bintang


Kamis, 09 April 2015

HADITS KETUJUH (DIEN ITU NASIHAT)



Dari Tamim Ad-Dari ra bahwa Nabi saw bersabda,

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ ثَلاَثًا. قُلْناَ: لِمَنْ ياَ رَسُوْلَ اللهِ ؟ قاَلَ: لِلَّهِ وَلِكِتاَبِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِاَءِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعاَمَّتِهِمْ.

“Agama adalah nasihat-beliau bersabda seperti itu hingga tiga kali-. “Kami berkata, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?”Nabi saw bersabda, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.
(Diriwayatkan muslim).
 
Hadits di atas diriwayatkan muslim dan riwayat Suhail bin Abu Shalih dari Atha’ bin Yazid Al-Laitsi dari Tamim Ad-Dari. Hadits tersebut juga diriwayatkan dari Suhail dan lain-lain dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw. At- Tirmidzi meriwayatkan hadits tersebut dari jalur seperti itu. Ada ulama yang menshahihkan hadits tersebut dari kedua ja­lur di atas. Ada ulama yang berkata, “Hadits yang shahih ialah hadits riwayat Tamim, sedang sanad hadits lainnya tidak benar.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan dari hadits Ibnu Umar, Tsauban, Ibnu Abbas, dan lain-lain dari Nabi saw. Al Hafidz Abu Nu’aim berkata, “Hadits di atas mempunyai urgensi tinggi. Muhammad bin Aslam Ath-Thusi berkata bahwa hadits tersebut salah satu dari seperempat agama.”

Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Hudzaifah bin Al Yaman ra dari Nabi saw yang bersabda,

“Barang siapa tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, ia tidak termasuk b وخرَّج الطبراني من حديث حُذيفة بن اليمان عن النبي r قال : " من لا يهتمُّ بأمر المُسلمين ، فليس منهم ، ومَنْ لَمْ يُمسِ ويُصبح ناصحاً لله ولرسوله ولكتابه ولإمامه ، ولعامَّة المسلمين فليس منهم " ([1]) .
agian dari mereka. Barang siapa pada sore dan pagi hari tidak memberi nasihat untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, imam-Nya, dan seluruh kaum muslimin, ia tidak termasuk bagian dari mereka.”

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Abu Umamah ra dari Nabi saw yang bersabda,
وخرَّج الإمامُ أحمد من حديث أبي أمامة ، عن النبي r ، قال : " قال الله عزّ وجل : أحبُّ ما تعبَّدني به عبدي النصحُ لي " ([2]).

“Allah Azza wa Jalla  berfirman, ‘Sesuatu yang digunakan hamba-Ku untuk beribadah kepada-Ku yang paling Aku cintai ialah nasihat untuk-Ku.”

وقد ورد في أحاديث كثيرة النصح للمسلمين عموماً ، وفي بعضها
Banyak sekali hadits tentang nasihat untuk kaum muslimin secara umum. Di sebagian hadits disebutkan,
: ا لنصح لولاة أمورهم
 “Nasihat untuk para pemimpin mereka.

Di sebagian hadits disebutkan,
: نصح ولاة الأمور لرعاياهم .
“Nasihat para pemimpin kepada rakyat mereka.”

Tentang hadits nasihat untuk kaum muslimin secara umum, di Shahih Al-­Bukhari dan Shahih muslim disebutkan hadits dari Jarir bin Abdullah yang berkata,
، ففي " الصحيحين " عن جرير بن عبد الله قال : بايعت النبي r على إقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، والنص لكل مسلم([3]).

“Aku berbai’at kepada Nabi saw untuk mendirikan shalat, membayar zakat, dan menasihati setiap orang muslim.”
           
Di Shahih muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw yang bersabda, “Hak orang mukmin atas orang mukmin lainnya ada enam. “Beliau menyebutkan salah satunya, “Jika ia meminta nasihat kepadamu, nasihatilah dia.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan dari berbagai jalur dari Nabi saw. Di Al Musnad disebutkan hadits dari Hakim bin Abu Yazid da ayahnya dari Nabi saw yang bersabda,
وفي " المسند " عن حكيم بن أبي يزيد ، عن أبيه ، عن النبي r ، قال : " إذا استنصح أحدكم أخاه ، فلينصح له
“Jika salah seorang dari kalian meminta nasihat kepada saudaranya, hendaklah saudaranya menasihatinya. “
           
Tentang hadits kedua yaitu nasihat untuk para pemimpin dan nasihat mereka kepada rakyat, di Shahih muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw yang bersabda,
في " صحيح مسلم " عن أبي هريرة عن النبي r قال : " إن الله يرضى لكم ثلاثاً : يرضى لكم أن تعبُدوه ولا تُشركوا به شيئاً ، وأن تعتصموا بحبل الله جميعاً ولا تفرقوا ، وأن تُناصِحوا من ولاة الله أمركم([4]).
“Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal pada kalian; Dia ridha kalian me­nyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian semua berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai berai dan kalian menasihati orang yang diangkat Allah untuk mengurusi urusan kalian”.

Di Al-Musnad dan lain-lain disebutkan hadits dari Jubair bin Muth’im ra bahwa Nabi saw bersabda di khutbah beliau di Al-Khaif di Mina,
وفي " المسند " وغيره عن جُبير بن مطعم أن النبي r قال في خطبته بالخيف من منى : " ثلاث لا يَغِلُّ عليهن قلبُ امرئ مسلم : إخلاصُ العمل لله ، ومناصحة ولاة الأمر ، ولزومُ جماعة المسلمين " ([5]) . وقد روي هذه الخطبة عن النبي r جماعةٌ منهم أبو سعيد الخُدري .

“Ada tiga hal di mana hati orang muslim tidak berkhianat dengannya; mengikhlaskan amal perbuatan karena Allah, menasihati para pemimpin, dan berada dijama‘ah kaum muslimin.

Khutbah Nabi saw di atas juga diriwayatkan se­jumlah sahabat, di antaranya Abu Sa’id A1-Khudri. Hadits Abu Sa’id Al-Khudri diriwayatkan dengan redaksi lain oleh Ad-Daruquthni di Al-Afrad dengan sanad yang baik. Redaksinya ialah bahwa Nabi saw bersabda,
أن النبي r قال : " ثلاثٌ لا يَغِلُّ عليهن قلبُ امرئ مسلم : النصيحة لله ولرسوله ولكتابه ولعامة المسلمين " ([6]).
“Ada tiga hal di mana hati orang muslim tidak berkhianat dengannya; nasihat untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, dan seluruh kaum muslimin.”

Di Shahih Al Bukhari dan Shahih muslim disebutkan hadits dari Ma’qil bin Yasar ra dari Nabi saw yang bersabda,

وفي " الصحيحين " عن معقل بن يسار عن النبي r قال : " ما من عبد يسترعيه الله رعيةً ثمَّ لم يُحِطها بنصيحة إلا لم يَدْخُل الجنة " .
“Tidaklah seorang hamba yang dipilih Allah untuk memimpin rakyat kemu­dian ia tidak meliputi mereka dengan nasihat, melainkan ia tidak masuk surga.”

Di Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan tentang para Nabi Alaihimus-salam, bahwa mereka menasihati umatnya masing-masing, seperti yang dijelaskan Allah Ta’ala tentang Nabi Nuh dan Nabi Shalih. Allah Ta’ala berfirman,
ليس على الضُّعفاء ولا على المرضى ولا على الذين لا يجدون ما يُنفقون حرجٌ إذا نصحُوا لله ورسوله

“Tidak ada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya (At Taubah: 91).

Maksudnya, barangsiapa tidak bisa berangkat jihad karena udzur, ia tidak dosa karenanya dengan syarat ia memberi nasihat untuk Allah dan Rasul-Nya tentang ketidakmampuannya untuk berangkat jihad, karena orang-orang munafik memper­lihatkan udzur dengan bohong dan tidak berangkat jihad bukan memberi nasihat untuk Allah dan Rasul-Nya.

Nabi saw menjelaskan bahwa agama adalah nasi­hat. Ini menunjukkan bahwa nasihat itu mencakup seluruh bagian-bagian Islam, iman, dan ihsan yang disebutkan di hadits Jibril dan beliau menamakan itu semua sebagai agama, karena nasihat untuk Allah menghendaki seseorang mengerjakan seluruh kewajiban sesempurna mungkin. Itulah derajat ihsan.

Nasihat untuk Allah tidak sempurna tanpa hal tersebut dan tanpa kesempurnaan cinta yang wajib dan sunnah. Nasihat untuk Allah juga menghendaki orang mendekat kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunnah sesempurna mungkin, meninggalkan hal-hal haram dan makruh juga sesempurna mungkin.

Di hadits-hadits mursal Al-Hasan disebutkan dan Nabi saw  bersabda,
“Bagaimana pendapat kalian jika salah seorang dari kalian mempunyai dua budak. Salah seorang dari budak tersebut taat kepadanya jika ia memerintah­kan sesuatu, menunaikan amanah kepadanya jika ia memberikan amanah kepadanya, dan menasihatinya jika ia pergi darinya. Sedang budak satunya membangkang kepadanya jika ia memerintahkan sesuatu kepadanya, berkhianat kepadanya jika ia memberikan amanah kepadanya, dan menipunya jika ia pergi darinya. Apakah kedua budak tersebut sama?” Para sahabat menjawab, “Tidak “Nabi saw bersabda, “Begitu juga kalian disisi Allah Azza wajalla. “ (Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya).

Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits semakna dari Abu Al-Ahwash dari ayahnya dari Nabi saw.”
    
Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Cinta lebih baik daripada takut. Bagaimana pendapatmu jika engkau mempunyai dua budak; salah satu dari keduanya men­cintaimu sedang budak satunya takut kepadamu? Budak yang cinta kepadamu akan menasihatimu; baik engkau ada atau tidak ada karena cintanya kepadamu. Sedang budak yang takut kepadamu bisa jadi menasihatimu jika engkau bersamanya karena ia takut kepadamu dan bisa jadi menipumu jika engkau tidak bersama dengannya dan tidak menasniatimu.”

Abdul Aziz bin Rafi’ berkata bahwa Hawariyun berkata kepada Isa as, “Bagaimanakah amal perbuatan yang ikhlas?” Isa as menjawab, “Yaitu amal perbuatan yang engkau tidak ingin dipuji manusia dengannya.” Hawa­riyun berkata, “Apa nasihat untuk Allah?” Isa as menjawab, “Yaitu hendaknya engkau memulai hak Allah Ta’ala sebelum hak manusia. Jika dua hal dihadapkan kepadamu; salah satu dari keduanya karena Allah dan satunya karena dunia, engkau harus memulai hak Allah Ta’ala.”
    
قال الخطابيُّ : النصيحة كلمة يُعبر بها عن جملة هي إرادة الخير للمنصوح له ، قال : وأصلُ النصح في اللغة الخُلوص ، قال : نصحتٌ العسل : إذا خلصته من الشمع .

     Al-Khathabi berkata, “Nasihat ialah kata yang menjelaskan sejumlah hal, yaitu menginginkan kebaikan pada orang yang diberi nasihat.” Ia juga berkata, “Asal kata nasihat menurut bahasa ialah murni. Nashahtu Al-Asala, maksudnya engkau memurnikan madu tersebut dari lilin.”


فمعنى النصيحة لله سبحانه : صحةُ الاعتقاد في وحدانيته ، وإخلاصُ النية في عبادته
Jadi, makna nasihat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah meyakini keesaan­-Nya dengan benar dan mengikhlaskan niat ketika beribadah kepada-Nya.
،والنصيحة لكتابه : الإيمانُ به ، والعمل بما فيه ،
Makna nasihat untuk Kitab Allah ialah beriman kepadanya dan mengamalkan isinya.
 والنصيحة لرسوله : التصديق بنبوته ، وبذل الطاعة له فيما أمر به ، ونهى عنه ،
Makna nasihat untuk Rasul Allah ialah membenarkan kenabian beliau, taat terhadap apa yang beliau perintahkan dan larang.
 والنصيحةُ لعامة المسلمين : إرشادهم إلى مصالحهم . انتهى .
Makna nasihat untuk seluruh kaum muslimin ialah membimbing mereka kepada kemaslahatan mereka.

Imam Abu Abdullah Muhammad bin Nashr Al Marwazi di bukunya, Ta‘dzimu Qadrish Shalat meriwayatkan dari salah seorang ulama yang menafsirkan hadits di atas dengan penafsiran yang keindahannya tidak ada tandingannya. Di sini, saya menukilnya lengkap dengan redaksinya. Muhammad bin Nashr berkata, salah seorang ulama berkata, “Kesimpulan penafsiran tentang nasihat ialah ke­pedulian hati kepada orang yang diberi nasihat siapa pun orangnya. Nasihat ada dua; wajib dan sunnah. Nasihat wajib ialah untuk Allah yaitu adanya kepedulian yang tinggi pemberi nasihat untuk mengikuti cinta Allah dengan menunaikan apa saja yang Dia perintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang. Sedang nasihat sunnah ialah lebih mencintai Allah daripada diri sendiri. Jika dua hal dihadapkan kepada seseorang; salah satunya untuk diri sendiri dan satunya untuk Tuhannya, ia mendahulukan apa yang menjadi milik Tuhannya dan menunda apa yang menjadi milik diri sendiri.”

Itulah kesimpulan penafsiran tentang nasihat untuk Allah; baik nasihat wajib atau sunnah untuk-Nya. Ada penafsiran lain tentang nasihat untuk Allah dan sebagian penafsiran tersebut akan saya sebutkan agar orang yang tidak memahami kesimpulan penafsiran tersebut menjadi paham.
Nasihat untuk Allah yang wajib ialah menjauhi larangan-Nya dan menger­jakan kewajiban-Nya dengan seluruh organ tubuh selagi mampu melakukannya. Jika seseorang tidak mampu mengerjakan kewajiban-Nya karena salah satu kendala yang terjadi padanya, misalnya sakit, tertahan, dan lain sebagainya, ia bertekad me­ngerjakan apa yang diwajibkan kepadanya jika kendala yang merintanginya telah hilang darinya. Allah Ta’ala berfirman,
“Tidak ada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya; tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-­orang yang berbuat baik dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang .” (At Taubah: 91).

Allah Ta’ala menamakan orang-orang seperti ayat di atas sebagai orang-or­ang yang berbuat baik (Muhsinin) karena nasihat mereka kepada Allah dengan hati mereka ketika mereka tidak dapat berangkat jihad dengan jiwa mereka. Terkadang seluruh amal perbuatan dihilangkan dari seorang hamba di salah satu kondisi, namun nasihat untuk Allah tetap tidak dihilangkan darinya. Jika pada jenis sakit terdapat satu kondisi yang membuat penderitanya tidak dapat menger­jakan sesuatu apa pun dengan organ tubuhnya bahkan dengan lidahnya dan lain-lain, namun akalnya tetap ada, maka nasihat untuk Allah tidak gugur darinya yaitu di hati dalam bentuk menyesali dosa-dosanya dan harus -jika ia sehat kembali- mengerjakan apa saja yang diwajibkan Allah kepadanya dan menjauhi apa saja yang Dia larang kepadanya. Jika tidak begitu, ia tidak termasuk pemberi nasihat kepada Allah dengan hatinya.
Begitu juga nasihat untuk Allah dan Rasul-Nya dalam apa saja yang beliau wajibkan kepada manusia dan perintah Tuhannya. Di antara bentuk nasihat wajib untuk Allah ialah seseorang tidak ridha dengan kemaksiatan pelaku maksiat dan mencintai ketaatan orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sedang nasihat sunnah untuk Allah ialah mencurahkan kemampuan dengan cara mengutamakan Allah atas semua yang dicintai hati dan dengan seluruh organ tubuh hingga tidak tersisa pada diri pemberi nasihat penghormatan kepada selain Allah. Karena jika pemberi nasihat bersungguh-sungguh, ia tidak akan mengutamakan dirinya atas Allah dan mengerjakan apa saja yang mendatangkan kebahagiaan dan kecintaan-Nya. Begitu juga pemberi nasihat untuk Allah. Barangsiapa me­ngerjakan amal-amal sunnah untuk Allah dengan tidak bersungguh-sungguh, ia pemberi nasihat sesuai dengan kadar amalnya dan tidak layak terhadap kesem­purnaan nasihat.

Sedang nasihat untuk Kitabullah ialah amat mencintainya, mengagungkan isinya karena Kitabullah adalah firman Allah, berkeinginan kuat memahaminya, sangat peduli untuk merenungkannya, dan berhenti untuk memikirkannya ketika membacanya untuk mencari makna-makna yang dicintai Allah untuk ia pahami dan mengerjakannya setelah memahaminya. Demikian pula termasuk orang yang menasehati dari kalangan hamba, ia memahami wasiat orang yang menasihatinya. Jika ia mendapatkan sunat darinya, ia berusaha keras memahaminya agar ia bisa mengerjakan apa yang ia tulis di suratnya. Begitu juga pemberi nasihat untuk Kitab­ullah, ia berusaha keras memahaminya agar ia bisa mengerjakan apa saja yang diperintahkan Allah sesuai dengan yang Dia cintai dan ridhai, kemudian menyebar­kan apa yang ia pahami kepada manusia, dan tidak henti-hentinya mengkajinya dengan cara mencintainya, berakhlak dengan akhlaknya, dan beretika dengan etikanya.

Adapun nasihat untuk Rasulullah saw pada masa hidup beliau maka dalam bentuk mencurahkan segenap tenaga untuk taat kepada beliau, menolong dan membantu beliau, memberikan harta jika beliau mengingin­kannya, dan bersegera mencintai beliau. Adapun nasihat untuk Rasulullah saw sepeninggal beliau maka dalam bentuk serius mencari sunnah beliau, mengikuti akhlak dan etika beliau, mengagungkan beliau, beramal sesuai dengan beliau, sangat marah dan berpaling dari siapa saja yang beragama dengan menyalahi sunnah beliau, marah kepada siapa saja yang menyia-nyiakan sunnah karena lebih mementingkan dunia kendati ia beragama dengannya, men­cintai siapa saja yang mempunyai hubungan dengan beliau; baik karena kekerabatan, atau pernikahan, atau hijrah, atau pertolongan, atau persahabatan di atas Islam ken­dati sesaat di malam atau siang hari, meniru beliau dalam penampilan dan pakaian beliau.

Adapun nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin maka dalam bentuk cinta kebaikan, petunjuk, dan keadilan mereka, cinta persatuan umat kepada mereka, benci perpecahan umat kepada mereka, mentaati mereka dalam taat kepada Allah Azza wa Jalla, marah kepada orang yang membelot dari mereka, dan cinta keper­kasaan mereka dalam taat kepada Allah Azza wa Jalla .

Adapun nasihat untuk seluruh kaum muslimin maka dalam bentuk men­cintai untuk mereka apa yang dicintai untuk dirinya sendiri, membenci untuk mereka apa yang ia benci untuk diri sendiri, berbelas kasih terhadap mereka, menyayangi anak-anak kecil dari mereka, hormat pada orang-orang tua dari mereka, sedih karena kesedihan mereka, bahagia karena kebahagiaan mereka kendati hal tersebut merugikan dunianya seperti misalnya memurahkan harga untuk mereka dan kendati membuatnya tidak mendapatkan keuntungan dari hasil penjualannya - sikap yang sama juga terhadap apa saja yang merugikan mereka -, mencintai kebaikan dan persatuan mereka, cinta kelanggengan nikmat pada mereka, menolong mereka dalam menghadapi musuh mereka, dan menolak semua bahaya dari mereka.

Abu Amr bin Ash-Shalah berkata, “Nasihat ialah kata universal yang men­cakup pengerjaan oleh pemberi nasihat terhadap sejumlah kebaikan; dalam bentuk keinginan dan amal perbuatan, untuk pihak penerima nasihat.
Nasihat untuk Allah Ta’ala ialah mentauhidkan Allah, menyifati-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, membersihkan-Nya dari apa saja yang berlawanan dan menyalahi sifat-sifat-Nya, menjauhi semua maksiat, mentaati dan cinta kepada-Nya dengan ikhlas, mencintai dan membenci karena-Nya, memerangi siapa saja yang kafir kepada-Nya dan apa saja yang serupa dengan hal tersebut, mengajak kepada-Nya, dan mendorong manusia untuk berjihad di jalan-Nya.

Nasihat untuk Kitabullah ialah beriman kepadanya, mengagungkan dan membersihkannya, membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya, memikirkan perintah-perintah dan larangan-larangannya, memahami ilmu-ilmu dan perum­pamaan-perumpamaannya, mengkaji ayat-ayatnya, mengajak manusia kepadanya, mempertahankan dari perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas, dan pelecehan oleh orang-orang yang kafir.

Nasihat untuk Rasulullah saw mirip dengan point sebelumnya yaitu beriman kepada beliau dan apa saja yang beliau bawa dari Allah, mengagungkan beliau, menghormati beliau, taat kepada beliau, menghidupkan Sunnah beliau, mengutamakan ilmu-ilmu Sunnah beliau, menyebarkannya, memu­suhi siapa saja yang memusuhi beliau dan Sunnah beliau, bersahabat dengan siapa saja yang loyal dengan beliau dan Sunnah beliau, berakhlak dengan akhlak beliau, beretika dengan etika beliau, mencintai keluarga beliau dan para sahabat, serta hal-hal lainnya.

Nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin ialah membantu mereka dalam kebenaran, taat kepada mereka dalam hal tersebut mengingatkan mereka kepada hal tersebut, menasihati mereka dengan santun, tidak menyerang mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka, dan lain-lain.

Nasihat untuk seluruh kaum muslimin ialah membimbing mereka kepada kemaslahatan-kemaslahatan, mengajari mereka dalam urusan agama dan dunia mereka, menutup aurat mereka, menutup celah mereka, menolong mereka dalam menghadapi musuh mereka, membela mereka, tidak menipu dan dengki kepada mereka, mencintai untuk mereka apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, benci untuk mereka apa yang ia benci untuk dirinya sendiri, dan lain-lain.”

Di antara bentuk lain nasihat untuk seluruh kaum muslimin ialah membuang gangguan dan bahaya dari mereka, mengutamakan orang-orang fakir mereka, mengajari orang bodoh mereka, mengembalikan kepada kebenaran dengan santun siapa saja yang berpaling dari kebenaran dalam perkataan dan perbuatan, dan lemah­ lembut kepada mereka dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar karena ingin menghilangkan kerusakan mereka kendati hal tersebut merugikan dunianya seperti dikatakan salah seorang dari generasi salaf, “Aku ingin manusia taat kepada Allah kendati dagingku dipotong dengan gunting.” Umar bin Abdul Aziz berkata, “Duhai seandainya aku mengamalkan Kitabullah di tengah-tengah kalian dan kalian juga mengamalkannya. Setiap kali aku mengamalkan sunnah di tengah-tengah kalian, hilanglah salah satu organ tubuh dariku hingga yang terakhir hilang dariku ialah nyawaku.”

Di antara bentuk nasihat untuk Allah Ta’ala, Kitab-Nya, dan Rasul-Nya ini termasuk salah satu masalah yang diperhatikan khusus oleh para ulama- ialah menolak seluruh hawa nafsu yang sesat dengan Al-Qur’an dan Sunnah, menjelaskan petunjuk keduanya kepada apa saja yang ditentang seluruh hawa nafsu, meng-­counter seluruh perkataan lemah; ketergelinciran para ulama, menerangkan pe­tunjuk Al-Qur’an dan Sunnah pada saat meng-counter, menjelaskan hadits shahih dari Nabi saw dan hadits yang tidak shahih dari beliau dengan menerangkan kondisi para perawinya, siapa saja yang riwayatnya bisa di­terima dan tidak bisa diterima dari mereka, dan menjelaskan siapa saja perawi tepercaya yang riwayatnya boleh diterima.

Di antara bentuk nasihat teragung ialah memberi nasihat kepada orang yang meminta pertimbangan dalam urusannya, seperti disabdakan Nabi saw,
   “Jika salah seorang dari kalian meminta nasihat kepada saudaranya, hendaklah saudaranya menasihatinya.’
Disebutkan di salah satu hadits,
“Diantara hak orang muslim atas orang muslim lainnya ialah menasihatinya jika ia tidak berada di tempat.”
Maksudnya, jika seorang muslim yang tidak ada di tempat disebutkan dengan tidak baik, maka saudaranya menolongnya dan menolak hal tersebut . Jika orang muslim melihat orang ingin menyakiti saudaranya yang tidak berada di tempat, ia menahannya dari keinginannya tersebut, karena nasihat tanpa diketahui penerima nasihat itu menunjukkan kebenaran nasihat. Bisa jadi, seseorang memperlihatkan nasihat kepada orang lain di depannya karena ingin mencari muka kemudian ia mengkhianatinya jika ia tidak berada di tempat.

Al-Hasan berkata, “Engkau tidak sampai pada nasihat kepada saudaramu dengan nasihat yang sebenarnya hingga engkau menyuruhnya dengan sesuatu yang tidak bisa engkau lakukan.”
Al-Hasan berkata, salah seorang sahabat Rasulullah saw berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, jika kalian mau, aku pasti bersumpah dengan nama Allah untuk kalian sesungguhnya hamba-hamba Allah yang paling dicintai-Nya ialah hamba-hamba yang membuat manusia cinta Allah, membuat Allah cinta kepada mereka, dan menyebarkan nasihat di muka bumi.”

Farqad As-Sabakhi berkata,
قرأت في بعض الكتب المحب لله عز وجل أمير مؤمر على الأمراء زمرته أول الزمر يوم القيامة ومجلسه أقرب المجالس فيما هناك والمحبة فيما هناك والمحبة منتهى القربة والاجتهاد ولن يسأم المحبون من طول اجتهادهم لله عز وجل ويحبونه ويحبون ذكره ويحببون إلى خلقه يمشون بين خلقه بالنصائح ويخافون عليهم من أعمالهم يوم تبدو الفضائح أولئك أولياء الله وأحباؤه وصفوته أولئك الذين لا راحة لهم دون لقائه

“Aku baca salah satu kitab dan di dalamnya tertulis, ‘Orang yang cinta Allah Azza wa Jalla ialah gubernur yang diperintah membawahi para gubernur, kelompoknya adalah kelompok pertama kali pada hari kiamat, dan tempat duduknya ialah tempat duduk yang paling dekat dengan apa saja yang ada di sana. Cinta ialah puncak taqarrub dan kesungguhan. Para pecinta Allah tidak bosan dengan kesungguhan mereka yang lama untuk Allah Azza wa Jalla, mereka mencintai Allah, senang dzikir kepada-Nya, membuat-Nya mencintai makhluk-Nya, berjalan di depan hamba-hamba-Nya dengan membawa nasihat, dan menakutkan amal perbuatan mereka pada hari semua keburukan terlihat dengan jelas. Itulah wali-wali Allah, orang-orang kecintaan-Nya, orang-orang pilihan-Nya, dan orang-orang yang tidak mempunyai kesenangan kecuali setelah bertemu dengan-Nya.”

Tentang ucapan Abu Bakar Al Muzani, “Abu Bakar Ash-Shiddiq ra tidak mengungguli sahabat-sahabat Rasulullah saw dengan puasa dan shalat, namun dengan sesuatu yang ada di hatinya,” Ibnu Ulaiyyah berkata, “Yang ada di hati Abu Bakar Ash-Shiddiq ialah cinta karena Allah Azza wa Jalla dan nasihat untuk makhluk-Nya.”

Al Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang yang berjumpa kami tidak melihat kami banyak shalat dan puasa, namun ia melihat kami banyak pemurah, lapang dada, dan memberi nasihat kepada umat.”

Ibnu Al Mubarak pernah ditanya, “Amal perbuatan apakah yang paling baik?” Ibnu Al- Mubarak menjawab, “Nasihat untuk Allah.”

Ma’mar berkata, “Ada yang mengatakan bahwa manusia yang paling bagus nasihatnya kepadamu ialah orang yang takut kepada Allah berkenaan dengan dirimu.”

Generasi salaf jika ingin menasihati seseorang, mereka menasihatinya secara rahasia, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Barangsiapa menasihati sau­daranya secara empat mata, itulah nasihat. Barangsiapa menasihatinya di depan manusia, sungguh ia sedang menjelek-jelekkannya.”

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang Mukmin menutup aib dan menasihati, sedang orang jahat membuka aib dan menjelek-jelekkan.”

Abdul Aziz bin Abu Rawwad berkata, “Jika salah seorang dari orang-orang sebelum kalian melihat keburukan pada saudaranya, ia menyuruhnya dengan lemah ­lembut, kemudian ia diberi pahala karena perintahnya kepada kebaikan dan la­rangannya dari kemungkaran. Juga ada salah seorang dari mereka membuat kegaduhan tentang saudaranya yang membuat ia marah kepadanya dan membuka aib dirinya.”

Ibnu Abbas ra pernah ditanya tentang menyuruh penguasa kepada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran kemudian Ibnu Abbas menjawab, “Jika engkau harus melakukannya maka, lakukanlah secara empat mata.”

Imam Ahmad berkata, “Orang muslim tidak wajib menasihati orang dzimmi namun ia wajib menasihati orang muslim.”

Nabi saw bersabda, “Nasihat itu milik setiap muslim. Ia harus menasihati jama‘ah kaum muslimin dan mereka secara keseluruhan.”

                                          ooOoo
                                                                                                                                            
 

([1])            رواه الطبراني في " الصغير " (907) و " الأوسط " كما في " المجمع " 1/87 ،وفي سنده عبد الله بن أبي جعفر الرازي وفيه ضعف ، وكذلك أبوه .
([2])            رواه أحمد 5/254 وفي سند علي بن يزيد الألهاني ، وهو ضعيف .
([3])            البخاري (57) و (524) و (1401) و (2157) و (2715) ومسلم (56) ، وصححه ابن حبان (4545) .
([4])            رواه مسلم (1715) ، وصححه ابن حبان (3379).
([5])            رواه أحمد 4/80و 82 ، والدارمي 1/74 . وسنده قوي ، وله شاهد من حديث زيد بن ثابت . صححه ابن حبان (67 ) ، وانظر تمام تخريجه فيه .
                ومعنى " لا يغل " : لا يخون ، أي : إن هذه الخلال الثلاث تُستصلح بها القلوب ، فمن تمسك بها ، طهر قلبه من الخيانة والدَّغل والشر .
([6])            رواه البزار (141) من حديث أبي سعيد بلفظ : " ثلاث لا يغلُّ عليهن قلب امرئ مؤمن : إخلاص العمل ، والمناصحة لأئمة المسلمين ، ولزوم جماعتهم ، فإنَّ دعاءهم يحيط من وراءهم " .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar