bintang


Senin, 14 November 2011

Tafsir Surah At-Thariq

والسماء والطارق(1) وما أدراك ما الطارق(2) النجم الثاقب(3) إن كل نفس لما عليها حافظ(4) فلينظر الإنسان مم خلق(5) خلق من ماء دافق(6) يخرج من بين الصلب والترائب(7) إنه على رجعه لقادر(8) يوم تبلى السرائر(9) فما له من قوة ولا ناصر(10) والسماء ذات الرجع(11) والأرض ذات الصدع(12) إنه لقول فصل(13) وما هو بالهزل(14) إنهم يكيدون كيدا(15) وأكيد كيدا(16) فمهل الكافرين أمهلهم رويدا(17) الطارق: ١ - ١٧  

Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (yaitu) Bintang yang cahayanya menembus. Tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar Kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampakkan segala rahasia. Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatanpun dan tidak (pula) seorang penolong. Demi langit yang mengandung hujan. Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bAth il. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar. (Ath Thaariq : 1-17)

Pengantar
Dalam mukadimah juz ini telah kami kemukakan bahwa surat-surat dalam juz ini menggambarkan ketukan-ketukan yang berturut-turut untuk mengetuk perasaan manusia; jalan-jalan yang keras, kuat, dan tinggi; dan teriakan-teriakan yang menggugah orang-orang yang terlelap dalam tidur. Ketukan-ketukan dan teriakan-teriakan itu terus-menerus mengetuk perasaan mereka dengan kesan yang sama, dan juru peringatan yang lama. "Bangunlah! Sadarlah! Lihatlah! Perhatikanlah! Pikirkanlah! Renungkanlah bahwa di sana ada Tuhan, rancangan, dan pengaturan! Tetapi, di sana juga ada ujian, tanggung jawab, hisab atau pemeriksaan dan pembalasan, serta azab yang pedih dan nikmat yang besar!"

  Penjelasan ini adalah salah satu contoh yang jelas bagi kekhususan-kekhususan itu. Kesannya tajam, seiring dengan jenis pemandangannya, jenis nuansa musikalnya, bunyi lafalnya, dan isyarat makna-maknanya. Di antara pemandangan-pemandangannya ialah sesuatu yang datang pada waktu malam, bintang yang cahayanya menembus, air yang terpancar, hujan, dan tumbuh-tumbuhan. Dan, di antara ma'aninya 'aspek immateriilnya' adalah penjagaan terhadap setiap jiwa (Ath Thaariq: 4), tiadanya kekuatan dan penolong (Ath Thaariq: 9-10), kesungguhan dan keseriusan (Ath Thaariq: 13-14) dan ancaman di dalamnya yang sesuai dengan tabiat mereka (Ath -Thaariq: 15-17)

  Hampir-hampir surat ini mengandung apa saja yang diisyaratkan di dalam mukadimah juz ini, bahwa "di sana ada Tuhan, pemberi peringatan, takdir, ujian, pertanggungjawaban, hisab dan pembalasan, dan sebagainya". Di antara pemandangan-pemandangan alam dan hakikat-hakikat tema surat ini, juga terdapat keserasian yang mutlak dan lembut serta memerlukan perhatian. Semuanya tampak jelas dalam untaian surat dengan susunan Qur'aninya yang indah.  

Langit dan Bintang Yang Cahayanya Menembus serta Jiwa dan Penjaganya
"Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu, apakah yang datang pada malam hari itu ? (Yaitu) Bintang yang cahavanya menembus. Tidak ada suatu jiwa (diri) pun melainkan ada penjaganya. "(Ath Thaariq: 1-4)

Sumpah ini meliputi pemandangan alam dan hakikat keimanan. Ia dimulai dengan menyebut langit dan bintang yang datang pada malam hari. Kemudian diulang lagi dengan menggunakan kata tanya sebagaimana yang biasa dipergunakan dalam ung-kapanAl-Qur'an, "Tahukah kamu, apakah yang datang pada malam hari itu?"Seakan-akan ia adalah suatu urusan tersendiri di balik pemikiran dan pengetahuan. Kemudian dibatasinya pada bintang tertentu. Akan tetapi, tidak ada jalan untuk menentukan jenis bintang itu dalam nash ini, dan tidak penting pula untuk menentukan batasannya. Bahkan, penyampaian secara mutlak itu iebih utama bagi maknanya.

Demi langit dan bintangnya yang cahayanya menembus kegelapan, yang menembus dari balik dinding yang menutupi segala sesuatu. Isyarat ini menunjukkan seputar hakikat surat dan seputar pemandangan-pemandangannya yang lain, sebagaimana akan dibicarakan. Allah bersumpah dengan langit dan bintang yang cahayanya menembus, bahwa setiap jiwa memiliki penjaga yang diperintahkan Allah untuk mengawasinya,

'Tidak ada suatu jiwa (diri) pun melainkan ada penjaganya. "(Ath Thaariq: 4) 

Ungkapan dengan redaksi semacam ini memiliki makna penegasan yang sungguh-sungguh, bahwa tidak ada satu pun jiwa melainkan pasti ada penjaganya yang mengawasi, menghitung, dan menjaganya. Penjaga yang diserahi tugas-tugas itu atas perintah Allah, dan untuk membantu jiwa. Karena, ia merupakan tempat penyimpanan rahasia-rahasia dan pemikiran-pemikiran. Juga karena semua amal dan pembalasan tergantung pada jiwa ini. Dengan demikian, di sana tidak ada kekacauan dan kotoran. Manusia tidaklah dibiarkan bebas tanpa pengawas: Mereka tidak dibiarkan melakukan apa saja dengan anggota-anggota fisiknya tanpa penjagaan, dan tidak dibiarkan berbuat apa saja tanpa pengawas. Akan tetapi, ia disertai dengan pengawasan dan penilaian yang amat cermat secara langsung. Ia akan dihisab sesuai dengan pengawasan yang cermat dan langsung ini.

Nash ini juga memberikan kesan yang menakutkan karena setiap jiwa merasa bahwa dia tidak sendirian, meskipun jauh dari orang lain. Karena, di sana ada yang menjaga dan mengawasinya ketika dia sedang sendirian dan terlepas dari pengawas (manusia), tersembunyi dari semua mata, dan aman dari semua ketukan. Di sana ada penjaga yang membelah semua tutup dan menembus semua tabir, sebagaimana bintang yang cahayanya menembus tirai malam yang menutupi. Yah, ciptaan Allah ini satu jua modelnya, dan sangat serasi dalam jiwa dan alam semesta.

Hendaklah Manusia Memperhatikan Kejadiannya
  Selesai memberikan sentuhan semesta kepada jiwa ini, dilanjutkan dengan sentuhan lain yang menguatkan hakikat takdir dan pengaturan IIahi, yang Dia bersumpah atasnya dengan langit dan bintang yang datang pada waktu malam. Maka, inilah kejadian pertarna manusia yang menunjukkan hakikat itu. Juga yang memberi isyarat dan kesan bahwa manusia tidak dibiarkan tersia-sia, tidak dibiarkan terabaikan,

"Hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari tulang sulbi dan tulang dada. " (Ath Thaariq: 5-7)

Hendaklah manusia memperhatikan, dari apa dia diciptakan dan ke mana dia akan kembali. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari tulang sulbi dan tulang dada. Dia diciptakan dari air yang memancar dari tulang sulbi laki-laki, yaitu dari tulang-tulang punggungnya dan tulang-tulang dada wanita sebelah atas. Sesungguhnya ini merupakan rahasia tersembunyi dalam ilmu Allah yang tidak diketahui oleh manusia. Namun, setengah abad terakhir dengan adanya penyelidikan ilmu pengetahuan modern yang menyingkap hakikat ini dengan metodenya, barulah diketahui bahwa di tulang-tulang belakang lelaki inilah terbentuknya sperma laki-laki, dan di tulang-tulang dada sebelah atas itu terbentuk air mani wanita. Keduanya bertemu dalam tempat yang kokoh (rahim) yang dari situ kemudian tercipta manusia.

Jarak yang jauh antara tempat penciptaan dan tempat kembali, antara air yang memancar dari sulbi laki-laki dan tulang dada wanita, dengan manusia yang mengerti dan memikirkan serta merenungkan susunan anggota tubuh, saraf, pikiran, dan jiwanya, diungkapkan dengan air yang memancar kepada manusia yang berpikir. Hal ini memberi kesan bahwa di sana, di luar diri manusia, terdapat tangan yang mendorong benda cair (sperma) yang tidak berarti, tidak punya kehendak, dan tidak memiliki kekuasaan apa pun untuk melalui tahapan yang panjang dan mengagumkan. Sehingga, sampai menjadi makhluk yang ideal seperti ini.

  Selain itu juga memberikan isyarat bahwa di sana ada penjaga yang dengan perintah Allah bertugas menjaga nuthfah 'sperma dan ovum' yang belum berbentuk, belum berakal, belum berkehendak, dan belum berkemampuan apa-apa, dalam tahapan perjalanannya yang panjang dan mengagumkan. Semua ini mengandung keajaiban-keajaiban berkali lipat daripada keajaiban yang dialami manusia setelah kelahiran hingga kematiannya. Sebuah sel yang dibuahi yang hampir-hampir tidak terlihat dengan mikroskop sekalipun, tiba-tiba ia mengembangkan berjuta-juta sel dalam sekali perjalanannya.

Makhluk yang tidak berharga, tidak berakal, tidak berkemampuan, dan tidak berkehendak ini, keadaannya dimulai dengan semata-mata ditetapkan keberadaannya di dalam rahim dalam suatu sistem kerja tanpa berbekal makanan apa apa. Ia dibekali oleh tangan penjaga dengan makanan khusus dengan cara mengubah dinding rahim dan sekitarnya menjadi kolam darah yang terus mengalir dan menyediakan makanan yang segar. Hanya dengan semata-mata berkonsentrasi pada makanannya itu, ia mulai melakukan aktivitas baru. Yaitu, aktivitas pembelahan yang terus-menerus untuk membuat sel-sel darinya.

Makhluk sederhana yang belum punyai nilai, pikiran, kemampuan, dan kehendak ini sudah mengerti apa yang harus ia perbuat dan kehendaki. Karena, ia dibekali oleh 'tangan pembimbing' dengan petunjuk, pengetahuan, kemampuan, dan kehendak yang dengan begitu ia mengetahui jalan yang harus ditempuhnya (dalam perkembangannya). Ia ditugasi untuk melakukan spesialisasi terhadap masing-masing himpunan sel-sel yang baru ini untuk membangun sebuah pilar dari pilar-pilar bangunan yang besar, bangunan fisik manusia. Maka, himpunan sel yang ini bekerja membuat bangunan tulang-tulang, himpunan yang itu bekerja membuat sarana otot-otot. Kelompok ini membangun perangkat saraf, kelompok sel itu membangun perangkat limpa dan seterusnya dalam membuat pilar-pilar pokok bangunan manusia!

Akan tetapi, kerja ini tidak sesederhana itu saja. Karena, di balik itu masih ada pengkhususan yang lebih lembut lagi, dan setiap tulang dari tulang-tulang itu, setiap otot dari otot-otot itu, dan setiap saraf dari saraf-saraf itu tidak sama dengan yang lain. Karena bangunan itu amat lembut ciptaannya, amat mengagumkan kejadiannya, dan beraneka macam tugasnya. Dari sana, masing-masing kelompok saraf yang bebas belajar membangun pilar bangunan, dengan melakukan pembagian tugas secara khusus. Masing-masing kelompok melaksanakan tugasnya sesuai dengan bidang kerjanya dalam membangun pilar khusus bagi bangunan besar itu.

Setiap sel yang kecil itu mengetahui jalan yang harus ditempuhnya. Ia tahu ke mana ia pergi dan apa yang ditugaskan padanya untuk dilakukan. Tidak ada satu pun sel yang salah jalan dalam bangunan yang tinggi dan besar ini. Karena itu, sel yang bertugas membuat mata, maka ia tahu bahwa mata itu harus diletakkan di wajah, tidak boleh di perut, kaki, atau bahu. Setiap tempat dari tempat-tempat itu pun layak menjadi tempat pertumbuhan mata. Seandainya sel pertama yang ditugasi membuat mata ini berada di suatu tempat pada tubuh, niscaya ia akan membuat mata di sana. Tetapi, ia sendiri ternyata tidak mau pergi kecuali ke tempat yang khusus untuk mata dalam bangunan fisik manusia. Maka, siapakah gerangan yang telah berkata kepadanya, "Sesungguhnya perangkat ini membutuhkan mata di tempat ini, bukan di tempat lainnya?" Dia adalah Allah. Dialah Penjaga Yang Maha Tinggi, yang memelihara, mengarahkan, dan menunjukkannya kepada jalannya di padang luas yang tidak ada yang dapat memberikan petunjuk padanya kecuali Allah.

Semua sel itu, masing-masing atau kolektif, bekerja dalam bingkai yang ditentukan untuknya dengan sejumlah sel tertentu yang merupakan kelompoknya, yang tersembunyi di dalamnya. Yaitu, kesatuan-kesatuan yang turun-temurun, yang memelihara kelangsungan jenis dan kekhususan-kekhususan pendahulunya. Maka, sel mata terbagi dan berkembang banyak untuk membentuk mata. Di dalam kerjanya, sel itu berusaha membentuk mata khusus untuk mata manusia, bukan mata binatang atau makhluk hidup lainnya. Manusia dengan para pendahulunya memiliki bentuk mata tertentu dan kekhususan-kekhususannya. Sedikit saja penyimpangan dari ketentuan baku mata ini, baik dari segi bentuknya maupun segi-segi lainnya, akan membuatnya menyimpang dari garis yang sudah ditentukan.

Maka, siapakah gerangan yang telah memberi sel ini kemampuan seperti itu, dan mengajarinya sedemikian rupa? Padahal dia hanya sebuah sel sederhana yang tidak punya akal, pengetahuan, kehendak, dan kekuatan? Sesungguhnya yang memberikan semua itu adalah Allah. Dia mengajarkan kepadanya apa yang tidak dapat dilakukan oleh seluruh manusia untuk membuat sebutir mata atau sebagiannya saja. Sedangkan sebuah sel atau sejumlah sel yang sederhana dapat melakukan pekerjaan yang besar ini.

Di balik gambaran sepintas kilas tentang gambaran-gambaran perjalanan yang panjang dan mengagumkan antara air yang memancar dan manusia yang berpikir ini, tersimpan sejumlah keajaiban dan keanehan yang tidak terhitung dalam perangkat-perangkat dan anggota-anggota yang istimewa, yang tidak dapat dihitung jumlahnya dalam tafsir Azh Zhilal ini. Semua hal itu menjadi saksi atas adanya ketentuan dan pengaturan Ilahi. Juga menunjukkan adanya tangan yang memelihara, yang memberi petunjuk dan pertolongan. Hal ini dikuatkan dengan hakikat pertama yang Allah bersumpah dengan langit dan bintang yang datang pada waktu malam, sebagaimana hal ini juga sebagai pengantar bagi hakikat yang kedua. Yaitu, hakikat penciptaan terakhir (di akhirat) yang tidak dibenarkan oleh kaum musyrikin, orang-orang yang pertama kali diajak bicara dalam surat ini.

Allah Berkuasa Menghidupkan Manusia Sesudah Mati  

"Sesungguhnya Allah benar-benar berkuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari ditampakkan segala rahasia. Maka, sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath Thaariq: 8-10)

Sesungguhnya Allah Ta'ala yang telah menciptakan dan memeliharanya itu benar-benar berkuasa mengembalikan manusia kepada kehidupan sesudah mati, memperbaruinya lagi setelah rusak. Penciptaan pertama kali itu menjadi saksi akan kemahakuasaan Allah, sebagaimana ia juga menjadi saksi atas penentuan dan pengaturan-Nya. Penciptaan yang agung dan cermat ini akan hilang hikmahnya dan sia-sia kalau nanti tidak ada penghidupan kembali untuk menampakkan rahasia-rahasia dan memberikan balasan yang setimpal kepadanya,  

"Pada hari ditampakkan segala rahasia. " (Ath Thaariq: 9)

Rahasia-rahasia yang tersembunyi, yang terlipat di atas rahasia-rahasia yang tertutup. Pada hari itu akan ditampakkan dan diperlihatkan sehingga terungkap dan tampak jelas, sebagaimana cahaya bintang menembus celah-celah malam yang tertutup kegelapan. Juga sebagaimana penjaga menembus jiwa yang dilapisi dengan bermacam-macam firm. Semua rahasia akan ditampakkan pada hari ketika manusia sudah dilucuti dari segenap kekuatan dan penolong,

"Maka, sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong. " (Ath Thaariq: 10)

Ia tidak mempunyai kekuatan dari dalam diri sendiri, dan tidak mempunyai penolong dari luar dirinya. Penampakan rahasia dari semua firm dan pelucutan manusia dari semua kekuatan, menambah ketercekaman semakin berat, dan memberikan sentuhan yang amat dalam pada perasaan. Ini adalah peralihan dari alam dan jiwa, kepada penciptaan manusia dan tahapan-tahapannya yang mengagumkan. Kemudian, kepada ujung perjalanannya di sana (akhirat), ketika tirainya tersingkap dan rahasianya terbuka. Sedangkan, ia sudah lepas dari segenap kekuatan dan penolong.

Perhatikan Langit Yang Mengandung Hujan dan Bumi dengan Tumbuh-Tumbuhannya

  Barangkali masih ada sedikit keraguan dan kebimbangan yang tersisa dalarn jiwa, mengenai kepastian bakal terjadinya semua ini. Karena itu, ditetapkanlah dengan tegas bahwa informasi ini adalah kata pasti. Dihubungkanlah kepastian ini dengan pemandangan-pemandangan alam, sebagaimana vanag disebutkan pada permulaan surat tadi,
"Demi langit yang mengandung hujan, dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. "(Ath Thaariq: 11-14)

Raj'i adalah hujan yang dikembalikan langit secara berulang-ulang, satu kali sesudah kali lain. Shad'i adalah tumbuh-tumbuhan yang membelah bumi dan muncul darinya. Kedua hal ini menggambarkan suatu pemandangan tentang kehidupan dalam salah satu bentuknya. Kehidupan tumbuh-tumbuhan dan kejadiannya yang pertama. Yaitu, air yang memancar dari langit, dan tumbuhan yang muncul dari dalam bumi. Serupa benar dengan air (sperma) yang memancar dari tulang sulbi dan tulang dada, alam janin (embrio) yang muncul dari kegelapan rahim.

Kehidupan adalah kehidupan, pemandangan adalah pemandangan, dan gerakan adalah gerakan. Semuanya sebagai aturan yang tetap dan ciptaan yang menjadi pertanda. Juga menunjukkan kepada adanya Yang Maha Pencipta, yang tidak seorang pun dapat menyamainya, baik dalam hakikat ciptaan itu maupun dalam bentuk lahirnya! Itu adalah pemandangan yang mirip dengan sesuatu yang datang pada malam hari. Yaitu, bintang yang cahayanya menembus, yang membelah tutup-tutup dan tirai-tirai. Hal ini sebagaimana ia juga serupa dengan ditampakkannya segala rahasia dan disingkapnya semua tabir, sebuah penciptaan yang menunjukkan adanya Yang Maha Pencipta!

Allah bersumpah dengan kedua makhluk dan kedua peristiwa ini. Yaitu, langit yang mengandung hujan dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Pemandangan dan isyarat-isyarat dari keduanya memberikan kesan sebagaimana kesan yang diberikan oleh bunyi kalimat itu sendiri, dengan keras, tegas, dan pasti. Allah bersumpah bahwa firman yang menetapkan adanya kehidupan kembali dan penampakan rahasia-rahasia ini, atau bahkan seluruh isi Al Qur'an secara umum, adalah kata pasti, bukan senda gurau. Kata pasti yang menyudahi semua perkataan, semua ban-tahan, semua keraguan, dan semua kebimbangan. Kata pasti yang tidak ada perkataan lain lagi sesudah itu (yang bertentangan dengan itu) yang dapat diterima. Hal ini disaksikan oleh langit yang mengandung hujan dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan!

Rencana Allah dan Rencana Mereka 

Di bawah bayang-bayang kata pemutus yang menerangkan adanya kehidupan kembali sesudah mati dan akan ditampakkannya segala rahasia manusia, maka firman berikutnya ditujukan kepada Rasulullah saw dan para pengikut beliau, golongan minoritas mukmin di Mekah. Kaum mukminin berjuang dengan susah payah menghadapi tipu daya kaum musyrikin dan persekongkolan jahat mereka terhadap dakwah dan orang-orang yang beriman kepadanya. Yaitu, orang-orang yang selalu berada dalam kesedihan dan kesulitan karena tipu daya dan rencana musuh-musuhnya yang selalu menghalang-halangi jalannya dan berusaha merobohkan dakwahnya dengan berbagai sarana.

Firman ini ditujukan kepada Rasulullah saw untuk memantapkan dan menenangkan hati beliau. Juga untuk memandang kecil terhadap tipu daya dan orang-orang yang membuat tipu daya itu, yang hanya akan berjalan hingga suatu waktu tertentu saja. Sedangkan, peperangan itu sebenarnya berada di tangan-Nya dan di bawah komando-Nya. Oleh karena itu, hendaklah Rasul dan orang-orang mukmin bersabar dan tenang,

"Sesungguhnya orang-orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Aku pun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. Karena itu, beri tangguhlah orang-orang kafir itu, yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar. " (Ath -Thaariq: 15-17)

Sesungguhnya orang-orang yang diciptakan dari air yang memancar dari antara tulang sulbi (laki-laki) dan tulang dada (wanita), tidak memiliki daya, kekuatan, kekuasaan, kehendak, pengetahuan, dan petunjuk. Mereka dijaga oleh tangan kekuasaan di dalam perjalanannya yang panjang. Mereka akan dihidupkan kembali setelah mati dan ditampakkan segala rahasianya pada hari itu, sedang mereka tidak memiliki kekuatan apa pun dan tidak memiliki penolong seorang pun. Sesungguhnya mereka itulah yang membuat tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya.

Allah Yang menciptakan, Yang memberi petunjuk, Yang memelihara, Yang mengarahkan, Yang mengembalikan, Yang menguji, Yang menampakkan segala rahasianya, Yang berkuasa, Yang berkuasa memaksa, Pencipta langit dan bintang yang datang pada malam hari, Pencipta air yang memancar, Pencipta manusia yang berpikir, Pencipta langit yang mengandung hujan dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Allahlah yang membuat rencana dengan sebenar-benarya pula. Itu rencana mereka, alam ini rencana Allah! Inilah peperangan sebenarnya yang pada hakikatnya berujung pada satu ujung, meskipun digambarkan dengan dua ujung karena semata-mata untuk menghina dan merendahkan mereka.

"Karena itu, beri tangguhlah orang-orang kafir itu, yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar. "

  Janganlah kamu tergesa-gesa dan menganggap lambat selesainya peperangan itu, padahal kamu sudah mengetahui tabiat dan hakikat peperangan tersebut karena terdapat hikmah di balik pemberian tangguh itu. Pemberian tangguh yang sebentar, hanya sampai habisnya umur kehidupan dunia. Apa sih artinya umur kehidupan dunia dibandingkan dengan masa yang kekal abadi dan tidak diketahui ujungnya itu?

Kita perhatikan kalimat IIahi untuk menenangkan Rasulullah saw,

"Karena itu, beri tangguhlah orang-orang kafir itu, yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar. "

 Seolah-olah Rasulullah saw ini pemilik urusan itu, pemilik izin, dan yang memberi izin untuk memberi tangguh kepada mereka, atau pemberi persetujaan untuk memberi tangguh kepada mereka. Padahal, semua ini sama sekali bukan dari Rasulullah, melainkan hanya untuk menenangkan beliau. Juga untuk menunjukkan kasih sayang Allah kepada beliau dalam kondisi seperti ini yang sangat membutuhkan tebaran rahmat untuk menenangkan dan menghibur hatinya, dengan terpenuhinya keinginannya dan atas kehendak Tuhannya.

  Diikutsertakannya beliau dalam urusan ini seakan akan beliau mempunyai andil. Diangkatlah pemisah-pemisah dan penghalang-penghalang antara beliau dan pelataran IIahiah yang di sana diputuskan dan ditetapkan suatu urusan. Seakan-akanTuhannya berfirman kepadanya,  

"Sesungguhnya engkau diberi wewenang bertindak terhadap mereka. Akan tetapi, beri tangguhlah mereka, beri tangguhlah barang sebentar.... "

Maka, ini adalah kasih sayang yang halus dan pemberian hiburan yang lembut, yang menghapuskan penderitaan, kepayahan, dan tipu daya itu. Sehingga, semuanya terhapus dan meleleh, dan tinggallah kelembutan dan kasih sayang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar