bintang


Senin, 17 Oktober 2011

Al- Mursalat


والمرسلات عرفا(1)
فالعاصفات عصفا(2)
والناشرات نشرا(3)
فالفارقات فرقا(4)
فالملقيات ذكرا(5)
عذرا أو نذرا(6)
إنما توعدون لواقع(7)
فإذا النجوم طمست(8)
وإذا السماء فرجت(9)
وإذا الجبال نسفت(10)
وإذا الرسل أقتت(11)
لأي يوم أجلت(12)
ليوم الفصل(13)
وما أدراك ما يوم الفصل(14)
ويل يومئذ للمكذبين(15)
ألم نهلك الأولين(16)
ثم نتبعهم الآخرين(17)
كذلك نفعل بالمجرمين(18)
ويل يومئذ للمكذبين(19)
ألم نخلقكم من ماء مهين(20)
فجعلناه في قرار مكين(21)
إلى قدر معلوم(22)
فقدرنا فنعم القادرون(23)
ويل يومئذ للمكذبين(24)
ألم نجعل الأرض كفاتا(25)
أحياء وأمواتا(26)
وجعلنا فيها رواسي شامخات وأسقيناكم ماء فراتا(27)
ويل يومئذ للمكذبين(28)
انطلقوا إلى ما كنتم به تكذبون(29)
انطلقوا إلى ظل ذي ثلاث شعب(30)
لا ظليل ولا يغني من اللهب(31)
إنها ترمي بشرر كالقصر(32)
كأنه جمالت صفر(33)
ويل يومئذ للمكذبين(34)
هذا يوم لا ينطقون(35)
ولا يؤذن لهم فيعتذرون(36)
ويل يومئذ للمكذبين(37)
هذا يوم الفصل جمعناكم والأولين(38)
فإن كان لكم كيد فكيدون(39)
ويل يومئذ للمكذبين(40)
إن المتقين في ظلال وعيون(41)
وفواكه مما يشتهون(42)
كلوا واشربوا هنيئا بما كنتم تعملون(43)
إنا كذلك نجزي المحسنين(44)
ويل يومئذ للمكذبين(45)
كلوا وتمتعوا قليلا إنكم مجرمون(46)
ويل يومئذ للمكذبين(47)
وإذا قيل لهم اركعوا لا يركعون(48)
ويل يومئذ للمكذبين(49)
فبأي حديث بعده يؤمنون(50)

Meyakini akan terjadinya hari kiamat
 
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), Sampai waktu yang ditentukan, Lalu Kami tentukan (bentuknya), Maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, Orang-orang hidup dan orang-orang mati?Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar?Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat): "Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang. Yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka". Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu), Dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. (Dikatakan kepada mereka): "Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan". Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Dikatakan kepada orang-orang kafir): "Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa". Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku'. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Maka kepada perkataan apakah sesudah Al Quran ini mereka akan beriman? 

Pengantar:

Sarah ini sangat tajam ciri-cirinya, keras pe¬mandangannya, dan kuat kesannya, sehingga seakan-akan cemeti dari api yang menyengat. Ia menghentikan hati seolah-olah sedang menghadapi mahkamah yang menakutkan. Di mahkamah itu, hati menghadapi pertanyaan-pertanyaan, sanggahan-sanggahan, dan ancaman-ancaman yang melun¬cur bagaikan anak panah lepas dari busurnya.
Selain itu, surat ini juga membentangkan pe­mandangan-pemandangan alam dan akhirat, haki­kat-hakikat alam dan jiwa, dan pemandangan-peman­dangan yang mengerikan beserta azab dalam se­luruh paparannya. Setiap bentangan dan peman­dangan dikomentari dengan pukulan terhadap hati yang berdosa seakan-akan pukulan api, 'Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang men­dustakanl"

Komentar seperti itu diulang sepuluh kali dalam surat ini. Apa yang disebutkan dalam komentar ini pasti terjadi, dan ia sangat cocok dengan sifat-sifatnya yang tajam, pemandangannya yang keras, dan ke­sannya yang kuat. Ketetapan ini mengingatkan kita kepada apa yang disebutkan secara berulang-ulang di dalam surat Ar ­Rahmaan yang memberi komentar pada setiap kali selesai menyebutkan kenikmatan Allah kepada hamba-hamba-Nya dengan kalimat, 'Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Juga mengingatkan kita kepada ketetapan yang disebutkan berulang-ulang di dalam surat Al Qamar setiap kali usai menyebut satu putaran azab dengan kalimat, "Maka, alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman ­ancaman-Ku!"

Pengulangan kalimat, "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan" memberikan ciri khusus bagi surat ini dan mem­berikan nilai rasa yang berbeda secara tajam dengan surat lainnya.

Segmen-segmen dan bagian-bagian surat di­sebutkan secara beruntun dengan kalimat-kalimat yang pendek, cepat, keras, dan rimanya (sajak) ber­macam-macam. Setiap bagian dengan rima tersendiri, dan kadang-kadang terjadi perulangan sajak sekali-sekali. Segmen-segmen, bagian-bagian, dan sajak-sajaknya dengan sengatan dan kekerasannya yang khusus, menjadikan susunannya begitu indah yang datang susul-menyusul, satu demi satu. Hampir belum sadar seseorang dari merasakan satu kesan, tiba-tiba datang kesan lain, tetapi tetap dalam keke­rasan dan sengatannya. Sejak permulaan surat sudah bertiup kencang udara yang menebarkan pemandangan 
Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, Dan (Malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya, Dan (Malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya. Dan (Malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya, Dan (Malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu, Untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan. (Al Mursalat : 1-6)

Ini adalah pembukaan yang sangat relevan dengan suasana surat dan bayang-bayangnya. Dalam bab ini, Al Qur’an menggunakan metode khusus dalam memilih bingkai pemandangan­pemandangan dalam beberapa surat, dari jenis pemandangan seperti ini dengan segala kekuatan­tema. Ini adalah salah satu contohnya, sebagaimana ia memilih bingkai waktu dhuha dan malam apabila gelap  gulita, bagi pemandangan tentang peme­liharaan, kasih sayang, dan perlindungan sebagai­nana disebutkan dalam surat Adh-Dhuhaa.,Juga bingkai pemandangan tentang kuda-kuda yang lari terengah-engah dan meringkik keras dengan me­nebarkan debu-debu, sebagai pemandangan ten­t:ang bakal dibongkarnya kubur (dikeluarkannya manusia dari kubur) dan ditampakkannya apa yang disimpan di dalam dada sebagaimana disebutkan di dalam surat Al 'Aadiyaat

Setiap segmen dari sepuluh segmen yang ada dalam surat ini menggambarkan suatu perjalanan di alam semesta. Surat ini berpindah bersamanya ke hamparan-hamparan yang luas dari renungan, pe­rasaan, getaran-getaran hati, pengaruh, dan respons­-respons. Ia beralih dari hamparan ungkapan dan kalimat, seakan-akan ia adalah anak-anak panah yang menunjuk kepada alam yang beraneka macam.

Perjalanan pertama adalah berkeliling-keliling pada pemandangan hari keputusan, yang melukis­kan terjadinya pembalikan-pembalikan alam makro di langit dan di bumi. Yaitu, saat berakhirnya tugas para Rasul dalam membuat perhitungan bersama manusia,
'Apabila bintang-bintang telah dihapuskan, langit telah dibelah, gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu, dan Rasul-Rasul telah ditetapkan waktu (mereka), (nis­caya dikatakan kepada mereka), 'Sampai hari apakah ditangguhkan (mengazab orang-orang kafir itu) ? 'Sam­pai hari keputusan. Tahukah kamu, apakah hari ke­putusan itu ? Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. " (Al Mursalaat: 8-15)

Perjalanan kedua adalah bersama orang-orang dahulu dan isyarat tentang sunnah Allah yang terjadi pada orang-orang yang mendustakan agama-Nya,
'Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu. Lalu Kami iringi (azab Kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-­orang yang mendustakan." (Al Mursalaat: 16-19)

Perjalanan ketiga adalah bersama dengan pen­ciptaan pertama dengan takdir dan pengaturan yang menyertainya,
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), Sampai waktu yang ditentukan, Lalu Kami tentukan (bentuknya), Maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Al Mur­salaat: 20-24)

Perjalanan keempat adalah di bumi tempat dihimpunnya anak-anak manusia hidup dan mati yang disediakan bagi mereka untuk tempat tinggal. Disediakan pula di sana air dan segala sesuatu yang menjadi unsur kebutuhan hidup duniawi,
"Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) ber­kumpul orang-orang hidup dan orang-orang mati, dan Kami jadikan padanya gunurag-gunung yang tinggi, lalu Kami beri minum kamu dengan air yang tawar? Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan."(Al Mursalaat: 25-28)

Perjalanan kelima adalah bersama orang-orang yang mendustakan beserta azab dan siksaan yang akan mereka peroleh pada hari keputusan (kiamat),
(Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat): "Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang. Yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka". Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning. Kecelakaan  yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Al Mursalaat: 29-34)

Perjalanan keenam dan ketujuh adalah me­lanjutkan penjelasan tentang keadaan orang-orang yang mendustakan itu, dan tambahan pelecehan dan penghinaan terhadap mereka,
Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu),Dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Al Mur­salaat: 35-40)

Perjalanan kedelapan adalah bersama orang-orang yang bertakwa beserta kenikmatan yang di­sediakan untuk mereka,
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada. dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata air-mata air serta (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. (Dikatakan kepada mereka), makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. " (Al Mursalaat: 41-45)

Perjalanan kesembilan adalah perjalanan se­pintas bersama orang-orang yang mendustakan, mengenai pelecehan terhadap mereka,
"(Dikatakan kepada orang-orang kaftr), Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek. Sesunguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa. 'Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan."(Al Mursalaat: 46-47)

Perjalanan kesepuluh adalah kilatan yang cepat bersama orang-orang yang mendustakan, mengenai sikap pendustaan mereka,
'Apabila dikatakan kepada mereka, ruku’lah; niscaya mereka tidak mau ruku’. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (Al­Mursalaat: 48-49)
Sebagai penutup sesudah melakukan perjalanan­perjalanan ini, memaparkan berbagai keadaan, serta memberikan tusukan-tusukan dan kesan-kesan adalah,
'Maka, kepada perkataan apakah selain Al  Qur’an ini mereka beriman ?" (Al Mursalaat: 50)

Begitulah hati berjalan dengan cepat bersama konteks surat, seakan-akan ia terengah-engah menghadapi kesan-kesan, lukisan-lukisan, dan pemandangan-pemandangannya. Adapun hakikat­-hakikat yang terkandung di dalam surat ini sudah berulang-ulang disebutkan dalam surat-surat Al­ Qur’an, bagi surat-surat Makkiyah terdapat nuansa khusus. Akan tetapi, hakikat-hakikat Al Qur’an itu dipaparkan dalam sisi yang banyak dan dalam pan­caran yang bermacam-macam serta dengan rasa yang berbeda-beda pula. Yakni, sesuai dengan kon­disi jiwa yang dihadapinya dan sesuai dengan jalan­-jalan masuknya hati dan kondisi-kondisi jiwa yang diketahui oleh Zat Yang Menurunkan Al Qur’an ini kepada Rasul-Nya. Sehingga, tampaklah ayat-ayat itu dalam manses yang baru, karena ia menghadirkan respons-respons yang baru di dalam jiwa.
Di dalam surat ini terdapat suasana baru dalam menampilkan pemandangan neraka dan dalam menghadapi orang-orang yang mendustakan pe­mandangan-pemandangan ini, sebagaimana juga terdapat manses baru dalam metode penyampaian dan semua pemaparannya. Karena itu, tampaklah kepribadian khusus surat ini, yang tajam sifatnya, menyengat rasanya, dan halus kesannya! Selanjutnya, marilah kita ikuti paparan surat ini secara rinci!

Suasana Hari Kiamat yang Sulit Dibayangkan Terjadinya oleh Orang Musyrik
Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, Dan (Malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya, Dan (Malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya, Dan (Malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya, Dan (Malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu, Untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan, Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi. (A1 Mursalaat 1-7)

Persoalan ini adalah persoalan kiamat yang sulit dibayangkan terjadinya oleh orang-orang musyrik. Hal ini sudah ditegaskan oleh Al Qur’an kepada mereka dengan bermacam-macam penegasan di dalam beberapa tempat (surat atau ayat). Mene­tapkan masalah ini kepada akal mereka dan me­netapkan hakikatnya di dalam hati mereka, me­rupakan persoalan amat vital yang harus dilakukan untuk membangun akidah di dalam jiwa mereka dan di atas landasannya. Juga untuk meluruskan norma­ norma dan nilai-nilai di dalam seluruh aspek ke­hidupan mereka. Karena itulah, diperlukan usaha yang keras dalam masa yang panjang untuk me­mantapkan hal ini ke dalam hati dan pikiran.

Pada permulaan surat, Allah bersumpah bahwa apa yang dijanjikan di akhirat nanti pasti akan terjadi. Bentuk sumpah ini sejak awal sudah memberi isyarat bahwa apa yang disumpahkan Allah itu termasuk urusan gaib yang tidak diketahui manusia. Juga merupakan kekuatan yang tersembunyi, tetapi mem­beri kesan dan pengaruh di alam ini dan di dalam kehidupan manusia.

Para ulama salaf berbeda pendapat mengenai kan­dungan yang ditunjuki dalam sumpah itu. Kelompok pertama berkata bahwa ia (yang diutus atau dikirim) itu adalah angin secara mutlak. Kelompok kedua mengatakan bahwa ia adalah malaikat secara mutlak. Sedangkan, kelompok ketiga mengatakan bahwa sebagian dari yang disumpahkan itu adalah angin dan sebagian lagi malaikat. Perbedaan pendapat itu terjadi karena tidak jelas­nya apa yang dimaksudkan oleh lafal-lafal ini dan apa pula yang ditunjukinya. Ketidakjelasan seperti ini relevan dijadikan sumpah bagi perkara gaib yang tersimpan di dalam ilmu Allah. Akan tetapi, ia pasti terjadi, sebagaimana halnya perkara-perkara gaib yang dijadikan sumpah itu sendiri ada wujudnya dan memberi pengaruh terhadap kehidupan manusia.

'Demi apa-apa yang diutus untuk membawa kebaik­an. " (A1Mursalaat: 1)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa yang di­maksud dengannya adalah malaikat. Pendapat se­perti ini juga diriwayatkan dari Masruq,  Abu Dhuha, dan Mujahid dalam salah satu riwayat, As Suddi, Ar ­Rabi' bin Anas, dan Abu Shaleh dalam satu riwayat. Dengan demikian, maknanya adalah bersumpah dengan malaikat yang diutus secara beruntun, se­perti kebiasaan kuda-kuda yang dilepas secara ber­untun dan berturut-turut.
Demikian pula yang dikatakan Abu Shaleh me­ngenai lafal "Al 'aashifaat", "An Naasyiraat", "Al Faarighaat", dan "Al mulqiyaat" bahwa yang dimaksud dengannya adalah malaikat.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa yang di­maksud dengan "WAl mursalaati 'urfan" adalah angin. Dengan demikian, maknanya adalah angin yang diutus secara beruntun bagaikan ke­biasaan kuda-kuda yang dilepas dengan berturut-­turut. Demikian pula pendapatnya tentang lafal, "Wal 'aashifaati 'ashfan. Wan-naasyiraati nasyran. " IbnuAbbas, Mujahid, Qatadah, dan Abu Shalih dalam satu riwayat juga berpendapat seperti itu.
Ibnu Jarir tidak menentukan pendapat apakah yang dimaksud dengan kalimat, "Wal mursalaati 'urfan'; itu malaikat ataukah angin. Ia memastikan bahwa yang dimaksud dengan kata "Al 'aashi­faat" adalah angin. Ia juga berpendapat bahwa "an­naasyiraat "adalah angin yang menyebarkan awan di pelataran langit.

Ibnu Mas'ud meriwayatkan bahwa yang dimak­sud dengan lafal-lafal, "Fal faarighaati farghan. Fal mulgiyaati dzikran. Udzran au nudzran' adalah malaikat. Begitu pula pendapat Ibnu Abbas, Masruq, Mujahid, Qatadah, Ar Rabi bin Anas, As-Suddi, dan Ats-Tsauri tanpa perbedaan. Karena, semuanya turun dengan perintah Allah kepada para Rasul untuk membedakan antara yang hak dan yang bathil dan me­nyampaikan wahyu kepada para Rasul untuk me­nolak alasan-alasan makhluk (manusia yang menen­tang) dan untuk memberi peringatan.

Kami menangkap isyarat bahwa besarnya urus­an dengan disebutkannya secara majhul tidak dijelas­kan dengan transparan ini perlu mendapatkan perhatian mengenai urusan-urusan yang disumpah­kan itu sebagaimana halnya yang disebutkan di dalam ayat, "Wadz-dzaariyati dzarwan"; dan, "Wan­naazi'aati gharqan. " Selain itu, terjadinya perbedaan pendapat mengenai masalah ini menunjukkan ke­tidakjelasannya. Ketidakjelasan itu merupakan unsur pokok di sini. Adapun isyarat globalnya merupakan sesuatu yang paling menonjol di sini. Sedangkan, ia sendiri menimbulkan goncangan perasaan dengan isyarat bel dan kesan-kesannya yang beruntun, serta bayangan-bayangan langsung yang diberikannya.

Goyangan dan goncangan yang ditimbulkannya di dalam jiwa itulah yang lebih relevan dengan tema dan pengarahan surat ini. Setiap segmen dari seg­men-segmen surat ini sesudahnya adalah meng­guncangkan jiwa, seperti orang yang mencekik teng­gorokan seseorang lalu menggoyang-goyangkan­nya sambil menginterogasi tentang dosanya, atau menanyakan tentang ayat yang jelas yang diingkari­nya. Kemudian memberikan ancaman kepadanya,
"Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. "

Setelah itu, datanglah goncangan yang keras de­ngan menampilkan pemandangan-pemandangan alam yang berat pada hari keputusan yang merupa­kan waktu yang dijanjikan kepada para Rasul untuk membeberkan hasil risalah kepada semua manusia,
'Apabila bintang-bintang telah dihapuskan, langit telah dibelah, gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu, dan Rasul-Rasul telah ditetapkan waktu (mereka), (nis­caya dikatakan kepada mereka), 'Sampai hari apakah ditangguhkan (mengazab orang-orangkafir itu) ?'Sam­pai hari keputusan. Tahukah kamu, apakah hari keputus­an itu? Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (Al Mursalaat: 8-15)

Hari ketika bintang-bintang dihapuskan cahaya­nya, langit dibelah, dan gunung-gunung dihancurkan menjadi debu. Pemandangan-pernandangan tentang keterbalikan dan keporakporandaan alam ini, di­sebutkan di dalam beberapa surat dari Al Qur’an. Semuanya memberi isyarat tentang berantakannya ikatan dan jalinan alam yang tersaksikan ini. Yakni, keberantakan yang disertai dengan suara gemeretak dan menggelegar, dan semburan yang sangat besar. Keberantakan itu tidak sama dengan peristiwa­ peristiwa besar dan sangat menakutkan yang dilihat dan dirasakan manusia, seperti gempa bumi, gunung meletus, dan halilintar-halilintar. Perbandingan se­mua ini dengan keluarbiasaan hari keputusan itu, adalah seperti perbandingan permainan petasan yang anak-anak kecil ledakkan pada hari-hari raya, dengan bom atom dan bom hidrogen. Ini tidak lain hanya sekadar perumpamaan saja untuk mendekatkan kesan. Sebab, keadaan yang se­benarnya adalah bahwa kondisi menakutkan yang ditimbulkan oleh kehancuran dan kerusakan alam semesta pada waktu itu jauh lebih besar dari apa di­bayangkan oleh manusia secara mutlak, yakni de­ngan bayangan bagaimana pun.

Di samping pemandangan alam yang sangat me­nakutkan itu, surat ini juga memaparkan urusan besar lainnya yang ditangguhkan waktunya hingga hari kiamat. Yaitu, dijanjikannya kepada para Rasul untuk melihat hasil dakwah kepada agama Allah se­waktu di dunia sepanjang masa. Para Rasul telah di­tentukan waktunya untuk hari itu. Di sanalah janji tersebut direalisasikan untuk melakukan perhitung­an terakhir tentang urusan besar yang mengalahkan langit, bumi, dan gunung-gunung. Juga untuk me­mutuskan semua persoalan yang berhubungan dengan kehidupan di bumi (dunia) dan keputusan Allah padanya, dan untuk mengumumkan kalimat terakhir yang merupakan kesudahan semua gene­rasi dan angkatan.

Ungkapan itu menunjukkan betapa menakutkan­nya urusan yang besar tersebut. Juga mengisyaratkan betapa besarnya hakikatnya hingga melampaui pengetahuan,
'Apabila Rasul-Rasul telah ditetapkan waktu (mereka), (niscaya dikatakan kepada mereka), 'Sampai hari apa­kah ditangguhkan (mengazab orang-orang kafir itu)?' Sampai hari keputusan. Tahukah kamu, apakah hari ke­putusan itu?"(Al Mursalaat: 11-14)
Tampak jelas dari metode pengungkapan ini bahwa ia sedang membicarakan urusan yang besar dan agung. Apabila kesan ini telah sampai ke dalam perasaan dengan ketakutan dan kengeriannya yang mengalahkan kengerian dan ketakutan yang ditim­bulkan oleh bintang-bintang yang dihapus cahaya­nya, langit yang pecah-belah, dan gunung-gunung yang hancur menjadi debu, maka disampaikanlah kesan yang menakutkan dan ancaman yang mengerikan,
"Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. " (Al Mursalaat: 15)

Ancaman ini datang dari Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa, di dalam menghadapi ketakutan yang sangat besar di alam semesta, dan keagungan yang luar biasa di majelis hari keputusan di hadirat para Rasul yang sedang memberikan perhitungan terakhir pada saat yang dijanjikan untuk mereka. Ancaman pada saat seperti itu memiliki nilai rasa, bobot, dan kesan yang menggoncangkan dan menakutkan.

Dari menyaksikan hari keputusan yang menakutkan itu, mereka dibawa kembali untuk melihat puing-puing orang-orang yang telah berlalu, generasi ter­dahulu maupun belakangan,
'Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu ?Lalu Kami iringi (azab Kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (Al Mursalaat: 16-19)

Demikianlah, dalam sekali pukulan tersingkap puing-puing orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan yang terkumpul menjadi satu. Sejauh mata memandang terlihat puing-puing dan reruntuh­an. Di depannya terdengar suara ancaman yang menyuarakan sunnah Allah di alam semesta,

'Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa." (Al Mursalaat: 18)
Inilah sunnah yang berlaku yang tak akan pernah menyimpang. Ketika orang-orang yang berdosa sedang menghadapi tempat kehancuran seperti puing-puing orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan, tiba-tiba datanglah doa kebinasaan dan ancaman dengan kecelakaan,

"Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang men­dustakan. " (Al Mursalaat: 19)
Dari menyaksikan puing-puing kehancuran orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan, per­jalanan diteruskan untuk merenungkan penciptaan dan penghidupan beserta penentuan dan peng­aturannya, kepada yang kecil dan yang besar,
'Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan. Lalu, Kami tentukan (bentuknya), maka Kamilah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. " (Al Mur­salaat: 20-24)

Ini adalah perjalanan bersama dengan penciptaan janin dalam perjalanan yang panjang dan meng­agumkan yang digambarkan secara global dengan sentuhan yang bermacam-macam. Yaitu, berupa air yang hina, diletakkan di dalam tempat kokoh yang berupa rahim, hingga waktu tertentu dan ajal yang ditetapkan. Di depan penentuan yang jelas dalam penciptaan itu beserta tahapan-tahapannya yang halus, datanglah komentar yang mengesankan ada­nya kebijaksanaan tertinggi yang mengatur segala sesuatu dengan ketentuannya dalam pengaturan yang penuh berkah lagi indah,
'Lalu, Kami tentukan (bentuknya), maka Kamilah se­baik-baik yang menentukan." (Al Mursalaat: 23)
Di depan ketentuan yang tidak ada sesuatu pun yang dapat berpaling darinya, datanglah ancaman dengan kecelakaan,
"Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. " (Al Mursalaat: 24)

Kemudian perjalanan dilanjutkan untuk me­nengok bumi dan ketentuan Allah padanya bagi ke­hidupan manusia, serta pemberian-Nya kepadanya beberapa keistimewaan yang memudahkan jalannya kehidupan ini,
'Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul orang-orang hidup dan orang-orang mati, dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, lalu Kami beri minum kamu dengan air yang tawar?Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang menrlustakan. " (Al Mursalaat: 25-28)

Bukankah Kami telah menjadikan bumi tempat berkumpul untuk mengasuh anak-anaknya yang hidup dan yang mati? "Kami jadikan padanya gunung­ gunung yang tinggi" ; kokoh menjulang, berkumpul di puncak-puncaknya awan sambil berarak, dan dari celah-celahnya turun air yang tawar. Maka, bisakah terjadi yang demikian ini selain karena adanya ke­kuasaan dan penentuan, hikmah dan pengaturan? Apakah sesudah yang demikian ini masih juga men­dustakan orang-orang yang mendustakan itu? Maka, 

'Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mendustakan. "

Penghinaan terhadap Orang-Orang yang Mendustakan

Setelah ditampilkannya pemandangan-peman­dangan itu dan dipenuhinya perasaan dengan kesan-­kesan yang merasuk kalbu, berpindahlah konteks ayat dengan tiba-tiba kepada kondisi hisab dan pembalasan. Maka, kita dengarkan sesuatu yang menakutkan bagi orang-orang yang berdosa lagi mendustakan itu untuk menempuh jalan menuju azab yang mereka dustakan, dengan celaan yang pahit dan penderitaan yang sulit,
"(Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat), 'Pergi­lah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.' Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana, seolah-olah ia iringan unta yang kuning. Kece­lakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (Al Mursalaat: 29-34)

Pergilah kamu dengan bebas setelah digadaikan dan ditahan pada hari keputusan yang panjang! Akan tetapi, pergi ke mana? Pergi ke tempat yang lebih baik digadaikan daripada ke tempat ini.
"...Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya...."(Al Mursalaat: 29)

Inilah azab itu, datang dan tersaksikan di hadap­anmu.
"...Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mem­punyai tiga cabang.... " (Al Mursalaat: 30)
Yaitu, naungan asap neraka Jahannam yang lidah­nya menjulurkan tiga cabang, naungan yang lebih baik nyala api daripadanya.
"... Yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka...." (Al Mursalaat: 31)

Perlindungan yang mencekik, panas dan meng­hanguskan. Disebutnya yang demikian ini dengan "naungan" tidak lain adalah untuk menambah peng­hinaan dan menimbulkan harapan kosong terhadap naungan untuk bernaung dari panasnya neraka Jahannam. Pergilah kamu! Sesungguhnya kamu pun akan mengetahui ke mana harus pergi. Kamu akan me­ngetahui ke tempat mana kamu akan pergi. Karena itu, tidak perlu disebutkan namanya.

"...Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana, seolah-olah ia iringan unta yang kuning (Al Mursalaat: 32-33)

Bunga-bunga api menyembur secara beruntun sebesar rumah-rumah batu (bangsa Arab meng­gunakan kata istana bagi setiap rumah dari batu, dan tidaklah penting menyebutkan besarnya istana itu dalam pembicaraan ini). Apabila semburan-sembur­an bunga api itu beruntun, maka tampaklah ia bagai­kan unta-unta kuning yang merumput di sana-sini. Demikianlah bunga-bunga apinya maka bagaimana lagi dengan api yang melontarkan bunga-bunga api seperti ini?!

Pada saat perasaan sedang tenggelam dalam ke­takutan yang mengerikan ini, datanglah kata akhir yang penuh ancaman,  
"...Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan!"

Selanjutnya, untuk menyempurnakan peman­dangan setelah ditampilkannya hal menakutkan yang bersifat fisik berupa neraka Jahannam, maka di­tampilkannya hal menakutkan yang bersifat kejiwaan yang mengharuskan ia diam dan menahan diri,
'In ilah adalah hari yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu), dan tidak diizinkan bagi mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur. " (Al Mur­salaat: 35-36)

Hal yang menakutkan di sini adalah kondisi diam yang menakutkan atau penuh ketakutan, kebisuan yang mencekam, dan ketundukan dengan penuh ketakutan, yang tidak disela-sela oleh sepatah kata pun, uzur, atau pengajuan alasan. Karena waktu untuk membantah telah berlalu, dan waktu mengajukan alasan dan argumentasi telah habis,
"Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan!" (Al Mursalaat: 37)

Dalam pemandangan lain disebutkan penyesalan, sumpah, dan pengajuan alasan mereka. Hari itu begitu panjang. Pada hari itu terjadi pens­tiwa seperti ini dan peristiwa seperti itu sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas ra, akan tetapi di sini ditetapkan suasana diam yang mencekam, sesuai dengan kondisi dan konteks ayat
'Ini adalah hari keputusan. (Pada hari ini) Kami me­ngumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu,  jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (Al ­Mursalaat: 38-40)

Ini adalah hari keputusan, bukan hari pengajuan alasan dan telah Kami kumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu semuanya. Jika kamu mempunyai rencana, laksanakanlah rencanamu itu; dan jika kamu mempunyai kekuasaan untuk bertindak sesuatu, maka lakukanlah! Pada hari itu sudah tidak ada ren­cana dan tipu daya serta kekuasaan. Semuanya diam membisu, merasakan penderitaan yang pedih,

"... Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. "
Setelah selesai menampilkan pemandangan yang berupa penghinaan terhadap orang-orang yang berdosa, maka ayat berikutnya menampilkan peng­hormatan yang diberikan kepada orang-orang yang bertakwa,
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata air-mata air serta (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. (Dikatakan kepada mereka), Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan. 'Sesungguhnya demikianlahKami mem­beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (Al Mursalaat: 41-45)

Orang-orang yang bertakwa berada di dalam naungan yang teduh. Naungan yang sebenarnya, bukan naungan yang memiliki tiga cabang yang tidak melindungi dan tidak menolak nyala api neraka. Mereka berada di sekitar mata air-mata air, bukan di dalam asap yang mencekik kerongkongan dan me­nimbulkan kehausan yang panas,
"...serta (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini.... " (Al Mursalaat: 42)

Lebih dari kenikmatan indrawi itu, mereka men­dapatkan penghormatan tinggi yang dapat dilihat dan didengar oleh semuanya,
"...Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan. 'Sesungguhnya demikian­lah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.... "(Al Mursalaat: 43-44)

Wahai, betapa halus dan lembutnya penghormatan dari Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung ini!
"... Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mendustakan. " (Al Mursalaat: 45)
Kecelakaan ini sebagai kebalikan dari kenikmatan dan penghormatan yang disebutkan sebelumnya! Di sini ditampilkan sepintas sobekan kehidupan dunia yang dilipat dalam konteks. Tiba-tiba kita berada di bumi sekali lagi, dan tiba-tiba pelecehan dan penghinaan sedang dihadapkan kepada orang-orang yang berdosa,

"(Dikatakan kepada orang-orang kafir), Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.' Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (Al Mursalaat: 46-47)

Demikianlah kehidupan dunia dan akhirat di­campur dalam dua alinea yang berurutan, dan di dalam dua pemandangan yang ditampilkan, seakan­ akan keduanya datang dalam waktu yang bersamaan, padahal antara keduanya dipisahkan oleh waktu yang amat panjang. Ketika pembicaraan di­tujukan kepada orang-orang muttaqin di akhirat, tiba tiba ia diarahkan kepada orang-orang yang berdosa di dunia, seakan-akan dikatakan kepada mereka, "Saksikanlah perbedaan antara kedua keadaan itu. Makan dan bersenang-senanglah kamu sebentar di dunia ini, karena nanti kamu akan terhalang untuk mendapatkannya dan akan disiksa dalam waktu yang panjang di akhirat!"
"... Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang ­orang yang mendustakan!"
Kemudian ditunjukkan keheranan terhadap kaum yang diseru dan diajak kepada petunjuk, tetapi mereka tidak mau,
'Apabila dikatakan kepada mereka, 'Ruku’lah niscaya mereka tidak mau ruku’. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (Al ­Mursalaat: 48-49)

Padahal mereka dapat melihat, dan diperingatkan oleh pemberi peringatan ini.
'Maka, kepada perkataan apakah selain Al Qur’an ini mereka akan beriman?" (A1 Mursalaat: 50)
Orang yang tidak beriman kepada perkataan (Al­ Qur’an) yang menggoncangkan gunung-gunung ini, tidak akan beriman kepada perkataan apa pun se­lainnya untuk selamanya. Sikap inilah yang sebenar­nya akan membawa kepada kesengsaraan, kecelakaan, tempat.kembali yang penuh derita, dan kecelaka­an besar yang telah disediakan bagi orang yang celaka dan sengsara.

Surat ini sendiri dengan bangunan kalimat kalimatnya, nuansa musikalnya, pemandangan-pemandangannya yang keras dan sengatannya yang tajam merupakan ekspedisi yang membuat hati tidak berhenti dan eksistensi manusia tidak bisa diam. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur’an dan memberinya kekuatan seperti ini!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar