dan keistimewaannya yang paling tinggi. Karena di sana terdapat percikan sinar yang mengagumkan dari ruh ciptaan Allah. Di sana terdapat ruh insani yang khas, yang menghubungkan eksistensi manu¬sia ini dengan keindahan alam wujud dan keindahan Pencipta alam wujud. Kemudian memberinya kilasan-kilasan pandangan yang cemerlang dari hubungannya dengan Yang Maha Mutlak yang tidak terbatas, sesudah berhubungan dengan cahaya keindahan di alam semesta.

Innate ruh yang manusia sendiri tidak mengetahui esensinya dan yang memberinya sinar-sinar kegembiraan dan kebahagiaan yang tinggi hingga ia di atas bumi ini sekalipun. Tahukah ia apakah yang lebih dekat padahal ruh ini pulalah yang mengetahui apa-apa yang diketahui secara indrawi? Ruh pula yang menghubungkannya dengan makhluk alam atas. Juga yang menyiapkan dirinya untuk menempuh hidup yang dilukiskan dengan kehidupan surga dan keabadian dan untuk memperhatikan keindahan Ilahi di alam yang membahagiakan itu.

 Ruh ini merupakan karunia Allah yang terbesar bagi manusia. Dengan adanya ruh innate ia menjadi "insan", dan dengan sebutan innate Allah berfirman kepadanya, "Yaa ayyuhal insaan ... 'Hai manusia...'." Dengan itu pula Allah mencelanya dengan celaan yang memalukan, "Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?
"Suatu celaan langsung dari Allah kepada manusia. Allah swt memanggilnya, lalu ia berhenti di hadapan-Nya dengan sikap tak acuh, berbuat dosa, teperdaya, tidak menghormati keagungan Allah, dan tidak beradab yang baik terhadap-Nya. Kemudian Allah menghadapinya dengan mengingatkannya kepada nikmat yang sangat besar, tetapi kemudian ia suka mengabaikan kewajiban, tidak sopan, dan te-perdaya. Ini adalah celaan yang mencairkan. Ketika manusia membayangkan hakikat sumber kejadiannya, hakikat siapa yang menginformasikan ini, dan hakikat sikapnya di hadapan Tuhan yang menyerunya dengan sebutan itu, maka kemudian Allah mencelanya dengan celaan seperti ini,
 "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. "

 Sebab-Sebab Keteperdayaan, Hakikat Hisab, dan Balasan yang Berbeda antara Orang yang Berbakti dan yang Durhaka 

Kemudian diungkapkanlah sebab-sebab keteperdayaan dan kedurhakaan manusia, yaitu karena mendustakan hari perhitungan. Kemudian ditetapkanlah hakikat adanya hisab atau perhitungan dan berbedanya pembalasan yang bakal diterima manusia, yang semuanya dikemukakan dalam bentuk penegasan yang intens,


"Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (Malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.( Al Infithaar: 9-16)

 Lafal jis adalah untuk membentak, menakut-nakuti, dan mencegah dari sesuatu yang mereka berada padanya. Sedangkan, lafal …. merupakan kata untuk menunjukkan penyimpangan dari pembicaraan sebelurnnya dan untuk memasukkan nuansa baru dalam pembicaraan itu, nuansa penjelasan, nuansa penetapan, dan nuansa penegasan, yang berbeda dengan celaan, peringatan, dan pelukisan di muka.
 "Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.... "

Kamu mendustakan perhitungan, hukuman, dan pembalasan. Innate yang menyebabkan keteperdayaan dan kesembronoan. Karena itu, tidak mungkin hati yang mendustakan hari perhitungan dan pembalasan dapat istiqamah terhadap petunjuk, kebaikan, dan ketaatan.

 Akan tetapi, kadang-kadang ada hati yang meningkat dan lembut. Lalu, ia taat kepada Tuhannya dan menyembah-Nya dengan penuh kecintaan, bukan karena takut terhadap azab-Nya dan bukan karena mengharapkan pahala-Nya. Namun, ia berbuat begitu hanya karena beriman kepada hari pembalasan dan takut kepadanya. Ia juga selalu mem-bayangkan untuk bertemu dengan Tuhannya yang ia cintai dan rindukan. Adapun ketika manusia benar-benar mendustakan hari pembalasan, maka tidak mungkin ia bersikap sopan dan taat karena tidak ada cahaya baginya. Hati semacam ini tidak mungkin hidup dan nuraninya tidak mungkin bangkit.

 Kamu dustakan hari pembalasan, padahal kamu akan datang ke sana. Semua yang pernah kamu kerjakan akan dihitung dan dipertanggungjawabkan. Tidak ada sesuatu pun yang terabaikan dan terlupakan, "Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah), dan yang mencatat (pekerjaan -pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan."

 Para pengawas itu adalah ruh-ruh yang ditugaskan untuk mengawasi manusia. Yaitu, malaikat-malaikat yang selalu menyertai dan mengawasi mereka serta menghitung segala sesuatu yang timbul dari manusia. Kita tidak mengetahui bagaimana semua ini terjadi, dan kita juga tidak ditugasi untuk mengetahui bagaimana caranya. Karena Allah mengetahui bahwa kita tidak dibekali dengan instrumen untuk mengetahuinya. Juga tidak ada kebaik-annya bagi kita untuk mengetahuinya. Karena, hal itu tidak termasuk dalam tugas kita dan bukan tujuan keberadaan kita. Dengan demikian, tidak penting bagi kita untuk tenggelam di dalam membicarakan sesuatu yang di luar ukuran yang disingkapkan Allah kepada kita dari urusan gaib ini. Cukuplah bagi hati kita sebagai manusia untuk merasakan bahwa kita tidak dibiarkan sia-sia tanpa tugas dan kewajiban serta pertanggungjawaban. Kita rasakan dan sadari juga bahwa bagi kita ada malaikat-malaikat pengawas yang selalu menulis amal perbuatan kita dan mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan. Sehingga, hati kita selalu ingat dan sadar serta bersikap sopan. Nah, inilah tujuan yang dimaksudkan!

 Karena nuansa surat ini adalah nuansa kemurahan dan kemuliaan, maka disebutkanlah di sini sifat-sifat para malaikat pengawas itu bahwa mereka adalah "mulia (di sisi Allah) ". Tujuan penyebutan ini adalah untuk menimbulkan perasaan malu di dalam hati dan bersikap baik di hadapan malaikat-malaikat yang mulia itu. Karena, tabiat manusia ialah merasa sungkan dari lukisan yang realistis dan hidup serta dekat dengan pemahaman manusia.

 Selanjutnya, Al Qur' an menetapkan tempat kembalinya orang-orang yang berbakti dan orang-orang yang durhaka sesudah hisab ini, sesuai dengan catatan para malaikat mulia yang senantiasa menulis perbuatan-perbuatan mereka,

"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar¬-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. " (Al Infithaar: 13-16)

Itulah tempat kembali yang sudah dipastikan dan akibat yang sudah ditetapkan, bahwa orang-orang yang banyak berbakti akan sampai ke surga yang penuh kenikmatan, sedang orang-orang yang durhaka akan sampai ke neraka. Al-birr 'orang yang berbakti' ialah orang yang suka melakukan amalan-amalan kebajikan (albirr) sehingga menjadi kebiasaan dan sifat yang lekat baginya, dan amalan al-birr itu ialah semua kebaikan secara mutlak. Sifat ini bayangannya selaras benar dengan kemuliaan dan kemanusiaan sebagaimana sifat kebalikannya yakni alfujjar 'orang-orang yang durhaka' adalah tidak beradab dan suka bergelimang dalam melakukan dosa dan kemaksiatan. Sehingga, jahim 'neraka' itu serasi benar bagi orang-orang yang durhaka!

Kemudian keadaan mereka bertambah jelas dengan keterangan ayat berikut, "...Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan...." Yang kemudian dipertegas lagi dengan ayat, "Mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu... ' serta tidak dapat lari dan lepas darinya setelah masuk ke dalamnya, walaupun hingga suatu waktu saja.

Maka, sempurnalah sudah penggunaan gaya bahasa pertentangan di dalam menyebutkan antara orang-orang yang banyak berbakti dan orang-orang yang durhaka, antara kenikmatan dan neraka Jahim. Ditambah dengan penjelasan dan penetapan keada¬an orang-orang yang akan masuk neraka itu.

 Pemegang kekuasaan pada hari pembalasan karena hari pembalasan ini menjadi titik sentral pendustaan mereka, maka dibicarakan kembalilah hari ini sesudah dikemukakannya peristiwa yang terjadi sesudahnya. Dibicarakan kembali untuk me¬ netapkan hakikat keberadaannya dan untuk menunjukkan betapa besar dan menakutkannya hari itu yang disebutkannya dengan menunjukkan ketidaktahuan mereka. Disebutkan pula apa yang bakal menimpa diri manusia, yaitu kelemahan total dan keterlepasan sama sekali dari pertolongan seseorang dan dari melakukan tindakan saling menolong. Juga ditetapkan kesendirian Allah terhadap semua urusan pada hari yang amat sulit itu,

"Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. "(A-Infithaar: 17-19)

Pertanyaan dengan menyebutkan ketidaktahuan yang ditanya itu biasa terjadi dalam Al Qur' an. Gaya penuturan seperti ini akan menimbulkan kesan dalam hati bahwa urusan yang ditanyakan itu sangat besar dan melebihi jangkauan pengetahuan manusia yang terbatas, melebihi apa yang dibayangkan, melebihi segala kenyataan yang pernah ada, dan melampaui kebiasaan. Diulangnya pertanyaan itu semakin menambah besarnya urusan dan peristiwa tersebut.

 Setelah itu, datanglah penjelasan yang selaras dengan lukisan tersebut, ... (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain.... " Manusia berada dalam kelemahan total dan ketidakberdayaan secara totalitas. Kesedihan, kesusahan, dan kesibukan manusia memikirkan dirinya sendiri menjadikannya lupa terhadap orang-orang yang pernah dikenalnya selama ini.

 "Segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. " (A1-Infithaar: 19)

Hanya Allah sendiri yang mengurusnya. Sebetulnya segala urusan di dunia dan akhirat hanyalah Allah sendiri yang menguasainya. Akan tetapi, pada hari pembalasan, hakikat ini tampak begitu jelas, yang kadang-kadang di dunia dilupakan oleh orang-orang yang lupa dan teperdaya. Maka, pada hari itu tidak ada lagi keraguan dan ketersembunyian dari orang yang tertipu dan terfitnah. Sungguh serasi penyebutan-peristiwa besar, diam, menyedihkan, dan agung pada ujung surat ini dengan peristiwa besar yang bergerak, bergejolak, dan menggoncangkan yang disebutkan pada permulaan surat. Terhimpitlah perasaan di antara dua peristiwa besar itu, yang kedua-duanya sangat membingungkan, mengerikan, dan menakutkan. Di antara ke-duanya terdapat celaan yang tinggi, memalukan, dan mencairkan perasaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar